Hanura

Dear Haters, Stop Cyberbullying, Please!

Suara Publik  MINGGU, 07 OKTOBER 2018 , 10:08:00 WIB

ASOSIASI Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melakukan penelitian mengenai jumlah pengguna internet di Indonesia.

Dari hasil yang didapatkan diketahui bahwa terdapat kenaikan pengguna internet dari tahun 2016 ke 2017 dengan pengguna internet sebelumnya sebanyak  132, 7 juta jiwa menjadi 143, 26 juta jiwa atau setara dengan 54, 7 persen separuh total populasi di Indonesia. Berdasarkan penelitian tersebut juga diketahui komposisi pengguna internet di Indonesia paling banyak adalah berusia berusia 19-34 tahun.

Saat ini banyak media sosial yang populer dan digunakan oleh para pengguna internet misalnya Facebook, Twitter dan Instagram. Dengan adanya media sosial  membuat semua orang dapat berhubungan dengan orang lain diseluruh dunia. Indonesia sendiri menjadi komunitas terbesar Instagram di Asia Pasifik.

Dalam media sosial, pengguna dapat berbagi tulisan atau gambar dengan orang lain dan pembaca dapat memberikan komentar kepada pemiliknya. Sayangnya, media sosial memiliki dampak negatif yang saat ini menjadi perhatian yaitu sebagai tempat untuk melakukan bullying. Olweus seorang profesor psikologi yang ahli dalam bullying, mendefinisikan bullying sebagai perilaku negatif dimana seseorang menyakiti orang lain baik secara verbal dan fisik sehingga membuat mereka merasa tidak nyaman.

Saat ini, bullying tidak hanya dilakukan secara langsung tetapi bullying juga terjadi di dunia internet atau bisa disebut dengan cyberbullying.

Cyberbullying sama dengan perudungan atau bullying yang terjadi pada umumnya. Namun cyberbullying dilakukan melalui media teks elektronik dan pada umumnya banyak terjadi di media sosial.

Seorang peneliti psikologi bernama Madan dalam penelitiannya menemukan bahwa pelaku cyberbullying menempatkan target dengan melakukan penyerangan yang menghina, mengancam dan atau pesan yang mengandung seksualitas atau gambar yang disampaikan menggunakan websites, pesan singkat, blog, chat, ponsel, email dan profil daring pribadi. Kemudian, jika diperhatikan dari sisi korban, dari beberapa penelitian dikatakan bahwa cyberbullying dapat meningkatkan depresi, kecemasan dan gejala psikosomatis pada korban.

Mereka juga merasa lebih tidak efektif secara sosial dan memiliki kesulitan interpersonal yang lebih besar, sering absen sekolah dan memiliki kompetensi akademik yang lebih rendah, bahkan dampak terburuk adalah korban menjadi depresi dan memiliki ide untuk bunuh diri kemudian melakukannya.

Lembaga donasi anti-bullying Ditch The Label melakukan survei di UK dan menemukan bahwa salah satu media sosial yang paling sering digunakan saat ini untuk melakukan cyberbullying adalah Instagram. Dari survei juga menunjukkan bahwa cyberbullying tersebar luas dengan hampir 88 persen anak muda mengaku melakukan cyberbullying dan 12 persen mengaku telah menjadi korban cyberbullying.  

Menurut para pemuda yang berpartisipasi dalam penelitian yang dilakukan oleh  Vandebosch, & Cleemput dalam penelitian “Defining Cyberbullying: A Qualitative Research into the Perceptions of Youngster” dikatakan bahwa tujuan dari pelaku cyberbullying adalah benar-benar ingin menyakiti perasaan orang lain, pada beberapa kasus ada yang melakukan cyber jokes dan tidak dimaksudkan untuk menyebabkan perasaan negatif korban.

Namun, para pemuda tersebut juga mengakui bahwa mungkin ada perbedaan antara hal-hal yang dimaksud dan perbedaan pada persepsi seseorang. Sehingga apa yang sebetulnya dianggap beberapa orang sebagai lelucon tetapi ternyata dianggap sebagai serangan agresif oleh korban.

Dari beberapa orang ada juga yang mengatakan bahwa alasan mereka melakukan cyberbullying untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah menyerang atau melecehkannya. Disisi lain, ada juga orang-orang yang melakukan cyberbullying hanya untuk bersenang-senang, karena bosan, atau ingin menunjukkan kemampuan mereka. Inilah yang saat ini dikenal para netizen dengan sebutan “haters”.

Lantas, apakah yang membuat seseorang melakukan cyberbullying? Bagaimanakah peran kepribadian terhadap pelaku cyberbullying?

Kepribadian manusia menurut teori yang dikemukakan oleh Costa & Mcrae yang merupakan ahli dalam bidang psikologi kepribadian terdiri dari lima sifat yaitu Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness dan Neuroticism.

 Dari kelima sifat tersebut berdasarkan penelitian yang ada, sifat Exraversion dan Agreeableness memiliki keterkaitan yang paling erat diantara sifat yang lain pada pelaku cyberbullying. Individu yang memiliki sifat Extraversion yang tinggi cenderung ramah, tegas, energik, berani, antusias dan sociable. Sedangkan individu yang tinggi pada sifat agreeableness cenderung memaafkan, tidak menuntut, suka menolong, tidak keras kepala, tidak suka pamer dan bersimpati.

Dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan ternyata ditemukan bahwa individu yang cenderung melakukan cyberbullying adalah individu yang memiliki tingkat sifat extraversion yang tinggi dan agreeableness yang rendah dalam dirinya.

Semakin tinggi sifat agreeableness seseorang maka semakin rendah keinginan seseorang untuk melakukan perilaku cyberbullying. Sedangkat pada sifat extraversion, ternyata diketahui bahwa semakin tinggi sifat extraversion seseorang maka semakin tinggi pula kecenderungan seseorang dalam melakukan cyberbullying terhadap orang lain.

Dengan adanya tipe atau sifat kepribadian yang berhubungan dengan kecenderungan pada perilaku cybeburllying maka, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah bahkan menghentikan perilaku cyberbullying.

Pertama yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kesadaran mereka. Pelaku harus diberikan kesadaran bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan berakibat buruk kepada orang lain. Kedua, pelaku cyberbullying dapat diberikan intervensi oleh professional untuk melakukan perubahan perilaku. Ketiga, pemerintah dapat memberikan hukuman bagi pelaku.

Pemerintah juga perlu memberlakukan aturan-aturan atau hukum bagi pelaku cyberbullying dan mensosialiasikannya. Karena ternyata dari suatu penelitian dikatakan bahwa korban yang pernah menerima cyberbullying akan melakukan hal yang sama kepada orang lain nantinya, sehingga ini akan menjadi lingkaran yang tidak akan ada habisnya.

Sedangkan pada seseorang yang menjadi korban, ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu pertama mereka diberikan kesadaran terutama oleh orang-orang terdekat mengenai informasi tentang masalah ini dan memberikan pengertian bahwa cyberbullying bukanlah masalah yang biasa dan dapat diabaikan.

Kedua, pemerintah dapat bertindak dalam melakukan pencegahan terhadap terjadinya cyberbullying. Kita dapat mencontoh negara New Zealand yang membuat web khusus untuk masyarakat mengenai apa yang harus diketahui dan tindakan apa yang harus dilakukan dalam menggunakan internet atau disebut cyber safety. Hal ini juga dapat dilakukan pemerintah kita dan disosialisasikan, sehingga masing-masing orang mampu mencegah terjadinya hal buruk terjadi.

Tindakan yang dapat dilakukan seperti yang disebutkan dalam situs tersebut untuk mencegah cyberbullying antara lain membatasi informasi diri, karena dengan adanya informasi diri seseorang dapat memudahkan seseorang untuk mengidentifikasi mereka sebagai korban. Kemudian, ada baiknya menghindari suatu pertengkaran atau permusuhan.

Individu berusaha untuk mengabaikan isu yang ada sehingga tidak memancing pelaku untuk melakukan cyberbullying. Jika seseorang mengalami cyberbullying dokumentasikanlah kejadian tersebut dan lebih baik melaporkan tindakan cyberbullying kepada pihak yang berwenang.

Untuk menghindari terjadinya cyberbullying lakukan sesuatu yang bermanfaat di dunia internet, kemudian jika ingin posting sesuatu peruntukkan hanya mengenai dan untuk orang-orang yang anda ketahui atau terdekat. Pada anak-anak, orang tua bisa bertindak dengan melakukan kontrol melalui provider internet dengan membatasi usia pengguna dan situs yang mengandung konten seksualitas, kebencian, kekerasan, penggunaan alkohol, rokok atau obat-obatan. [***]


Lutfiyah

Mahasiswi Magister Ilmu Psikologi Kepribadian Universitas Indonesia (UI)



Komentar Pembaca
Islamophobia

Islamophobia

MINGGU, 16 DESEMBER 2018

Kerinduan Akan Pemimpin Pro-Umat Semakin Tak Terbendung
Jakarta Paska 212

Jakarta Paska 212

SABTU, 15 DESEMBER 2018

Lion Air Belum Berubah, Tetap Tidak Profesional
Ratna Sarumpaet Dan La Nyalla Dimana Bedanya?
Antara La Nyalla,  Usamah Hisyam, dan Jokowi
Harga Sawit Turun, Ini Beda Solusi SBY dan Jokowi
Hadiri Undangan, Prabowo Naik Ojol

Hadiri Undangan, Prabowo Naik Ojol

, 17 DESEMBER 2018 , 13:00:00

Salam Dari AHY Dan UAS

Salam Dari AHY Dan UAS

, 17 DESEMBER 2018 , 10:19:00

Dibonceng Ojek Online

Dibonceng Ojek Online

, 16 DESEMBER 2018 , 17:45:00

Anies Sambut Jakmania

Anies Sambut Jakmania

, 16 DESEMBER 2018 , 03:34:00