Revolusi Industri 4.0 Atau Society 5.0?

Rabu, 20 Februari 2019, 22:20 WIB

Ilustrasi/Net

SEBANYAK 52,6 juta lapangan kerja di Indonesia terancam tergantikan oleh sistem otomatis jika kita mengutip kajian McKinsey Global Institute.

Dalam studi terbarunya, konsultan manajemen multi nasional itu bahkan memperkirakan sekitar 800 juta pekerja di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan pada 2030. Sementara, World Economic Forum pada September lalu merilis laporan bertajuk 'Future of Jobs Report 2018.' Di mana, diketahui beberapa pekerjaan tidak lagi dibutuhkan dan akan digantikan dengan profesi baru mulai tahun 2022.

Beberapa pekerjaan dimaksud antara lain input data atau data entri akan digantikan dengan data analyst, akunting dan payroll diperkirakan digantikan AI atau kecerdasan buatan dan machine learning specialist, dan perakitan serta pekerja pabrik akan diganti analis data spesialis.
Lomba Foto SelfiePilpres2019

Pemerintah harus mampu mengantisipasi pekerjaan baru yang muncul dan pekerjaan lama yang hilang di era Industri 4.0. pemeritah harus menyadari hal tersebut karena akan ada pekerjaan baru yang muncul dan pekerjaan lama yang hilang di era Industri 4.0.  

Saat  kita masuk era Revolusi Industri 4.0. maka akan ada 3,7 juta pekerjaan baru akan muncul sebagai dampak ekonomi digital dan 52,6 juta pekerjaan berpotensi hilang.

Pertanyaannya kemudian apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi ancaman PHK (pemutusan hubungan kerja) besar-besaran?

Bayangkan ada 52,6 juta pekerjaan berpotensi hilang, sementara pekerjaan baru yang akan muncul hanya 3,7 juta. Padahal selama ini yang digembar-gemborkan pemerintah adalah pelatihan dan peningkatan keterampilan untuk mengisi pekerjaan baru yang tersedia. Lalu pertanyaan berikutnya  adalah bagaimana dengan jutaan pekerja yang terancam kehilangan pekerjaan. Apa perlindungan yang telah disiapkan oleh pemerintah?

Jepang melounching society 5.0 pada tanggal 21 Januari 2019. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi revolusi 4.0. yang akan mendegradasi peran manusia. Untuk itualah konsep society 5.0 sebagai jawabannya. Yaitu sebuah konsep yang berpusat pada manusia dengan menggunakan basis teknologi. Konsep ini menyebabkan manusia tidak kehilangan peranya dalam era digital. Manusia sebagai  masyarakat tetap hidup sebagai pusat peradaban.

Oleh karena itu perlu adanya regulasi untuk melindungi pekerja dari ancaman kehilangan pekerjaan. Sebab, Revolusi Industri 4.0 adalah keniscayaan yang tidak bisa dihentikan. Tetapi pemerintah harus melakukan langkah-langkah untuk menghindari dampak terburuk bagi kaum buruh, apalagi ditengah bonus demografi yang dihadapi oleh indonesia di tahun 2035.

Untuk itulah society 5.0 adalah jawaban atas masalah yang timbul di era revolusi industri 4.0, dimana manusia sebagai pusat perdaban yg berbasis teknologi. Jangan sampai terbalik manusia menjadi korban teknologi yang tumbuh berkembang....[***]

Helmi Adam
Direktur Yayasan Syafaat Indonesia
Editor: Ade Mulyana

Kolom Komentar


Video

Sebelum Sandi, Jokowi Pernah Janji Hapus Ujian Nasional

Jumat, 22 Maret 2019
Video

PSI: Jokowi Anjlok Karena Korupsi Parpol Pendukung

Jumat, 22 Maret 2019
loading