Sodetan Sudah Rampung, Pintu Airnya Belum Dipasang

Jumat, 01 Maret 2019, 08:41 WIB

Foto/Net

RMOL. Upaya penanganan banjir di bantaran Kali Pulo tengah dilakukan. Salah satunya, dengan membuat sodetan, dari kali itu, menuju saluran penghubung.

Aliran Kali Pulo, yang berada di RW 9, Kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (Jaksel), jadi tempat kali itu disodet. Lokasi sodetan berada di Gang Haji Yusuf. Tak mudah menemukannya. Karena, lokasinya berada di permukiman yang cukup padat. Jaraknya, lebih 50 meter dari jalan raya.

Dari pengamatan Rabu (27/2), sodetan sudah rampung. Dinding-dindingnya dibuat semacam turap. Menggunakan adukan se­men dan pasir. Dihaluskan. Ada pintu airnya. Tapi masih semen­tara. Pakai kayu. Nantinya, pintu airnya akan memakai besi.

Sodetan yang menempel dengan Kali Pulo, lebarnya tidak terlalu besar. Tak sampai satu meter. Sodetan itu memanjang hingga saluran penghubung, yang sebelumnya sudah ada. Panjangnya sekitar 70 meter. Menembus bangunan-bangunan permukiman di sekitarnya.

Kondisi Kali Pulo di lokasi sodetan, terlihat cukup baik, jikadibandingkan dengan di lokasi tempat dinding turap jebol beberapa pekan lalu. Lebarnya hampir mencapai lima meter. Posisinya pun tak terjepit permu­kiman. Hanya satu sisi yang ada permukiman. Sedangkan sisi lain­nya, berupa semak dan kebun.

Penanganan banjir di wilayah itu, tidak hanya membuat sodetan. Di sisi lainnya, masih di Gang Haji Yusuf, saluran penghubung juga diperbaiki. Dinding saluran yang tadinya hanya berupa tanah, diturap.

Hari itu, saluran penghubung tersebut sedang dalam penger­jaan. Sisi saluran, dipasang tumpukan karung berisi pasir. Ada juga sebagian yang sudah dimasukkan adukan semen. Tak lupa, rangka dari besi dipakai untuk melapisi dinding turap.

Amo Setiawan, Koordinator Lapangan (Korlap) Pemeliharaan Dinas Tata Air Jakarta Selatan mengatakan, pembuatan sodetan bertujuan agar debit air ke hilir berkurang. Untuk menormalisasi aliran air di kali tersebut.

"Biar yang ke arah Masjid Ar-Ridwan dinormalin lagi," ucap Amo, saat ngobrol.

Amo bilang, sodetan itu bisa mengurangi ketinggian air secarasignifikan. Yang tadinya tingginya 80 centimeter (Cm), akan turun jadi 50 Cm. "Jadi kalau ini nanti ada pintu airnya, bisa turun 30 Cm," ungkapnya.

Saat selesai nanti, pintu air tersebut akan awasi. Terutama saat musim hujan. Amo bilang, petugas dari kelurahan setempat yang akan mengawasi pintu air di sodetan tersebut.

Namun, katanya lagi, tiap hujan lebat, akan tetap ada pengawasan dari Dinas SDA juga. Apakah pintu air akan dibuka, atau ditutup. Tergantung tinggi air di bagian hilir.

"Karena kasianjuga warga yang di bawah kalau air sudah tinggi," ucapnya.

Selain sodetan, di wilayah itu, kata Amo, akan ada rencana peninggian dinding kali. pemasangan turap baru. Kata dia, itu berguna menjaga agar tanah warga tidak longsor.

"Tingginya dua meter, untuk menjaga debit air nggak masuk ke rumah warga," terangnya.

Amo bilang, pengerjaan so­detan di sisi Kali Pulo telah ber­langsung selama sebulan tera­khir. Menurutnya, pengerjaan terhitung cepat. Sodetan diker­jakan secara serentak. "Karena kan ngejar waktu, masih musim hujan," tuturnya.

Lebih lanjut, Amo menyebut pengerjaan sodetan akan selesai bulan ini. termasuk pengerjaan perbaikan saluran penghubung. "Kalau sodetan kan sudah, ting­gal di saluran penghubung," ujarnya.

