Jokowi Apresiasi Keberhasilan Petani Jagung Dan Padi

Senin, 18 Februari 2019, 01:22 WIB | Laporan: Elitha Tarigan

Ilustrasi/Net

RMOL. Calon petahana Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengapresiasi peran petani jagung di sejumlah daerah yang bekerja keras meningkatkan angka produksi hingga 3,3 juta ton, sehingga Indonesia mampu mengurangi impor secara drastis.

"Terima kasih pada para petani jagung karena Indonesia berhasil produksi 3,3 juta ton jagung. Sehingga impor kita turun drastis dari 3,5 juta ton per tahun menjadi 180 ribu ton tahun lalu," katanya dalam Debat Pilpres 2019 putaran dua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2).

Menurut Jokowi, para petani sangat berjasa karena telah berkontribusi besar pada stabilnya harga dan terpenuhinya pasokan stok. Di samping itu, keberhasilan ditopang oleh kerja keras pemerintah yang memotong rantai pasok komoditas pertanian.
Partai Berkarya

"Semua itu kami kerjakan agar petani dan konsumen menikmati harga yang sangat layak," katanya.

Jokowi mengaku bangga karena usaha petani dan kerja keras pemerintah mampu bersinergi secara baik untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045. Apalagi, produksi jagung selama empat tahun terakhir sudah mencukupi kebutuhan pakan ternak secara menyeluruh di seluruh daerah.

Selain jagung, Jokowi juga mengapresiasi petani padi yang juga berhasil menurunkan impor pada tahun 2014. Kemudian situasinya berubah drastis karena Indonesia mampu mencapai swasembada sesuai ketetapan Food and Agriculture (FAO), di mana produksi Indonesia sudah 90 persen mencukupi kebutuhan.

"Di bidang beras sejak tahun 2014 impor kita turun dan produksi beras kita sudah swasembada. 2018 produksi 33 juta ton beras, konsumsi kita 29,6 juta. Artinya ada surplus sebanyak tiga juta ton. Kemudian kenapa kita impor, kebijakan itu untuk stok dan cadangan ketika kita mengalami gagal panen, bencana dan lain-lain," papar Jokowi.

Menurut Jokowi, tantangan pemerintah yang perlu diselesaikan secara cepat adalah menjaga keseimbangan harga. Langkah menstabilkan harga perlu agar para perani senang dan untung.

"Kalau kita hanya menaikkan harga, masyarakat pasti menjerit. Di sinilah fungsi pemerintah agar dua-duanya mendapat keuntungan," katanya.

Diketahui, sejak 2014, rekomendasi pemasukan jagung sebagai pakan ternak mencapai 3,16 juta ton. Angka itu menurun pada 2015 menjadi 13,34 persen atau 2,74 juta ton. Selanjutnya menurun drastis pada 2016 sebesar 67,73 persen atau 884,6 ribu ton. Kemudian zero impor di tahun 2017.

Sektor jagung sebagai salah satu komponen bahan pakan telah berkontribusi besar hingga 40-50 persen. Setidaknya diperlukan jagung sebanyak 7,8 juta ton untuk industri pakan dan 2,5 juta ton untuk peternak mandiri dari total produksi pakan tahun 2018 yang mencapai 19,4 juta ton.

Sebagaimana rujukan data, dalam kurun waktu 1993-2015, Indonesia mengalami pergeseran sentra produksi jagung dari Pulau Jawa ke Sumatera dan wilayah timur seperti Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Meskipun dominasi produksi jagung tetap di Jawa, namun terjadi pergeseran dari 62,26 persen pada 1993 menjadi 54,1 persen pada 2015.

Di Pulau Sumatera, kenaikan produksi jagung dari 16,27 persen menjadi 21,7 persen dan Sulawesi dari 11,86 persen menjadi 14,1 persen. Sementara itu dari 90 pabrik pakan saat ini masih terpusat di dua pulau besar yaitu Jawa sebanyak 65 pabrik atau 72,2 persen dan Sumatera sebanyak 19 pabrik atau 21,1 persen.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menanggapi secara detail bahwa sejak 2014 rekomendasi pemasukan jagung sebagai pakan ternak mencapai 3,16 juta ton. Rekomendasi itu dikeluarkan Ditjen PKH.

"Jadi saya yang tahu datanya, sejak 2014 rekomendasi impor terus menurun dan pada tahun 2018 kami hanya mengeluarkan rekomendasi impor jagung pakan ternak sebanyak 73 ribu ton yang digunakan sebagai cadangan pemerintah melalui rakortas dengan pelaksana impor jagung adalah Bulog," jelas Diarmita.

Dia mengatakan, data impor jagung yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik maupun Kementan terdiri dari beberapa kode Harmonized System (HS) dan bukan merupakan produk tunggal. Dengan demikian, data impor secara keseluruhan bukan sebagai bahan pakan. Menurutnya, data impor yang ada adalah jagung segar maupun olahan.

"Jagung segar itu bisa berupa jagung bibit, jagung brondong dan jenis jagung segar lainnya. Sedangkan jagung olahan bisa berupa maizena, jagung giling, pati jagung, minyak jagung, sekam, dedak, bungkil dan residu. Inilah yang perlu kita pahami bersama bahwa tidak ada kode HS khusus jagung yang digunakan untuk pakan dan penggunaan jagung segar," jelas Diarmita.

Lanjutnya, jagung sebagai komoditas pangan strategis kedua setelah padi juga sebagai salah satu bahan pakan utama dalam formulasi pakan, sampai akhir 2017 rekomendasi pemasukannya melalui Kementan.

"Yang jagung untuk pakan rekomendasi dikeluarkan oleh Kementan. Sedangkan selain untuk pakan rekomendasi impor oleh kementerian lain," demikian Diarmita. [wah] 

Kolom Komentar


Video

Aplikasi Pengawal TPS Di Pemilu 2019

Senin, 25 Maret 2019
Video

Utamakan Guru Honorer Ketimbang Pengangguran

Senin, 25 Maret 2019
Video

Kampanye Terbuka, Kedua Paslon Langgar Peraturan

Senin, 25 Maret 2019
loading