Etika Politik Dalam Al-Qur'an (24)

Khairah Ummah

Kamis, 21 Februari 2019, 09:00 WIB | Oleh: Nasaruddin Umar

Nasaruddin Umar/Net

DAN hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada ke­bajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mence­gah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali 'Imran/3:104). Kamu ada­lah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mung­kar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mer­eka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Ali 'Imran/3:110).

Ummah adalah masyarakat yang diide­alkan di dalam Al-Qur'an dan dipraktekkan sejak Nabi Muhammad Saw. Konsep khai­ra ummah menurut kedua ayat tersebut di atas ialah suatu komunitas masyarakat yang senantiasa menyerukan kepada kebaikan (yad'un ila al-khair) dan menyuruh kepa­da yang ma'ruf (ya'murun bi alm'ruf), dan mencegah kemungkaran (yanhauna 'an al-munkar). Kalangan mufassir menafsirkan kata al-khair sebagai kebaikan yang bersifat particular, termasuk di dalamnya karifan lokal (local wishdom). Sedangkan kata al-ma'ruf lebih bermakna kebaikan yang bersifat uni­versal. Untuk kebaikan particular masih perlu digunakan pendekatan persuasif, dari bawah ke atas (da'wah). Sedangkan kebenaran uni­versal yang sudah menjadi common sense sudah perlu ditegaskan (amr). Perincian khaira ummah dijelaskan dalam ayat beri­kutnya: Menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Penjabaran konsep khaira ummah da­lam ayat tersebut di atas menurut kalangan tafsir ialah menebarkan energi positif teru­tama kepada umat manusia tanpa membe­dakan jenis kelamin, golongan, etnik, ke­waarganegaraan, warna kulit, agama, dan kepercayaannya masing-masing. Tidak ter­masuk khaira ummah bagi orang yang suka menghina dan menghujat orang lain. Kebe­naran dan keadilan memang perlu ditegak­kan tetapi dengan cara-cara terhormat dan bermartabat. Allah Swt mengenyampingkan pendekatan kekerasan di dalam menyele­saikan persoalan umat. Atas nama apapun, untuk siapapun, kepada siapapun, dan dari manapun, kekerasan tidak pernah ada tem­patnya di dalam Islam. Allah Swt sendiri me­negaskan: La ikraha fi al-din (Tidak ada pak­saan untuk (memasuki) agama (Islam)/Q.S. al-Baqarah/2:256). Allah Swt menegaskan perlunya mengutamakan pendekatan ke­manusiaan di dalam menyelesaikan setiap persoalan di antara umat manusia, Karena Allah Swt sendiri memuliakan manusia tan­pa membedakan etnik, agama, dan keper­cayaan, sebagaimana ditegaskan: Wa laqad karramna Bani Adam (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam/Q.S. Al-Isra'/17:70).
Lomba Foto SelfiePilpres2019

Umat yang ideal selalu menebarkan ke­damaian, persaudaraan, kerjasama satu sama lain. Dalam Islam tidak ada larangan untuk berbuat baik dan bekerjasama dengan orang-orang non-muslim. Nabi Muhammad Saw sendiri mencontohkan terbuka men­erima kehadiran non-muslim di dalam ling­kungan pemerintahannya. Salman al-Farisi, arsitek perang Nabi, sudah lama bergabung dengan Nabi seblum ia menjadi muallaf di akhir hayat Nabi. Demikian pula praktek para sahabat dan tabi'in, selalu memberi ruang terhadap kelompok non-muslim. 

Kolom Komentar


Video

Sebelum Sandi, Jokowi Pernah Janji Hapus Ujian Nasional

Jumat, 22 Maret 2019
Video

PSI: Jokowi Anjlok Karena Korupsi Parpol Pendukung

Jumat, 22 Maret 2019
loading