ROAD TO SENAYAN

Efin Nurtjahja Berjuang Untuk Menjaga Dan Mengaktualisasikan Nilai Luhur ‘Ulun Lappung’

Sabtu, 12 Januari 2019, 23:40 WIB | Laporan: Yelas Kaparino

Efin Nurtjahja G/RMOLLampung

RMOL. Perkumpulan Peduli Nusantara (Pinus) tak ada hentinya menggelorakan nilai-nilai luhur 'Ulun Lappung' (orang Lampung) yang sangat khas, yakni ‘bejuluk beadek’ (bergelar adat), 'nengah nyappur' (sikap suka bergaul), 'sakai sambaiyan' (tolong menolong/gotong royong) dan ‘nemui nyimah’ (kepedulian/kerukunan/setia kawan).

Menurut Efin Nurtjahja G, Ketua Pinus, tanpa disadari dalam keseharian kita, cara hidup kita, cara berinteraksi kita merupakan cerminan budaya yang hidup di suatu masyarakat.
 
Dalam tatanan nilai tersebut, jelas calon anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) I Lampung ini, nilai luhur 'nengah nyappur' menunjukkan bahwa orang Lampung suka bergaul, suka bersahabat dan toleran antar sesama.
 
“Masyarakat Lampung mengutamakan rasa kekeluargaan dan didukung dengan sikap suka bergaul dan bersahabat dengan siapa saja, tidak membedakan suku, agama, tingkatan, asal usul dan golongan,” ujar Efin Nurtjahja kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (12/1).

Melalui program Pinus, ungkap caleg Partai Golkar ini, sikap egaliter ‘ulun lappung’ (orang Lampung) terlihat dari mudahnya menerima pendatang dan hidup bersama dalam keberagaman budaya yang dihidupkan melalui nilai 'sakai sambayan' atau hidup penuh dengan sikap gotong royong akan terus diaktualisasikan.
 
Efin Nurtjahja menyadari, untuk menjaga dan mengaktualisasikan nilai-nilai luhur ‘ulun lappung’ tidak cukup hanya melalui Pinus. Perlu keterlibatan banyak pihak. Terutama kebijakan yang jelas dari pemerintah.
 
“Ini salah satu alasan saya berjuang untuk menjadi anggota legislatif. Melalui kebijakan pemerintah pusat dan kerja legislasi DPR RI, tentu akan lebih mempercepat program-program di bidang budaya, pemberdayaan perempuan, dan pendidikan di Provinsi Lampung,” ujarnya.

Kata Efin, pengayaan budaya di Provinsi Lampung akan semakin kental. Sebab letak geografis Lampung yang menjadi pintu gerbang selatan Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa menjadi sebuah keniscayaan untuk terjadinya percampuran budaya.
 
“Disini arti pentingnya untuk terus mengaktualisasikan nilai-nilai luhur ‘ulun lappung’. Selain agar kita tetap memelihara nilai-nilai yang ada, juga agar orang Lampung tidak tercerabut dari akar budayanya,” ungkapnya.

Prilaku 'nengah nyappur' dan 'sakai sambaiyan' saja, terang Efin, bisa merukunkan dan menyejukkan kehidupan sosial masyarakat Lampung. Prinsip-prinsip hidup tersebut memiliki daya ikat yang kuat untuk membangun masyarakat Lampung agar kian bermartabat. [yls]
Editor: RMOL

Kolom Komentar


Video

Prabowo: Kita Menang, Jangan Lengah!

Rabu, 17 April 2019
Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
loading