WAWANCARA

Maruf Amin VS Sandiaga Uno Tak Seseru Jokowi VS Prabowo

Selasa, 19 Maret 2019, 09:23 WIB

Ma'ruf Amin VS Sandiaga Uno/Net

RMOL. Debat ketiga Pemilihan Presiden 2019, sudah dilaksanakan dan ditonton masyarakat luas.

Kali ini, yang beradu argumen adalah kedua Calon Wakil Presiden, yaitu Ma'ruf Amin dari pasangan nomor urut 01, dan Sandiaga Uno dari pasangan nomor urut 02.

Debat yang berlangsung dalam enam sesi tersebut, mengangkat tema pendidikan, kes­ehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya.

Dua Calon Wakil Presiden ini, memaparkan rencana kerjanya dalam bidang-bidang terse­but, sambil mengkritik program kerja lawan­nya.

Selain adu ide, baik Ma'ruf dan Sandiaga sama-sama melontarkan janji politik, jika mereka bersama pasangan masing-masing, nantinya terpilih dan diamanati untuk menjadi pemimpin negeri ini.

Janji politik itu dilontarkan untuk meyakinkan masyarakat, supaya menjatuhkan pilihan ke­pada mereka pada saat pencoblosan 17 April nanti. Namun, debat Ma'ruf dengan Sandi, tidak seseru debat capres, Joko Widodo den­gan Prabowo Subianto.

Kenapa begitu ya? Berikut pandangan tim sukses masing-masing, mengenai penampilan Ma'ruf Amin VS Sandiaga Uno dalam debat pada Minggu malam lalu.

Muhammad Taufik: Bang Sandi Adat Timurnya Kental

Kenapa Sandi tidak menyerang Kiai Ma'ruf Amin?
Ini karena Bang Sandi saking lem­butnya. Sandi itu orang yang santun, menghargai kesepuhan Kiai Ma'ruf. Menghargai posisi Pak Ma'ruf sebagai ulama.

Atau, Sandi tak punya kemam­puan untuk mendebat Ma'ruf Amin?
Sebenarnya, banyak hal yang mesti ditekan. Kalau saya ibarat­kan, debat ini main bulu tangkis. Main bulu tangkis itu tidak bola lob terus. Bola lob di atas sedikit, mestinya di-smash.

Kok, Sandi tidak begitu?
Bang Sandi tidak begitu karena menghargai kesepuhan Ma'ruf Amin dan keulamaannya. Sandi itu ketimurannya kental.

Tapi, jadi tidak enak ditonton. Tidak seru...

Buat saya, sebagai pendukung Sandi, memang geregatan. Tapi di sudut lain, budaya kita tidak mem­bolehkan kita mempermalukan orang di hadapan orang banyak. Apalagi, Pak Ma'ruf ini ulama. Bahkan, lebih tua dari Sandi, mengingat Pak Ma'ruf sudah 76 tahun.

Apakah ini strategi Sandi meng­hadapi ulama?
Mungkin orang membayangkan begitu. Tapi, itu bukan soal strategi, melainkan memang karakter Sandi yang santun.

Apalagi, dengan orang yang jauh lebih tua, ulama pula. Maka dari itu, Sandi sangat menghargai Pak Ma'ruf Amin.

Khawatir elektabilitasnya turun ya, jika mendebat kyai?

Begini, saya kira orang timur itu menghargai kyai, dan tidak pernah mempermalukan orang di hadapan orang banyak.

Secara garis besar, bagaimana penilaian Anda terhadap apa yang disampaikan Ma'ruf Amin?
Mohon maaf, saya melihat, KiaiMa’ruf hanya melakukan pem­belaan atas apa yang dilakukan Pak Jokowi. Tidak ada gagasan baru sama sekali. Tidak visioner.

Sama sekali tidak ada yang baru dari Ma'ruf Amin?
Saya lihat tidak ada. Tidak ada yang terbarukan oleh Pak Ma'ruf. Ya, apa yang sudah dilakukan Pak Jokowi saja.

Tidak terbayang Pak Ma'ruf mau melakukan apa. Beliau hanya melakukan apa yang sudah dilakukan Pak Jokowi. Malah itu pun dia me­nyangsikan.

Maksud Anda?
Ketika ditanya pakai sistem apa untuk mengontrol dana pendidikan yang 20 persen disampaikan ke daerah, bayangkan apa coba sehingga itu efisien. Bayangkan seperti itu, sedangkan itu sudah berjalan. Kalau begitu, Pak Ma'ruf menganggap itu tidak efisien dong. Kenapa dijalankan terus. Tapi dia kemudian jawab, pakai sistem data pendidikan, ini dan itu. Padahal, untuk efisien itu kan ada KPK dan semacamnya. Sistem keuangan negara sudah terbangun.

Keunggulan Sandi apa?
Apa yang disampaikan Sandi itu adalah apa yang ke depannya harus dilakukan. Beda dengan Pak Mar'uf, nanya sendiri jawab sendiri. Sistem apa yang mengontrol keuangan pen­didikan ke daerah. Kalau begitu, apa yang dilakukan sekarang, tidak percaya dong den­gan sistem sekarang. Kan aneh itu.

Kelebihan lain­nya apa?
Saya kira, materinya persoalan men­jawab problem bangsa ke depan. Itu kan jawaban persoalan yang konkret dari Bang Sandi. Sedangkan yang disampaikan Pak Ma'ruf relatif pem­benaran saja. Padahal, kenyataannya tak seperti itu. Apa yang disampaikan Sandi itu, antara lain problem tenaga kerja. Ini saya kira yang tidak dijawab Pak Ma'ruf Amin. Beliau hanya men­jawab tenaga kerja asing terkendali.

