Ibu Pertiwi Sudah S.O.S

Jumat, 12 April 2019, 05:01 WIB
SOS, atau Self Our Souls,  adalah bentuk narasi yang  maksudnya “selamatkan jiwa kami”.  

Ibu Pertiwi sudah berteriak minta diselamatkan jiwanya  karena telah diperkosa oleh  mereka beramai-ramai   orang asing dan bangsa sendiri.

Gambaran itulah yang terbayang dalam pikiran saya,  ketika Prabowo dalam pidato kampanyenya kemarin (7 April 2019) di GBK  yang dihadiri ratusan ribu bahkan mungkin jutaan jika dihitung dengan yang diluar GBK.  Menyebutkan Ibu Pertiwi telah “diperkosa”. Isi perut bumi yang dikandung Ibu Pertiwi sudah dikuras habis oleh asing, berkolaborasi dengan para “bangsat” bangsa sendiri.

Prabowo sangat marah, karena asset Republik ini, sudah berpindah keluar negeri. Prabowo menghitung ada sekitar Rp. 10 ribu triliun, yang parkir diluar Indonesia, yang merupakan milik rakyat Indonesia.

Memang  kalimat Ibu Pertiwi “diperkosa” sangat menyentak.

Termasuk saya. Saya terperanggah mendengar ungkapan Prabowo tersebut.  Jelas kalimat itu dipilih Prabowo untuk  menggambarkan situasi Indonesia yang sedang sakit.  Banyak indikator yang disampaikan dan dirasakan terjadi sehari-hari. Intinya kekuasaan yang sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya (abuse of power).

Kalimat menyengat itu, bayangan saya akan memacu semua pihak, khususnya mereka yang sedang dalam memegang kekuasan  untuk introspeksi diri.  Ada kejujuran untuk mengakui kenyataan dilapangan yang jejak digitalnya dapat dilihat.

Tetapi luar biasa, sekali lagi luar biasa.

Jokowi sebagai Petahana dalam pidato kampanye di hari yang sama di Banten, menyatakan bahwa  Ibu Pertiwi sedang berprestasi bukan sedang diperkosa. "Dalam beberapa tahun ini kita melihat bahwa negara kita terus mendulang prestasi-prestasi. Jangan sampai ada yang ngomong ibu Pertiwi sedang diperkosa, yang benar Ibu Pertiwi sedang berprestasi," kata Jokowi dalam sambutannya di acara deklarasi komunitas olahraga, pemuda, influencer dan disabilitas di ICE BSD, Tangerang, Minggu (7/4/2019).

Jika sudah  seperti itu pernyataan Jokowi,  memang persoalan menjadi rumit. Ada ketidak jujuran dalam melihat persoalan yang sudah kasat mata, dan dirasakan oleh rakyat itu sendiri.

Jokowi  punya mata tetapi tidak melihat atas kehadiran masa dalam setiap kampnanye yang dilakuikan Paslon 02,  secara spontan ibarat magnit, bahkan saweran memberikan bantuan  uang  untuk tim kampanye Paslon 02.  

Berbeda dengan Jokowi dan menterinya bagi-bagi uang, dan kaos atau barang sejenisnya dilemparkan ke masa rakyat yang hadir.

Itu suatu bukti bahwa rakyat sudah kecewa.  Jika tidak ada intimidasi dari pihak “kekuasaan” lautan manusia tidak akan terbendung dan bisa menenggelamkan Jokowi.  

Rakyat sudah bosan dengan kebohongan dan kebohongan lainnya, untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Saya tidak bisa lagi mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana perjalanan Bangsa ini 5 tahun kedepan dipimpin Jokowi. Rakyat menangis yang tidak ada gunanya.  

Perkosaan terhadap Ibu Pertiwi akan berjalan terus, dengan casing  Ibu Pertiwi sedang berprestasi.  

Apa prestasinya. Salah satu yang akan diukir oleh rezim Jokowi dengan  “Panglima Talam”nya LBP, adalah akan ditandatanganinya MoU antara Jokowi dengan Pemerintah China, proyek OBOR ( One Belt One Road), pada bulan April 2019. Untuk tahap pertama diwilayah Jonggol  Jawa Barat dengan dana pinjaman Rp. 1.200 triliun.  

Sempurnalah penderitaan Ibu Pertiwi yang diperkosa, tetapi diberi casing oleh rezim dengan sebutan Ibu Pertiwi sedang berprestasi.

Untuk diketahui, saat ini 8 negara sudah terlilit utang setelah lima tahun OBOR berjalan. Delapan negara dengan risiko krisis finansial paling tinggi. Yakni, *Pakistan, Maladewa, Montenegro, Laos, Mongolia, Djibouti, Kyrgyzstan, dan Tajikistan”. Mereka itulah yang disebut masuk ”jebakan Tiongkok” lewat iming-iming proyek infrastruktur tadi. Dan dapat dipastikan jika Jokowi berlanjut, maka Indonesia negara kesembilan mengalami nasib yang sama.

Bagi China, Indonesia adalah negeri yang memang  menjadi target utama program OBOR.

Silakan rakyat Indonesia menentukan pilihamnnya, bukan saja hanya akan berdampak untuk 5 tahun mendatang, tetapi sepanjang masa sampai terbentuknya “negara China – Indonesia”. 

Mari kita gunakan akal sehat untuk menyelamatkan Ibu Pertiwi.  

Cibubur, 8 Aprl 2019
 Chazali H. Situmorang
( Pemerhati Kebijakan Publik)




Editor: Tuahta Arief

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading