Dubes Jepang: Bila Ekonomi Tumbuh 6,5 Persen, Indonesia Nomor 4 Terkuat Di Dunia

Minggu, 03 Maret 2019, 21:52 WIB | Oleh: Teguh Santosa

Dubes Jepang Masafumi Ishii/RMOL

NIHON atau Nippon. Negeri matahari terbit. Kemenangan dalam perang melawan Kekaisaran Rusia di Manchuria dan Semenanjung Korea pada 1904-1905 melambungkan reputasi Kekaisaran Jepang sebagai saudara tua Asia. Kemenangan ini menyempurnakan supremasi Jepang di kawasan Asia Timur sejak merebut Formosa dari China dalam perang 1895.

Jepang sudah memperlihatkan tanda-tanda ke arah kegemilangan sejak Kaisar Meiji yang berkuasa di pertengahan abad ke-19 memulai restorasi besar-besaran yang berdampak pada penguatan sistem politik yang lebih tersentralisir dan pertumbuhan ekonomi yang ditopang industrialisasi demi mengejar ketertinggalan dari dunia Barat.

Memasuki 1940an, Jepang secara terang-terangan menantang dominasi Eropa di Asia Pasifik. Satu persatu wilayah yang dikuasai Amerika Serikat, Inggris, Belanda dan Australia (ABDA) diambil alih Jepang. Dimulai dari serangan besar ke pangkalan militer AS di Pearl Harbour, Hawaii pada Desember 1941, diikuti Operasi Oktopus Tengah untuk merebut sumur minyak di Pulau Tarakan pada Januari 1942, hingga menaklukkan seluruh Hindia Belanda, dan seterusnya. Bagi negeri-negeri terjajah pada masa itu, Jepang adalah sang pembebas, the liberator.
Road To Senayan

Namun kisah kehebatan balatentara Jepang di Asia Pasifik hanya seusia jagung. Dua bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945 menghentikan agresifitas Jepang sekaligus menutup layar panggung Perang Dunia Kedua.

Jepang tak memerlukan waktu lama untuk me-recovery diri setelah kekalahan yang menyakitkan itu. Di era 1950an Jepang sudah kembali bangkit dan berdiri tegak lagi. Kali ini sebagai pemimpin ekonomi dunia sampai dua dekade yang lalu.

Dalam wawancara dengan redaksi Majalah RMOL di ruang kerjanya, Dutabesar Jepang di Indonesia, Masafumi Ishii, menjelaskan cara pandang Jepang terhadap persaingan dan kompetisi di arena global.

Dubes Ishii lahir di Hiroshima, 3 November 1957. Ia memulai karier di Kementerian Luar Negeri pada tahun 1980. Antara 1999 hingga 2002 alumni Universitas Tokyo ini menjabat Direktur Divisi Asia Kedua Kemlu Jepang. Ia pernah bertugas di Inggris dan Amerika Serikat serta sejumlah negara penting lain, juga pernah menjadi Sekretaris Pribadi Menteri Luar Negeri Jepang. Sebelum ditugaskan ke Jakarta, Dubes Ishii bertugas sebagai Dutabesar Jepang di Kerajaan Belgia.

Persaingan negara-negara yang memiliki kepentingan ekonomi di Indonesia, menurut Dubes Ishii, memberikan keuntungan bagi Indonesia. Indonesia berpeluang menjadi negara dengan kekuatan ekonomi ke-4 atau ke-5 pada tahun 2045. Syaratnya tentu ada, yakni fokus pada sejumlah pekerjaan rumah. Dubes Ishii juga percaya hubungan baik antara negaranya dan Indonesia akan terus terjaga dan akan semakin baik. Kedua negara kini sedang bekerjasama dalam sejumlah proyek pembanguan infrastruktur.  

Berikut bagian pertama dari wawancara itu:

Sebelum bertugas sebagai Dutabesar di Jakarta, Anda pernah mengunjungi Indonesia antara akhir 1990an dan awal 2000an. Bagaimana Anda melihat perkembangan di Indonesia sejak masa-masa itu hingga sekarang, terutama dalam hal ekonomi dan politik?

Saya kira kini semua menjadi positif, kecuali untuk kemacetan. (Tertawa) Saat itu saya bertugas di Tokyo sebagai Direktur di Kementerian Luar Negeri yang bertanggung jawab pada urusan bilateral dengan beberapa negara di Asia termasuk Indonesia. Ketika itu persis setelah krisis finasial Asia, kemerdekaan Timor Leste, juga akhir dari masa pemerintahan Soeharto. Itu masa-masa yang sulit bagi Indonesia.

Kini, lebih dari 20 tahun sejak saat itu, saya kira politik dan demokrasi Indonesia sudah lebih tertata. Tidak ada satu negara pun selain di Indonesia, dimana hampir 200 juta pemilih memilih langsung presiden, dan itu dilakukan relatif damai. Saya kira ini adalah salah satu contoh bahwa demokrasi settling down di sini. Tentu saya ada ups and downs, tidak ada orang yang sempurna. Saya kira situasinya jauh lebih baik dibandingkan 20 tahun lalu.

Dari sisi ekonomi, Anda tumbuh lebih dari 5 persen setiap tahun. Saya tahu, Anda berharap bisa tumbuh lebih tinggi. Saya kira pertumbuhan ekonomi 5 persen sangat impresif. Dari sisi pendapatan per kapita, ketika saya berada di sini di tahun 1999, saya kira pendapatan per kapita sebesar 650 dolar AS. Sekarang pendapatan per kapita lebih dari 3.500 US dolar. Kurang dari lima tahun pendapatan per kapita bisa hampir lima kali lipat, saya kira itu dengan sendirinya merupakan pencapain yang besar.

Tentu saja perjalanan Anda masih jauh (far away to go), tetapi Anda punya potensi yang sangat besar. Tidak hanya karena Anda adalah negara yang besar, tetapi juga karena industri sedang tumbuh. Ada beberapa prioritas seperti peningkatan investasi, peningkatan ekspor dan pembangunan kapasitas manusia melalui pendidikan vokasional.

Saya kira Anda harus tetap pada prioritas ini. Populasi Anda juga belum mengalami penuaan, Anda masih memiliki bonus demografi sampai melewati tahun 2040. Jadi Anda memiliki semua elemen yang tepat   yang dibutuhkan untuk maju. Kalau Anda melakukan hal-hal yang benar, dan melakukannya dengan cara-cara yang benar, ada potensi yang besar sekali Anda akan bergerak jauh lebih cepat.


Ketika dilanda krisis kami tidak semakin jatuh atau bahkan mengalami kehancuran seperti yang dialami negara-negara lain. Menurut Anda, apa faktor utama sehingga Indonesia bisa melewati masa-masa sulit itu?

Ini pertanyaan yang bagus. Saya kira Anda perlu menanyakan itu pada diri Anda sendiri. (Tertawa) Tetapi saya kira, terus terang saja, ini adalah sebuah keajaiban (wonder). Anda tahu, Anda merupakan negara yang begitu besar, memiliki begitu banyak budaya, berbagai bahasa. Indonesia bisa bertahan menjadi negara yang satu dan lebih kurang damai, dengan sendirinya ini adalah pencapaian yang sangat bagus. Saya sungguh tidak bisa menemukan beberapa alasan mengapa Anda bisa melakukannya.

Saya kira ada hal-hal kecil, seperti penggunaan bahasa Indonesia sungguh bagus untuk menyatukan negara ini. Saya kira DNA Anda juga membuat Anda bisa menjalin hubungan baik dengan tetangga siapapun dia dan dari latar belakang apapun dia berasal. Ini yang saya rasakan setiap hari. Hal-hal seperti ini selalu memiliki kontribusi pada persatuan. Juga, Anda tentu tahu, ada ideologi Pancasila yang diadopsi di masa-masa awal kemerdekaan. Itu juga memiliki kontribusi yang sangat besar pada persatuan Indonesia. Leluhur Anda melakukan dan mencapai banyak hal di masa lalu. Kini giliran Anda untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Bagaimana Anda melihat perjalanan masa depan Indonesia, terutama bila dikaitkan dengan sistem politik dan sistem ekonomi yang kami miliki sekarang?

Sistem politik Anda cukup stabil, tentu ada ups and downs, seperti yang dihadapi negara-negara lain. Sistem ekonomi Anda juga didasarkan pada sistem politik yang stabil yang secara fundamental dibutuhkan untuk bisa mencapai pertumbuhan substansial. Anda mungkin sudah mendengar proyek 2045 yang diperkenalkan tahun lalu dalam peringatan ke-60 tahun hubungan Indonesia dan Jepang. Anda tentu tahu bahwa 2045 adalah peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

Proyek ini mempelajari dan memperkirakan di tahun 2045 Indonesia akan menjadi seperti apa, dan Jepang akan menjadi seperti apa. Proyek ini juga mempelajari berbagai sektor kerjasama yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang lebih baik.

Berdasarkan itu semua, seperti yang saya pernah sampaikan, bila apa yang dicapai saat ini bisa terus dilanjutkan, termasuk pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, saya kira Anda memiliki potensi besar untuk berada di posisi ke-5 dalam hal GDP (Gross Domestic Product). Bahkan pada masa itu saya kita penuaan populasi di Indonesia belum terjadi juga.

Bila Anda berhasil mempercepat pertumbuhan ekonomi sedikit lebih tinggi, di atas 6 atau 6,5 persen dalam beberapa tahun, saya rasa Anda memiliki kesempatan yang sangat luas untuk melampaui Jepang dalam hal GDP. Bila ini terjadi, Anda bisa berada di urutan ke-4, dan kami bisa berada di posisi ke-5.

Tentu saja Anda harus bisa muncul dengan kemampuan manajemen ekonomi yang solid. Saya sangat yakin dengan masa depan ekonomi Anda.


Menurut Anda apa yang harus menjadi fokus Indonesia, apakah pertanian, pertambangan, infrastruktur, atau manufaktur untuk mensuplai kawasan ini?

Anda harus melakukan banyak hal. Tetapi prioritas pertama adalah meningkatkan investasi luar negeri. Itu akan terus menjadi hal yang penting. Untuk itu Anda harus meningkatkan iklim investasi. Kedua, Anda harus meningkatkan ekspor. Setelah menerima invetasi asing, perusahaan asing akan menciptakan manufaktur dasar di sini tentu saja bersama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia.

Tentu saja pasar domestik Anda sangat besar, tetapi bila Anda hanya fokus pada pertumbuhan pasar domestik pertumbuhan ekonomi tidak akan begitu baik. Jadi saya kira Anda perlu memberikan tekanan lebih pada ekspor. (Sebagai catatan) industri mobil di sini semakin baik dalam hal ekspor.

By the way, perusahaan Jepang di sini menyumbangkan 20 persen dari ekspor Indonesia. Dan 10 persen dari GDP Indonesia dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang. Terlepas dari kontribusi perusahaan-perusahaan Jepang, saya kira peningkatan ekspor harus menjadi cara yang dipilih.

Ketiga, untuk isu-isu tersebut, Anda harus memiliki pendidikan vokasional agar memiliki tenaga kerja yang talented dalam jumlah yang cukup banyak. Saya tahu bahwa sumber daya manusia adalah salah satu sisi kekuatan Indonesia. Tingkat pendidikan cukup tinggi.

Pertanyaannya adalah apakah mereka memiliki kemampuan untuk menangani sistem berteknologi tinggi. Bila Anda bisa melakukan itu, saya kira apapun menjadi mungkin. Untuk hal-hal itu banyak negara yang ingin membantu Indonesia. Jepang sudah barang tentu juga ingin membantu. Perusahaan-perusahaan Jepang juga memberikan perhatian pada pelatihan tenaka kerja di sini.
Editor: Ade Mulyana

Kolom Komentar


Video

LBH: Penetapan Tersangka Sopir Tangki Diwarnai Intimidasi

Rabu, 20 Maret 2019
Video

Hubungan Internasional Kunci Keunggulan Prabowo

Rabu, 20 Maret 2019
Video

#KataRakyat: DPT Bikin Bete!

Rabu, 20 Maret 2019
loading