Ukuran terkendalinya apa gitu lho. Wong masyarakat kita masih banyak yang menganggur.

Program Oke Oce, kata Sandi meminimalisir 20 ribu pengang­guran di DKI. Masak sih?
Saya kira di Jakarta iya. Itu mau ditarik ke nasional, dan saya kira itu bagus. Dengan Oke Oce, orang terbangun, termotivasi menjadi entrr­preneurship, menjadi pengusaha ke­cil, dan banyak sekali hasilnya. Jauh lebih baik. Ada sedikit yang gagal, iya. Namun, kalau sekian puluh ribu, tidak sampai. Sedangkan data sampai 20 ribu mengurangi pengangguran, benar itu.

Jhonny G. Plate:  Sebenarnya Banyak Yang Bisa Diserang

Bagaimana penilaian TKN menge­nai debat Cawapres ini?

Penampilan Kiai Ma'ruf, bagi banyak orang mengejutkan. Termasuk bagi Pak Sandi, saya yakin mengejut­kan. Tetapi bagi kami, tidak menge­jutkan. Karena, kami tahu kemam­puan Pak Ma'ruf.

Tapi, Ma'ruf Amin sepertinya kurang tajam kepada Sandi...

Justru kami memberikan apresiasi kepada Pak Ma'ruf. Karena, jika Pak Sandi tidak mampu menjawab pertan­yaannya, Pak Ma'ruf tidak menerus­kan membombardir.

Ini debat Cawapres, tapi ira­manya biasa saja ya?
Itu adalah bukti kedewasaan politiknya kiai, sehingga dia kembali mengikuti irama yang biasa. Kalau bukan kiai lawan­nya, saya kira dibombardir habis itu Sandi saat nggak bisa jawab pertanyaan.

Jadi kurang tajam ya debatnya?
Begini, karena kiai, beliau tidak mau merendahkan martabat Sandiaga, sebagai calon pemimpin muda. Makanya, Pak Ma'ruf tidak meneruskannya. Kami memberi apre­siasi yang tinggi, karena beliau men­jaga martabatnya Sandiaga. Meski, Sandiaga tidak paham soal mekanisme kontrol belanja negara. Karena me­mang pengalaman dia kurang. Dia jadi pemimpin baru setahun di Jakarta.

Penilaian TKN mengenai pro­gram Sandi?
Sandiaga kehilangan poinnya kok. Contohnya, angka-angka kuantitatif yang diambil Sandiaga, banyak yang salah. Misalnya, data mengenai anak muda yang tidak bekerja, kan salah. Data soal OK-OCE menge­nai pengangguran di Jakarta salah, jumlahnya tidak menurun, tetapi malah bertambah. Dari 290 ribu, menjadi 314 ribu pada 2018.

Kenapa tidak diserang?
Pemaparan Sandi itu, sebetulnya banyak yang bisa diserang. Tetapi, tidak diserang. Itu karena Pak Ma’ruf menjaga martabat Sandiaga yang lebih muda, dan karena Sandiaga adalah pesaingnya. Itulah sifat ke-kiai -an yang ditonjolkan seorang kiai . Itu yang kami apresiasi.

Bagaimana penampilan Sandi?
Yang disampaikan Sandi itu tidak ada yang baru. Dia hanya meneruskan apa yang sudah dilakukan Jokowi-JK sekarang. Hanya saja bahasa yang digunakan berbeda. Gagasan yang bisa dibilang agak baru, paling soal penghapusan Ujian Nasional (UN).

Penilaian Anda terhadap peng­hapusan UN?
Gantinya apa. Mengganti dengan minat dan bakat, tidak harus meng­hapus UN. UN itu adalah tolak ukur, standar pengetahuan siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkan. Kalau minat dan bakat itu hanya pengara­han materi pengajarannya kemana. Tapi, harus ada tolak ukurnya juga dong.

Di Amerika Serikat yang pakai minat dan bakat, ada ukurannya. Di sekolah internasional di Jakarta juga ada ukurannya. Dimana-mana memang ada tolak ukurnya. Memang harus begitu.

Sandi mengkritik mengenai pelaksanaan BPJS. Bagaimana tanggapan TKN?
Soal defisit Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS), karena itu dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kan tinggal tam­bahkan dari APBN. Keputusan APBN adalah keputusan poli­tik dari pemerintah dan DPR, itu kalau untuk peserta yang bebas iuran. Perserta yang mandiri itu koorporasi dan perorangan, pemerintah nggak boleh ikut campur.

Tetapi Sandiaga ngomong soal BPJS seolah-olah sederhana, dengan mengambil para akuntan. Dengan mengambil para akuntan terus selesai sudah masalah BPJS. Tidak.

Kenapa tidak diserang?
Itulah hebatnya Kiai kami. Dia tidak serang, tetapi ambil angle-angle yang lain untuk kembali ke tema yang ada. Walaupun kualitas debatnya jadi tidak hangat, dan itu sudah kami perkirakan karena pemahaman Sandiaga terh­adap ketatanegaraan memang kurang. Jadi tidak bisa hangat dia.

Mengenai janji-janji politik Sandi bagaimana?
Memang ada banyak gagasan. Tapi, gagasan yang disampaikan Sandiaga kurang. Lalu ada satu poin penting yang perlu dicatat, Pak Kiai secara tegas menyampaikan, bahwa visi dan misinya adalah visi dan misi pasan­gan. Dia adalah cawapres. ***

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading