Wonogiri Panen Jagung 37 Ribu Hektare Di Lahan Berbatu

Selasa, 12 Februari 2019, 19:51 WIB | Laporan: Elitha Tarigan

Panen raya jagung di Wonogiri/RMOL

RMOL. Lahan pertanian di Provinsi Jawa Tengah saat ini memasuki panen raya jagung.

Tercatat, luasan panen mencapai 145 ribu hektare dan pada Maret 48 ribu hektare terutama di Grobogan, Blora, dan Wonogiri.

"Luas panen jagung Wonogiri pada Februari 2019 mencapai 37 ribu hektare, diantaranya di Kecamatan Pracimantoro 5.874 hektare dan saat ini di Desa Watangrejo panen 453 hektare. Produktivitas 7,3 ton per hektare," kata Kadis Pertanian dan Pangan Kabupaten Wonogiri Sapuan saat acara panen raya jagung bersama Dirjen Hortikultura Kementan Suwandi selaku penanggung jawab Program Upaya Khusus Padi, Jagung dan Kedelai (Upsus Pajale) Jateng di Desa Watangrejo, Wonogiri, Selasa (12/2).

Sapuan menjelaskan, pada umumnya di daerah pegunungan lahan kering petani menanam secara tumpang sari yakni padi-jagung-singkong, jagung-singkong-kacang tanah dan lainnya. Bahkan tanaman salip-salipan belum dipanen sudah disusul tanam berikutnya.

"Wilayah sini kebanyakan lahan berbatu tandus dan diurug tanah untuk ditanami. Walaupun mengandalkan air dari hujan, tapi lahan dimanfaatkan optimal, tidak ada lahan yang tidak ditanami, pekarangan rumah pun ditanami buah dan sayuran," ujarnya.

Sementara itu, Giman selaku ketua Kelompok Tani Sidorejo mengatakan, saat ini harga jagung di petani mencapai Rp 4.200 per kilogram pipilan kering. Harga sudah turun dibandingkan pekan lalu Rp 4.500 sampai Rp 4.700 per kilogram.

"Sedangkan harga di pasar Rp 5.200 per kilogram. Kadar air jagung yang habis dipanen adalah 27 persen," katanya.

Pada panen raya kali ini, Dirjen Hortikultura Suwandi mengapresiasi keberhasilan petani yang mampu memanfaatkan lahan yang relatif tandus untuk bisa ditanami jagung secara optimal. Pasalnya, lahan yang ditanami jagung sebelumnya berupa batu padas kemudian dilakukan reklamasi dengan menambahkan tanah subur.

"Saya sangat bahagia hari ini karena petani di Desa Watangrejo ternyata mampu memanfaatkan tanah pertanian yang relatif tandus ini untuk bisa ditanami dengan optimal. Ke depannya agar petani tetap mengusahakan lahannya dengan baik dengan cara menggunakan pupuk organik," ujarnya.

Terkait usulan petani yang meminta bantuan cultivator dan alat pemipil jagung, Suwandi menjelaskan agar usulan dapat melalui dinas pertanian kabupaten.

Dalam kesempatan tersebut, Suwandi juga membagikan bantuan gratis benih sayuran kepada petani seperti cabai, ketimun, dan jagung manis. Dia juga meminta peternak agar mengambil jagung dari petani di Jateng dan Jatim yang saat ini sedang banjir jagung.

"Panen melimpah dan harga lebih murah. Silakan para peternak unggas sekarang ambil jagung dari petani di Jateng dan Jatim," jelasnya.

Ditambahkan Suwandi, pada 2015, Indonesia impor jagung 3,5 juta ton setara Rp 10 triliun. Namun demikian, berkat program Kementan di bawah komando Mentan Andi Amran Sulaiman bisa menekan impor sehingga 2016 impor turun drastis dan 2017 tidak ada impor jagung pakan ternak.

Bahkan, di tahun 2018 sudah ekspor jagung yang totalnya 341 ribu ton. Merupakan prestasi luar biasa para petani dan semua pihak sehingga bisa membalikkan Indonesia dari negara importir menjadi eksportir jagung.

"Produksi jagung harus kita tingkatkan ke depan. Saya mengharapkan para petani tetap semangat melakukan usaha tani dengan memproduksi pangan lokal menghimbau agar mengonsumsi pangan lokal serta mencintai produk dalam negeri," pungkas Suwandi. [wah]

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading