Dubes Zaheredin: Indonesia Mendukung Persatuan Kami

Minggu, 30 September 2018, 00:20 WIB | Oleh: Teguh Santosa

Dutabesar Republik Arab Suriah Ziad Zaheredin/RMOL

SETELAH dua tahun bertugas sebagai Dutabesar Republik Arab Suriah di Jakarta, DR. Ziad Zaheredin semakin memahami bahwa Indonesia dan Suriah memiliki banyak persamaan. Sama-sama negeri muslim yang moderat, menghargai keberagaman, dan memiliki sejarah yang panjang.

Kedua negara juga memiliki hubungan baik sejak lama. Setidaknya sejak tahun 1947, ketika Suriah menyampaikan dukungan kepada kemerdekaan Indonesia di hadapan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Yang Mulia Dubes Zaheredin menyambut redaksi di kantornya yang asri di kawasan Mega Kuningan. Selain membahas masa depan hubungan kedua negara, pembicaraan dengan pria kelahiran Damaskus tahun 1968 ini juga menyentuh situasi terkini di Suriah. Pemerintahan Bashar al Assad kembali pulih dan menguasai kembali wilayah yang sempat diduduki pemberontak dan kelompok teroris ISIS.

Berikut petikan dari pembicaraan yang ditemani kopi khas Suriah itu:

Pertanyaan pertama saya mengenai hubungan Indonesia dan Suriah. Bisa Anda gambarkan bagaimana hubungan kedua negara?

Saya sering mendapatkan pertanyaan ini. Saya punya sesuatu yang menarik. Saya ingin mengatakan tentang sejarah hubungan kedua negara ini. Hubungan kami dengan Indonesia sudah terjalin lama. Ketika Suriah duduk sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB di tahun 1947, diplomat Suriah DR. Fares al Khoury dalam Sidang Majelis Umum meminta agar Indonesia diakui sebagai negara independen.

Setelah itu, hubungan historis ini berlangsung terus. Di tahun 1951 Indonesia membuka Kedutaan Besar di Damaskus, dan setelah itu semakin meluas dan berkembang, ditandai dengan banyaknya kegiatan saling kunjung antara kedua negara.

Presiden Sukarno berkunjung ke Suriah pada tahun 1957 dan bertemu Presiden Suriah ketika itu Shukri al Quwatli. Lalu di tahun 1977 Presiden Soeharto berkunjung ke Suriah dan bertemu dengan Presiden Hafez al Assad. Setelah itu kunjungan resmi antara kedua negara terus berlanjut.

Kita baru saja menyaksikan penutupan Asian Games 2018, dan kami bangga karena lebih dari 100 atlet pria dan wanita kami ikut dan berpartisipasi dalam pesta olahraga yang mengusung tema Energy of Asia.

Kami percaya ini adalah peluang yang sangat baik, dan kami berterima kasih kepada pemerintah Indonesia yang memiliki kemampuan sangat baik menyelenggarakan event ini dengan sukses. Apalagi Indonesia bisa menduduki tempat nomor empat dalam hal perolehan medali.


Apakah Suriah mendapatkan medali?

Ya, alhamdulillah kami  mendapatkan medali. Tetapi, sahabatku, Anda tahu bahwa Suriah sudah terlalu lama mengalami perang dan alhamdulillah Suriah memenangkan peperangan ini. Atlet-atlet kami sudah kembali aktif di dunia olahraga. Tadinya banyak atlet kami yang ikut bertugas di dinas militer untuk membela kedaulatan negara kami melawan konspirasi internasional ini.

(Suriah memperoleh satu perunggu dalam Asian Games melalui atlet lompat tinggi putra Majededdin Ghazal, dan menduduki urutan ke-37 dalam daftar perolehan medali negara peserta Asian Games 2018.)


Di sektor mana saja Indonesia dan Suriah memiliki hubungan yang kuat?


Dalam situasi seperti ini, KBRI di Damaskus dan Kedubes Suriah di Jakarta masih tetap bekerja. KBRI di Damaskus sangat aktif, mereka menyelenggarakan banyak kegiatan. Saya kira tidak lama lagi Kedubes Indonesia di Damaskus akan menggelar pekan budaya.

Sampai kini Kedubes kami di Jakarta juga tetap bekerja, dan kami menggelar banyak pertemuan dengan pejabat-pejabat di Indonesia. Dan saya kira itulah kenyataan bahwa hubungan Indonesia dan Suriah di sektor politik sangat baik. Pemerintah Indonesia memiliki posisi yang baik dalam melihat situasi di Suriah dan konspirasi internasional melawan negara kami. Indonesia juga memahami posisi pemerintah kami, dan mendukung kesatuan negara kami.




Kini Indonesia kembali menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Menurut Anda, apakah pada periode ini Indonesia dapat menjadi suara Suriah?


Ya, saya yakin Indonesia akan berdiri dan menyuarakan apa yang benar di Dewan Keamanan PBB. Anda dengarkan suara dari begitu banyak organisasi internasional. Kami mendengarkan suara-suara ini yang memiliki nada yang sama, yang membela hukum internasional, keamanan internasional, prinsip-prinsip internasional. Dan ini juga merupakan suara Indonesia. Ini juga suara negara kami. Negara kami dan pemerintahan kami melawan agresi terhadap negara kami yang independen dan berdaulat.

Semua orang harus menyuarakan hal ini. Indonesia memahami benar hal ini, dan saya kira Indonesia selalu menyuarakan hal-hal seperti ini. Kami yakin Indonesia tidak hanya membela negara kami, tetapi juga negara-negara lain yang merasakan hal yang sama dan yang membutuhkan dukungan dari organisasi yang sangat penting di dunia ini.


Selain hubungan politik, apakah ada bentuk kerjasama lain antara kedua negara?

Ya, kedua negara juga berbicara mengenai hubungan ekonomi, hubungan kebudayaan. Sebelum krisis di Suriah, kami melihat bahwa hubungan dagang dengan Indonesia mengalami kenaikan setiap tahun. Kita memiliki volume perdagangan sebesar 100 juta dolar AS pada tahun 2010.

Kita juga sudah membicarakan tentang kehadiran perusahaan-perusahaan besar Indonesia di Suriah. Juga sudah dibicarakan kunjungan banyak delegasi perdagangan ke negara kami. Pada tahun 2010, sebelum krisis terjadi, kita sudah membentuk Dewan Bisnis Indonesia-Suriah. Kita sudah membahas banyak hal. Tetapi, Anda tahu sahabatku, setelah krisis terjadi sebagian dari yang sudah dibicarakan itu terhenti. Kami berharap, selangkah demi selangkah kita akan kembali memulai hubungan ekonomi yang baik, seperti juga hubungan politik.


Jadi saat ini kita tidak memiliki hubungan ekonomi?


Ada, kita punya. Tetapi tidak seperti yang kita harapkan. Kami melihat banyak perusahaan. Setiap minggu ada dokumen-dokumen yang terkait dengan perdagangan di Kedutaan kami. Ada banyak perusahaan, beberapa di antaranya adalah industri makanan, industri pertanian, furnitur, dari Indonesia yang ingin ke Suriah.

Kami berharap perusahaan-perusahaan Indonesia berpartisipasi dalam pembangunan kembali Suriah di banyak sektor. Indonesia memiliki pengalaman yang baik, Indonesia memiliki produk dan manajemen yang baik. Dan kami membuka pintu kami di Suriah untuk perusahaan-perusahaan ini, karena kami selalu melihat Indonesia sebagai sahabat kami.


Untuk tahun lalu, berapa volume perdagangan kedua negara?

Sekitar 40 juta dolar AS dari tahun 2010 sampai 2016. Ini nilai tengah dari volume dagang kedua negara.


Bagaimana dengan produk Suriah di Indonesia?

Saya sudah mengunjungi Kementerian Perdagangan Indonesia. Saya juga sudah bertemu dengan Bapak Alwi Shihab, Utusan Khusus Presiden Joko Widodo untuk Timur Tengah, dan membicarakan masalah ini. Kami ingin melihat produk-produk Suriah juga ada dipasarkan di Indonesia, seperti buah-buahan khas kami, sayur-sayuran. Karena produk-produk ini tidak ada di Indonesia. Dan mungkin bisa datang ke sini dengan harga yang yang pantas untuk masyarakat Indonesia. Kita perlu melakukan beberapa prosedur dan perjanjian untuk memberikan fasilitas agar produk-produk ini bisa datang ke Indonesia.


Jadi, Anda menilai dalam satu atau dua tahun yang akan datang Indonesia dan Suriah akan memiliki semakin banyak hal dalam kerjasama kedua negara?

Ya, tentu saja. Saya berharap itu terjadi. Kita berusaha agar itu semua terjadi. Kami disini mempelajari market di Indonesia.
Editor: Ade Mulyana

Kolom Komentar


Video

Hari Terkelam Bagi Selandia Baru

Jumat, 15 Maret 2019
Video

TKN: Kasus Romi Masalah Pribadi

Jumat, 15 Maret 2019
loading