Mahyudin: Banyak Yang Tak Paham Pancasila Setelah PMP Hilang

Kamis, 18 Oktober 2018, 05:46 WIB | Laporan: Ujang Sunda

Mahyudin/Net

RMOL. Penurunan moral telah terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini ditandai dengan adanya saling hujat antar sesama warga.

Bahkan ada juga sikap tidak hormat kepada orang tua, seperti adanya kasus seorang anak menggugat orang tua ke pengadilan.

Di kalangan atas juga sama rusaknya, yaitu ditandai dengan korupsi yang kian marak.

Begitu kata Wakil Ketua MPR Mahyudin saat memberi pemaparan tentang Sosialisasi Empat Pilar di di Gedung Serbaguna Kecamatan, Sungai Pinang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (17/10).

Menurut politisi Golkar tersebut, penurunan moral terjadi karena pendidikannya sudah tidak diajarkan di sekolah.

“Dulu ada PMP, Pendidikan Moral Pancasila. Ini pelajaran penting. Walau matematika dapat 8, kalau PMP dapat 5, enggak naik kelas. Karena moralnya rendah,” tuturnya.

Setelah reformasi, PMP ini dihapus seiring dengan dibubarkannya BP7. Penggantinya adalah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

"Pendidikan moralnya hilang," cetusnya.

Parahnya lagi, nama pelajaran itu diubah lagi hanya menjadi Pendidikan Kewarganegaraan.

"Pancasilanya juga dihilangkan. Makanya kemudian banyak tak paham Pancasila," tuturnya.

Akibat hal ini, timbul banyak dampak buruk. Masyarakat juga merasakan hal itu.

“Ada kerinduan di masyarakat untuk menghidupkan moral. Karena urusan moral sekarang sudah rusak,” tuturnya.

Menyikapi hal itu, MPR bergerak. Mahyudin menyampaikan langsung ke Presiden dan Menteri Pendidikan untuk memasukkan kembali pendidikan Pancasila di sekolah-sekolah.

“Sekarang dikembalikan lagi ke PPKn,” imbuhnya.

MPR juga terus turun ke masyarakat untuk mensosialisasikan Pancasila. MPR terjun sampai ke daerah-daerah.

“Saya bukan menatar tapi memasyarakatkan moral ini,” paparnya. [ian]

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading