Terobosan Sandi Dan Janji Kiai

Senin, 18 Maret 2019, 21:30 WIB

Maruf Amin dan Sandiaga Uno/Net

SUATU harapan besar dengan terobosan besar yang diungkapkan Sandiaga Uno pada debat cawapres sungguh memukau. Rasional dan sangat detail.

Karakter Sandi kalau kita telusuri, akan bertemu pada Bung Hatta. Tokoh yang sangat detail dalam mengkaji segala persoalan hingga yang paling kecil.

Pikirannya sangat praktis, bukan sebentuk Janji kampanye, tetapi terobosan besar untuk Indonesia Menang, Adil dan Makmur. Sandi selalu mengatakan, “kita pastikan dan kita bisa". Kata ini berlawanan dengan kata "kami akan" yang disampaikan oleh Kiai Maruf Amin.

Dengan penggunaan kata dan kalimat seperti itu dalam, publik bisa menangkap, mana yang berpikir untuk bangsa, mana yang senang mengumbar janji. Oleh karena itu, debat cawapres ini membuat pemilih yang undicided voters akan berhenti "menghukum petahana" dan segera melabuhkan pilihannya pada capres 02.

Karena pemilih yang belum menentukan pilihan ini menunggu sesuatu yang berbeda dari penantang, sesuatu yang berbeda itu dijelaskan oleh Sandiaga Uno dengan sangat gamblang dan sederhana.

Sementara argumentasi "akan melakukan" yang disampaikan oleh Kiai Maruf Amin menjadi aib tersendiri bagi Jokowi sebagai presiden. Kata “akan melakukan" justru akan menutup kemungkinan pemilih Jokowi bertambah. Karena rakyat sudah mulai bosan dengan kata itu.

Seharusnya, Kiyai Maruf "didandani" dengan argumentasi capaian program yang dilakukan oleh Jokowi selama berkuasa. Itu sebenarnya mudah disampaikan, daripada dipaksa untuk menjelaskan yang program yang membuat rakyat semakin meninggalkan Jokowi.

Pada sesi pertama debat, dalam penyampaian visi dan misi, Maruf Amin mengandalkan tiga kartu sakti, yang hanya merupakan janji-janji. Apalagi Kartu Pra Kerja yang dalam negara welfare state masih belum menerapkannya. Amerika saja, sebagai negara maju, baru memasukkan janji untuk menggaji para pengangguran pada pemilu yang akan datang.

Kartu-kartu sakti capres 01 adalah kartu yang membosankan publik. Sehingga ketika permulaan debat cawapres dibuka, Kiai Maruf memberikan klimaks yang tidak memuaskan. Dan selanjutnya publik sudah menangkap, bahwa Program 01 hanyalah sebatas kartu itu, tanpa konsep yang jelas dan bahkan masih dipertimbangkan.

Kebijakan yang masih menjadi pertimbangan, yang disampaikan ke hadapan publik akan berakhir dengan satu kesimpulan, bahwa itu merupakan janji-janji belaka, yang sulit untuk diterapkan.

Sebaliknya Sandi membuka debat dengan program dan visi misi yang jelas untuk memajukan Indonesia, dengan sangat rasional dan membumi. Sandi tidak langsung pada kesimpulan, tapi menyampaikan gambaran umum tentang kebijakan yang akan di ambil apabila pasangan 02 memenangkan Pilpres 2019 yang akan datang.

Sandi memperlihatkan karakter mudanya dan keberpihakannya terhadap kaum milenial dan para pelajar. Dengan konsep memadukan antara pendidikan, riset dan lapangan kerja Khusus generasi muda, Sandi sangat meyakinkan tanpa menyelipkan kata "kami akan".

Justru Sandi menjelaskan keharusan bagi pemerintah dengan kalimat "kita harus". Ini menandakan pikirannya tidak untuk mengaku diri, melainkan sudah menjadi tugas dan kewajiban bersama, yang mau tidak mau harus dilakukan oleh pemerintah.

Argumentasi Sandi ini, memang tidak menyerang, tetapi menelanjangi pemerintahan Jokowi yang hanya berjanji, mengklaim dan mementingkan diri sendiri dengan klaim prestasi sejarah bangsa Indonesia.

Sehingga Paslon 01 hanya mengulangi kejadian 2014 dengan kata "kami akan". Padahal mereka harus mengatakan bahwa capaian yang telah dilakukan dengan tanpa mengeluarkan kartu sakti yang nyatanya tidak sakti itu. Maruf Amin justru menyimpulkan anggapan publik tentang Jokowi yang menjadi "tukang klaim".

Oleh karena klaim selama ini yang digembar gemborkan oleh timnya mengenai keberhasilan Jokowi, sekarang sudah menjadi bentuk kelemahan yang yang paling mendasar dari Paslon 01. Juga menelanjangi karakter Individualitas dan hasrat untuk meng-aku-an diri masih kokoh dalam diri capres maupun cawapres 01. Ini memang penyakit yang membahayakan bagi bangsa Indonesia.

Sepanjang debat cawapres tersebut, kita hanya bisa melihat argumentasi cawapres 01 sebagai janji-janji yang tak pernah putus. Janji di tengah kegagalan, justru akan menjadikan publik kurang berminat untuk mendengarkannya, apalagi disampaikan dengan intonasi yang sudah mulai lemah.

Yang mengherankan munculnya program "tol langit". Dalam khayalan ini, bagus, karena akan mempermudah orang berlalu lintas dan jalan sutra ke langit. Mobil Esemka bisa digunakan sebagai kendaraannya.

Untuk khayalan dan cita-cita org yg sudah usia lanjut ini bagus. Kalau utk janji kampanye ini pembodohan publik.

Tetapi apa maksud dari tol langit itu, masih belum terbayangkan oleh akal manusia. Karena itu kita harus perbanyak membaca dongeng untuk mengerti tol langit ini.

Selanjutnya, Pada sesi debat ketiga, ketika berbicara tentang stunting, Pak Kiyai tidak bisa menghindar dari klaim yang tidak akurat dan cenderung hoax. Klaim menurunnya stunting selama pemerintahan Jokowi mencapai 7 persen adalah kebohongan yang sulit untuk ditolak. Padahal angka penurunan itu terjadi di zaman Rezim Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tahun 2014.

Dari tahun 2015 sampai 2018 angka Stunting justru meningkat menjadi 1,7 persen. Setelah klaim yang salah itu dilakukan, maka diikuti janji "kami akan". Ini adalah apologi yang paling jelek dalam mencuri elektabilitas.

Sementara Sandi jelas mengenai masalah ini. Yaitu dengan menggalakkan kerja kolektif masyarakat untuk mewujudkan Indonesia sehat dan bergizi dengan strategi "sedekah Putih". Menggalakkan semua masyarakat untuk saling membantu dalam mewujudkan Indonesia sehat, tanpa janji kartu Indonesia sehat.

Pada akhirnya kartu itu memang hanya sebatas untuk mencari simpati publik dan menenangkan publik dari keinginannya untuk mengganti pemimpin mereka. Ternyata kartu itu tidak sakti dan tidak bisa membantu, kartu itu hanya sebatas janji-janji yang akan membebani negara.

Untuk membuktikan bahwa itu hanya sebatas janji belaka, Sandi dengan menohok dalam sesi terakhir debate, Mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk elektronik dan menyatakan "semua ada di sini". Yaitu chip singel identity number yang ada di EKTP. Dengan EKTP semua bisa diwujudkan, untuk mewujudkan Indonesia Sehat, Indonesia Pintar, Indonesia Maju dan lain sebagainya, cukup dengan EKTP tersebut.

Publik sorak dan bertepuk tangan dan serentak mengeluarkan semua EKTP-nya. Argumentasi dan jawaban pasti Sandiaga Uno itu meng-hangus-kan seluruh kartu-kartu Jokowi. Kalau kita ibaratkan "Kartu sakti itu adalah sihir Firaun”, maka EKTP adalah tongkatnya Nabi Musa AS, yang melumat  seluruh sihir itu, sehingga tidak tersisa sedikitpun.

Ketika mendengar satu jawaban yang pasti dan tidak ada janji di dalamnya, rakyat melihat keseriusan Prabowo-Sandi untuk membangun bangsa dan negara. Dengan memastikan bahwa Rakyat Indonesia wajib memiliki Identitas dan dengan identitas itu, negara bertanggung jawab untuk mewujudkan kesejahteraaan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara bersamaan hanguslah semua kartu Jokowi-Maaruf Amin. Semua tidak ada artinya, semua hanya janji, semua merupakan sesuatu yang belum pasti bisa dilaksanakan oleh negara. Apalagi negara sedang menghadapi defisit anggaran, akibat "ugal-ugalan" dalam pembangunan infrastruktur.

Karena itulah. saya berkesimpulan, debat cawapres itu, banyak memberikan konstribusi untuk mengakhiri keraguan pemilih, khususnya mereka yang lagi "menghukum Jokowi" (undicided voters) untuk melabuhkan pilihannya dengan memilih Prabowo-Sandi.

Dalam penutup debat Maruf Amin bersumpah untuk melawan hoax. Ini patut kita dukung secara bersama, karena hoax merusak narasi bangsa kita, dan merusak informasi publik.

Tetapi sayang beribu sayang, seharusnya ajakan Hoax itu harus dimulai dari diri sendiri. Karena perang melawan nafsu angkara murka diri sendiri lebih dahsyat daripada melawan yang lain. Terbukti bahwa dalam debat ia menyampaikan hoax yang membohongi publik dengan mengatakan stunting turun 7 persen, yang sebenarnya di zaman Jokowi meningkat 1,7 persen.

Kalau kita tarik sedikit ke belakang, hoax ini memang sudah menghiasi argumentasi paslon 01. Hoax oktober 2018 produksi Mobil Esemka kini masih keliaran, seharusnya mereka ini ditangkap dan diadili. Hoax konflik Agraria, Hoax tidak ada sengketa lahan, dan ratusan hoax dari paslon 01 harusnya diperangi oleh Maruf Amin, tetapi kadang nafsu kuasa melupakan segala kesalahan sendiri dan berkomitmen dengan cara berbohong pula.

Demikianlah antara hasrat berkuasa dengan tujuan mengabdi untuk rakyat pasti akan bertarung, dan kemenangan pasti akan berpihak kepada pengabdian bukan pada hasrat. 02 lebih menampilkan karakter pengabdian, sedangkan 01 hanya ingin melanggengkan kekuasaan, dengan janji dan hoax.

Ahmad Yani

Caleg DPR RI PBB, Dapil I DKI Jakarta

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading