Dr. H. Oesman Sapta

Pembelaan Diri Erick Thohir

Publika  KAMIS, 06 DESEMBER 2018 , 12:00:00 WIB

Pembelaan Diri Erick Thohir

Erick Thohir/Net

PEMILIK Harian Umum Republika, Erick Thohir hari ini menulis sebuah opini pendek berjudul : "Saya, Republika, dan 212."

Tulisan itu sebagai respon ramainya sorotan publik atas pemberitaan media yang tidak menyiarkan secara proporsional Reuni Akbar  212.

Sejumlah wartawan senior secara keras menyoroti itu dan melakukan kritik. Wartawan senior Hersubeno Arief yang sekarang menjadi konsultan politik dan Media, melalui serangkaian opininya menyebut sebagai ”Bunuh Diri Pers Indonesia.”

Wartawan senior Ilham Bintang yang juga penasehat PWI saking kecewanya sampai menyatakan "Rakyat telah mencabut media mainstream dari sanubarinya!”

Sementara M Nigara, seorang wartawan senior yang sering kita lihat memandu acara tinju di stasiun televisi menulis dalam nada pilu dan nelangsa. “Netralitas seperti tersapu gelombang. Keberpihakan menjadi terang-benderang. Fakta di depan mata, bukan lagi berita. Mereka telah mengubah jatidiri kewartawanan menjadi pedagang. Mereka telah mengkhianati kejujuran.”

Setiap media, kata Erick, punya kebijakan redaksinya masing-masing yang harus dihormati. Republika memilih menyajikan reuni 212 di halaman satu secara simpatik. Kebijakan editorial ini diambil karena bagaimanapun yang berkumpul dalam reuni tersebut adalah juga anak bangsa. Patut disyukuri, reuni yang melibatkan massa dalam jumlah besar itu berjalan damai dan tertib.

"Pers Indonesia saat ini bukan lagi pers masa lalu. Institusi pers saat ini memiliki tantangan, pilihan, inovasi, dan dinamika yang sangat berwarna. Masing-masing punya argumentasi untuk memilih dan tidak memilih isu untuk disajikan kepada masyarakat," tambah Erick.

Pembelaan diri Erick ini ada kaitannya dengan posisinya sebagai Ketua Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf. Jabatan itu membuat dia dalam posisi dilematis.

Di satu sisi dia pasti sadar bahwa Republika bukanlah sekedar koran biasa. Dia dibangun oleh Habibie sebagai wahana perjuangan umat untuk menyeimbangkan opini. Selama ini media di Indonesia dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tidak bersimpati dengan Islam.

Banyak aktivis yang memilih menjadi wartawan Republika bukan sekedar bekerja, tapi merupakan pilihan idealis, untuk menyuarakan kepentingan umat.

Dengan latar belakang semacam itu, sudah jelas harus dimana posisi Republika.  Sebaliknya dengan posisi sebagai ketua timses, Erick pasti harus membela Jokowi-Ma’ruf.

Aksi 212 meski bukan kegiatan politik, publik sudah mahfum kebanyakan yang hadir adalah penentang Jokowi. Mereka hadir berduyun-duyun, meminjam pernyataan Aa Gym, karena hatinya sakit dituding oleh rezim ini dan para pendukungnya sebagai kelompok radikal. Kelompok intoleran, anti Pancasila, anti NKRI.

Karena itu media-media pendukung pemerintah, dalam bahasa Hersubeno Arief, melakukan black out dan framing. Kompas, Media Indonesia milik Surya Paloh, dan Koran Sindo milik Hary Tanoe membuang berita itu ke halaman dalam. Halaman pembuangan.

Sebaliknya Republika tidak mungkin melakukan itu. Erick mengalami perlawanan di dalam. Mereka tetap memberitakan di halaman depan. Republika juga memuat artikel foto-foto dalam jumlah cukup besar di halaman dalam.

Sikap Erick dan Republika ini bisa jadi persoalan buat media lain yang sudah telanjur diadili oleh publik.  Mereka pasang badan, sementara Erick bermain dua kaki.

Kompas babak belur dihajar publik. Banyak yang berhenti berlangganan. Ada kabar sahamnya juga anjlok.Karena itulah Erick harus buat penjelasan. Posisinya yang ambigu bisa bikin runyam media-media pendukung Jokowi-Ma’ruf. [***]

Djadjang Nurdjaman
Pemerhati Media dan Ruang Publik


Komentar Pembaca
Anggaran R&D Indonesia Rendah, Salah Siapa?
Perang Total Melawan Akal Sehat

Perang Total Melawan Akal Sehat

MINGGU, 17 FEBRUARI 2019

Tergiur Bisnis Avtur

Tergiur Bisnis Avtur

MINGGU, 17 FEBRUARI 2019

Pembohong Patologis

Pembohong Patologis

MINGGU, 17 FEBRUARI 2019

Akal Sehat, Descartes dan Rezim Jokowi

Akal Sehat, Descartes dan Rezim Jokowi

SABTU, 16 FEBRUARI 2019

Indo-Idolatry Pagan

Indo-Idolatry Pagan

SABTU, 16 FEBRUARI 2019

BENANG MERAH (EPS.167): Tak Seirama Di Kubu Petahana
#KataRakyat: Ahok Untungkan Jokowi-Maruf

#KataRakyat: Ahok Untungkan Jokowi-Maruf

, 14 FEBRUARI 2019 , 17:00:00

Tertawa Usai Diperiksa KPK

Tertawa Usai Diperiksa KPK

, 15 FEBRUARI 2019 , 02:52:00

Jumatan Di Kauman

Jumatan Di Kauman

, 15 FEBRUARI 2019 , 13:45:00

Rapur Penutupan DPD

Rapur Penutupan DPD

, 14 FEBRUARI 2019 , 13:38:00

Golkar: Nasdem Lepas Tangan Di <i>Injury Time</i>

Golkar: Nasdem Lepas Tangan Di Injury Time

Politik15 Februari 2019 10:37

Rizal Ramli: Mohon Maaf Pak Jokowi, Anda Tidak Kredibel
Jokowi Ulas Latar Iriana Dan Cucu, Korsa: Pilihan Warga Muhammadiyah Tidak Berubah
Beban Berat Jokowi Menghadapi Debat Kedua

Beban Berat Jokowi Menghadapi Debat Kedua

Hersu Corner17 Februari 2019 15:54

AI Di Ngawi

AI Di Ngawi

Dahlan Iskan18 Februari 2019 05:00

Ahmad Dhani Dikebut, Apa Kabar Kasus Pengeroyokan Yang Diduga Dilakukan Herman Hery?
Milenial Safety Road Di Bali Raih Rekor MURI

Milenial Safety Road Di Bali Raih Rekor MURI

Nusantara18 Februari 2019 05:50

Swasembada Dan Capaian Pertanian Indonesia
AI Di Ngawi

AI Di Ngawi

Dahlan Iskan18 Februari 2019 05:00

Terindikasi Kecurangan, BPN Evaluasi Dengan KPU
Catatan Pejalan

Catatan Pejalan

Rumah Kaca18 Februari 2019 03:20