Warga Ngarep Kali Pulo Tak Jebol Lagi


 Pembuatan sodetan Kali Pulo, diharapkan dapat mengurangi dampak luapan kali itu. Terutama saat musim penghujan. Saat debit air sedang tinggi.

Rohani, salah satu warga yang senang dengan pembuatan sodetan Kali Pulo. Warga RW 6, Kelurahan Jatipadang itu, kini bisa lebih tenang saat debit air di Kali Pulo tinggi. Dia tak takut dinding kali itu jebol lagi.

Rumah Rohani, menempel dengan aliran Kali Pulo. Bahkan, aliran air lebih tinggi daripada pintu rumahnya. Bangunan rumahnya dua lantai. Ukuran totalnya sekitar 60 meter persegi. Ada beberapa ruangan didalamnya. Salah satunya dijadikan warung

Jika debit air Kali Pulo tinggi, dan dinding jebol, bisa dipastikan rumah Rohani terendam. Saat itu, dinding Kali Pulo jebol. Posisinya persis di sebelah rumah Rohani. Dekat dengan tanah kosong.

Saat ini, Rohani sudah kembaliberaktivitas seperti sedia kala. Sedangkan dinding yang jebol, sedang dibuat turap baru, dengan bahan yang lebih kuat dari sebe­lumnya. "Mudah-mudahan bisa bertahan kalau air tinggi lagi," harap Rohani.

Terkait sodetan, Rohani berharap cara itu bisa mengurangi debit air di Kali Pulo. Terutama saat sedang tinggi. Soalnya, kata dia, saluran penghubung yang tersambung dengan sodetan itu, sebelumnya relatif aman. "Nggak pernah meluap kalau di sana. Nggak seperti di sini," ujarnya.

Rohani berharap, Pemprov DKI menormalisasi Kali Pulo hingga ke bagian hilir. Dia juga tak keberatan jika harus direlokasi demi normalisasi kali yang berhulu di Setu Babakan itu. "Asal aturan dan semuanya jelas," ucapnya.

Latar Belakang
Air Bah Terjang Permukiman Bantaran Kali Pulo

Dinding Kali Jebol

Selama setahun terakhir, dinding Kali Pulo di Jatipadang, Jakarta Selatan, berulang kali jebol. Akibatnya, rumah warga yang tinggal di bantaran kali, kebanjiran.
Pertengahan Januari 2019, dinding tanggul Kali Pulo jebollagi. Puluhan rumah di Kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, terendam luapan kali tersebut. Dinding kali yang jebol berada di RW 6, Jatipadang. Jaraknya, sekitar 30 meter dari tanggul yang jebol akhir 2017. Dinding yang jebol kali ini, berada di sisi selatan. Tapi lokasinya mirip. Dekat tanah kosong.

Di sisi dinding yang jebol, lebar Kali Pulo, sangat memprihatinkan. Bahkan, lebih cocok disebut got. Lebarnya kurang dari dua meter. Lebih sempit dari daerah yang tanggulnya jebol 2017 lalu. Di sana, lebar kali masih mencapai lima meter.

Makin ke hilir, kali makin 'menghilang'. Semakin menyempit. Hingga hanya sisa satu meter. Bahkan kurang. "Malah di bawah, ada yang ruang tamu rumahnya di atas kali," ujar Rohani, warga sekitar.

Rumah Rohani terendam cukup parah saat 'air bah' datang. Hampir satu meter. Dia bilang, air bercampur lumpur dengancepat menerjang rumahnya. Saat itu, Azan Maghrib barusaja usai. Rohani hendak beribadah. Dinding kamar mandinya bergetar. Getarannya cukup terasa.

Dia bergegas keluar kamar mandi. Tujuannya, menuju bagian depan rumah. Melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dia sangat khawatir. Soalnya, rumahnya menempel dengan badan kali. "Sampai depan, air sudah tinggi," katanya.

Katanya lagi, air terus datang dan semakin tinggi. Selain lum­pur, puing-puing bangunan yang ambruk turut terbawa air. Bahkan, dinding satu meter yang membatasi tanah kosong dengan jalan, ikut ambrol. "Itu puingnya terbawa sampai ke dalam rumah saya," bebernya. ***

Kolom Komentar


Video

Hari Terkelam Bagi Selandia Baru

Jumat, 15 Maret 2019
Video

TKN: Kasus Romi Masalah Pribadi

Jumat, 15 Maret 2019
loading