Verified
Hanura

Relevansi Pemikiran Gus Dur Dalam Demokratisasi Indonesia

Politik  JUM'AT, 12 OKTOBER 2018 , 21:59:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

NAMA KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tidak lepas dari pemikiran-pemikiran soal persatuan dan keberagaman. Bukan hanya di Indonesia, Gus Dur juga menginginkan agar persatuan dan toleransi terus terjaga di penjuru dunia.

Saat menjabat Presiden keempat RI, Gus Dur sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama, hak asasi manusia (HAM) serta keberagaman etnis yang ada di nusantara.

Upaya Gus Dur tersebut, salah satunya, terlihat dalam buku berjudul Melanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur yang ditulis A Muhaimin Iskandar yang tidak lain adalah ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), organisasi politik yang kelahirannya juga dibidani Gus Dur pasca bergulirnya Reformasi 1998 dengan basis massa warga Nahdliyyin.

Lewat bukunya, Cak Imin sapaan akrab Muhaimin Iskandar, mencoba mengingatkan kita bahwa pemikiran dan ajaran Gus Dur masih amat relevan dan dibutuhkan sekarang ini.

Seperti terlihat dari masih banyaknya pengikut setia dan pengkaji ajaran Gus Dur yang biasa disebut Gusdurian. Nyatanya, menjelang Pileg dan Pilpres 2019, pasangan capres seolah berlomba untuk mendapatkan simpati Gusdurian. Di mana, beberapa organisasi yang tergabung dalam Konsorsium Kader Gus Dur menyatakan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Terlepas dari dukung mendukung yang hanya bagian dari upaya mencari suara pemilu, peran Gus Dur dalam sejarah politik Indonesia tidak bisa dilupakan.

Meski ditulis tahun 2010 lalu, Cak Imin mencoba menunjukkan bahwa figur seperti Gus Dur merupakan sosok pemimpin yang dibutuhkan Indonesia untuk saat ini. Di mana, Gus Dur telah menuangkan gagasannya seputar masa depan Indonesia dan upaya kebangkitan kembali Indonesia. Salah satunya dengan toleransi antar sesama anak bangsa.

"Gus Dur telah merintis dan mewariskan kepada bangsa ini bagaimana bersikap toleran dan mengintegrasikannya dalam berbagai bidang kehidupan yang nyata," tulis Cak Imin.

Dalam buku setebal 182 halaman yang terbit pada 2010 ini Cak Imin juga menggambarkan perjuangan Gus Dur hingga namanya tetap menjadi bagian sejarah bangsa. Lika liku kehidupan sang ulama dan perannya dalam dunia politik.

Pemikiran dan perjuangan Gus Dur disebut besar karena sifatnya yang melampaui batas-batas agama, etnis, budaya dan bangsa. Pemikiran dan perjuangannya merangkum gagasan-gagasan besar dari berbagai agama, tradisi, budaya dan peradaban manusia, sehingga ia bersifat memayungi semua aspirasi dan kepentingan kelompok masyarakat dari berbagai keyakinan.

Sebagai cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy'ari, Gus Dur memfasilitasi para kiai atau siapapun yang ingin terjun ke dunia politik melalui partai. PKB menjadi satu-satunya partai yang lahir dari NU dan dimaksudkan sebagai alat perjuangan para kiai untuk kemaslahatan masyarakat dan bangsa. Hingga saat ini, PKB menjadi anak tunggal NU secara biologis dan sekaligus ideologis.

Cak Imin menceritakan bagaimana para kiai dan pemimpin NU merancang PKB sebagai partai dengan visi dan pemikiran terbuka yang sepenuhnya mewakili dan mewarisi tradisi NU yang berbasis pada peradaban ilmu kalam, fiqih, tasawuf yang tertanam kokoh dan berkembang subur sejak ribuan tahun lalu.

Di sini, Cak Imin juga menyampaikan secara gamblang peranan Gus Dur yang disebutnya sebagai perawat tradisi dan penjaga demokrasi, upaya pergulatan dalam Islam dan NKRI, transformasi bangsa dan demokratisasi hingga ajakan belajar politik kepada Gus Dur.

Cak Imin seolah enggan mengesampingkan jasa Gus Dur yang banyak membantunya dalam melakoni perpolitikan nasional. Meskipun dalam beberapa bulan terakhir masa hidupnya, Gus Dur -karena pengaruh beberapa orang yang ingin merebut kekuasaan di PKB- sering menyerang Cak Imin tetapi dia tetap hormat kepada Gus Dur dan sabar menerima itu semua.

Menurutnya, begitulah cara dan gaya Gus Dur membesarkan kader-kader muda NU sehingga tangguh dan matang secara politik.

Secara tidak langsung buku yang diterbitkan LKiS Yogyakarta ini juga merupakan otobiografi Gus Dur, seorang ulama yang menjadi pemimpin Indonesia di awal era Reformasi. Di mana, mencatat pemikiran dan perjuangan Gus Dur yang terekam baik oleh Cak Imin selaku salah satu kader NU.

Cak Imin menyusun dengan baik perjuangan dan peranan Gus Dur dalam 17 judul tulisan secara berurutan. Ibarat pepatah 'from zero to hero.

Buku dengan katagori bacaan umum ini amat layak dibaca oleh siapapun yang ingin mengetahui lebih jauh pemikiran dan ide-ide Gus Dur yang tak lekang dimakan waktu. Ataupun hanya ingin sekadar mengetahui apa saja yang sudah dilakukan Gus Dur semasa hidup.

Dengan gaya bahasa lugas dan mudah dipahami, siapapun dapat mempertimbangkan kembali relevansi pemikiran-pemikiran Gus Dur lewat salah satu karya mantan menteri tenaga kerja dan transmigrasi tersebut.[dem]
Rumah DP 0 Rupiah Resmi Diluncurkan

Rumah DP 0 Rupiah Resmi Diluncurkan

, 12 OKTOBER 2018 , 17:00:00

Jokowi Promosikan Dangdut Ke Dunia

Jokowi Promosikan Dangdut Ke Dunia

, 12 OKTOBER 2018 , 15:00:00

Chicha Koeswoyo dan Revolusi Senyap

Chicha Koeswoyo dan Revolusi Senyap

, 10 OKTOBER 2018 , 19:59:00

Peluncuran Buku Papua Ethnography

Peluncuran Buku Papua Ethnography

, 13 OKTOBER 2018 , 06:49:00

Sisa Puing Gempa

Sisa Puing Gempa

, 12 OKTOBER 2018 , 06:03:00