Eks Pangdam: Jangan Sampai Tokoh Masyarakat Jadi 'Kompor'

Kamis, 14 Maret 2019, 07:37 WIB | Laporan: Widya Victoria

Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra/Humas BNPT

RMOL. Keragaman baik ras, etnis, agama yang dimiliki bangsa Indonesia mulai terusik dengan gejala bangkitnya primordialisme dan politik identitas yang semakin meruncing.

Untuk itu penting bagi masyarakat Indonesia untuk mengingat dan menguatkan kembali semangat persaudaraan, kebangsaan dalam perbedaan yang dimiliki bangsa ini. 

Anggota Komisi I DPR, Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra mengatakan bahwa perbedaan dalam kehidupan di Indonesia ini melebihi perbedaan yang ada di negara-negara lain di belahan dunia lain. 

"Sekarang bagaimana caranya supaya perbedaan itu menjadi kekuatan. Kalau dia sudah menjadi kekuatan dan kebersamaan, maka dia akan menjadi sebuah persaudaraan. Kuncinya sederhana, bagaimana kita membangun persaudaraan dari sebuah perbedaan," ujar Supiadin di sela-sela pembukaan acara Rapat Koordinasi Pembentukan Kelompok Kerja Pandamping Sasaran Deradikalisasi wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Lampung yang digelar oleh BNPT di Jakarta, Rabu (13/3).

Lebih lanjut mantan Asops Panglima TNI ini mengatakan, selama ini masyarakat seolah-olah seperti lupa dengan apa yang diperbuat para pendahulu bangsa dari berbagai suku, agama, ras bisa bersemangat untuk menyatukan bangsa ini di tengah-tengah perbedaan yang ada. Hal ini tentunya juga dipengaruhi oleh budaya maupun pengaruh keteladanan dari pimpinannya.

"Orang itu tentunya juga melihat bagaimana pemimpinnya menyikapi perbedaan ini, kadang mereka melihat ‘oh kok dia selalu menghina orang’. Nah ini yang kadang ditiru orang. Biasanya orang itu cenderung mudah meniru hal yang tidak baik, karena untuk meniru yang baik itu sulit sekali dan perlu waktu," ujarnya.

Oleh karena itu menurutnya, faktor-faktor yang bisa menimbulkan perpecahan dalam perbedaan seperti saling menghina dan sebagainya ini harus dihindari. Selain itu teladan kepemimpinan dari tokoh-tokoh masyarakat juga harus diperhatikan dengan seksama.

"Jangan sampai justru tokoh-tokoh di masyarakat ini menjadi ‘kompor kompor’ untuk memecah dalam sebuah perbedaan,” kata mantan Pangdam Iskandar Muda dan Pangdam IX/Udayana ini.

Pria kelahiran Garut, 3 April 1952 tersebut mengingatkan, dampak dan bahaya yang akan terjadi kalau masyarakat tidak bisa menjaga dan melestarikan keberagaman yang paling pertama tentunya akan timbul friksi-friksi baik antarkebhinekaan, suku maupun antaragama. Kalau friksi itu tidak terkendalikan maka akan dapat menimbulkan konflik.

"Kita ini negara dengan suku-suku, kebhinekaan yang paling besar di dunia. Contohnya Afghanistan itu cuma empat suku, Pakistan, India itu cuma berapa suku? Sementara kita (Indonesia) ribuan suku. Inilah anugrah dan faktanya kita bisa bersatu," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Supiadin juga menyoroti maraknya hoax dan ujaran kebencian yang banyak berkembang melalui media sosial (medsos). Ia pun meminta kepada generasi muda untuk bisa ikut membantu berperan dalam mengampanyekan bahwa perbedaaan yang dimiliki bangsa bisa menjadi alat untuk  menguatkan kembali identitas Nation-State.

Mantan Komandan Korem 071/Wijaya Kusuma ini juga meminta kepada generasi milenial untuk tidak mengeluarkan ujaran ujaran kebencian, fitnah melalui medsos.

"Generasi milenial ini juga harus ikut mengkampanyekan tentang semangat persaudaraan, persatuan dalam kebhinekaan ini di media-media sosial bahwa kita ini satu, bangsa Indonesia," katanya mengakhiri.

Kolom Komentar


Video

Prabowo: Kita Menang, Jangan Lengah!

Rabu, 17 April 2019
Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
loading