Akal Sehat: Sagacity Atau Common Sense?

Selasa, 19 Maret 2019, 12:10 WIB

Rizal Mallarangeng dan Rocky Gerung/Net

RIZAL Mallarangeng (RM) mengkritik Rocky Gerung (RG) dalam kolom opini berjudul "Rocky Gerung, Kembang, dan Bowoisme" di Media Indonesia pada 13 Februari 2019.

Argumennya beranjak dari beberapa premis berikut. Pertama, ada ketegangan inheren atau bahkan paradoks dalam penjelasan serta posisi pemikiran RG beberapa waktu terakhir karena hanya tajam pada Jokowi tapi tumpul pada Prabowo.

Kedua, akal sehat (menurut RM merupakan common sense) seharusnya berbasis pada akal budi (reasons), fakta serta bersifat imparsial atau tidak ada urusan dengan posisi politis: baik petahana maupun oposisi.

Ketiga, absensi imparsialitas dalam kritik RG, menurut RM, merupakan manifestasi dari arrested development syndrome.

Keempat, RG senyap pada apa yang RM sebut sebagai Bowoisme, yaitu pemikiran bahwa asing mendominasi ekonomi Indonesia sehingga kita tidak maju.

Kelima, gross capital formation (GCF) Indonesia jauh di bawah Malaysia, Thailand serta Singapura yaitu sekitar 5 persen (tanpa sumber dan konteks waktu). Hal ini menurut RM merupakan sanggahan terbaik melawan Bowoisme.

Anggap saja kelima premis tersebut koheren. Dari kelimanya, titik paling lemah terdapat pada premis kelima. Ia nampak perkasa tapi abai terhadap akurasi dan komparasi.

RM tidak menyebut sumber data dan konteks waktu dari GCF Indonesia sebesar 5 persen. RM secara arbitrer mencomot data tanpa menyebut sumber, dan khilaf (atau sengaja?) untuk membandingkan dengan data dari sumber lain. Tentu saja hal ini rentan pada tudingan hoaks.

Kemudian, RM menutup mata bahwa World Bank menyatakan GCF Indonesia pada tahun 2017 sebesar 33,45 persen (setara 339,669 triliun dolar AS) terhadap PDB. Sementara GCF Malaysia sebesar 25,56 persen (80,434 triliun dolar AS), Singapura sebanyak 27.64 persen (89,527 triliun dolar AS) dan Thailand sebesar 22,85 persen (104,021 triliun dolar AS) terhadap PDB masing-masing negara pada tahun yang sama.

Dengan kata lain, justru GCF Indonesia lebih besar 7,89 persen terhadap Malaysia, 5,81 persen terhadap Singapura serta 10,6 persen terhadap Thailand di tahun 2017.

Sebagai catatan, GCF itu sendiri merupakan nilai total dari gross fixed capital formation (GFCF) serta perubahan dalam inventori dan akuisisi yang dikurangi nilai sebuah sektor atau unit (sebelum depresiasi).

Nampaknya, RM tidak ingin menggunakan the net foreign asset (NFA) di mana NFA Indonesia pada tahun 2017, menurut World Bank, mencapai 1.541,792 triliun dolar AS. Hal ini justru mengukuhkan Bowoisme di mana nilai aset Indonesia di luar negeri justru lebih besar daripada nilai aset asing di dalam negeri, jika bukan "bocor." Sebagai pembanding, NFA Singapura hanya sebesar 316,43 miliar dolar AS pada tahun yang sama.

Selain itu, RM belum insyaf bahwa akal sehat tidak selalu koheren dengan; atau tidak hanya perihal common sense seperti dalam premis keduanya.

Ambil contoh Jerman yang masyarakatnya takzim pada akal budi serta regulasi. Di sana, batas kecepatan maksimum di dalam Autobahn (semacam jalan tol) bertentangan dengan common sense semua orang menurut klaim Menteri Transportasi Andreas Scheuer. Akibatnya, 409 orang meninggal karena kecelakaan di Autobahn sepanjang tahun 2017.

Bahkan, menurut sebuah perusahaan poling, sekitar setengah orang Jerman menolak batas kecepatan maksimum di dalam Autobahn (Katrin Bennhold. [2019, February 6]. Speed limit on the autobahn? The New York Times, pp. 1, 4.).

Dalam konteks itu, common sense di Jerman terbelah dua tetapi akal sehat (sagacity) tetap mengutamakan batas kecepatan maksimum di dalam jalan tol.

Slogan 'Freie Fahrt für freie Bürger!' (kebebasan mengemudi untuk warga negara yang bebas) justru bersifat kontradiktif. Sebab, seperti kata Montesquieu, kebebasan tanpa batas justru akan melanggar kebebasan orang lain. Dalam isu lalu lintas, tentu saja hal itu berpotensi mencelakai pihak lain.

Di sinilah pentingnya untuk membedakan antara sagacity dengan common sense. Yang pertama memiliki kualitas pengambilan keputusan yang baik sekaligus kearifan mental (mental discernment); sementara yang kedua merupakan pertimbangan masuk akal hanya untuk urusan praktikal.

Dengan kata lain, common sense memiliki keterbatasan tersendiri tetapi sagacity merupakan pandu bagi kehidupan termasuk di dalamnya demokrasi.

Di satu sisi, RM mempersepsikan keduanya secara sama sementara di sisi lain RG nampak membedakan keduanya. Dengan slogan 'akal sehat,' RG sedang mengontraskan antara sagacity dengan common sense yang biasa digunakan, misalnya, para "cebong" dalam membela Jokowi sampai titik darah penghabisan.

Sementara akal budi atau reasons merefleksikan kekuatan pikiran untuk memahami, memikirkan serta menilai secara logis. Ia hadir sebagai agregat dari kualitas individual dalam koridor common sense tetapi bersifat unik dalam ranah sagacity.

Keunikan akal budi di ranah sagacity yang sejatinya mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan di jenjang common sense.

Kegagalan menyuguhkan data secara utuh dan presisi merupakan upaya menentang pencerdasan kehidupan bangsa. Selalu menyamakan antara sagacity dengan common sense; mirip seperti menyerbak anyir hegemoni mayoritas seperti voting dalam demokrasi; atau rekayasa yang datang dari tirani minoritas.

Sebaliknya, musyawarah untuk mufakat mensyaratkan sagacity. Jadi, mana akal sehat yang anda pilih: sagacity atau common sense?

Qusthan Firdaus

Peneliti di Asosiasi Sarjana Filsafat Indonesia; alumnus Filsafat The University of Melbourne
 

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading