Hanura

Sosiologi Terorisme (15)

Menyalahi Filosofi Agama

Tau-Litik  JUM'AT, 08 JUNI 2018 , 08:57:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menyalahi Filosofi Agama

Nasaruddin Umar/Net

AGAMA Islam diturunkan untuk memanusiakan ma­nusia. Seperti agama sa­mawi lainnya, kitab suci Is­lam, Al-Qur'an, diturunkan dari langit kemudian ditu­runkan ke bumi dalam dua proses penurunan, yang dikenal dengan cara al-in­zal dan al-tanzil. Dari diri Allah (kalam al-dzati) ke Lauh al-Mahfudh turun sekaligus (al-inzal), kemudian dari Lauh al-Mahfudh ke bumi mela­lui perantaraan Jibril turun berangsur-sngsur (al-tanzil). Kitab suci ini diturunkan dari langit ke bumi untuk dijadikan petunjuk kepada ma­nusia sudah barang tentu melalui proses tawar menawar antara sang subjek (agama) dengan sang objek (manusia).

Turunnya Al-Qur’an ke bumi memerlukan waktu 23 tahun. Panjangnya waktu turunnya Al-Qur’an menjadi bukti betapa kitab suci ini memanusiakan manusia. Bisa saja Allah Swt menurunkannya dalam waktu sekejap tetapi bisa dikesankan terjadi proses pemaksaan yang di luar ambang batas kemanusiaan. Seperti diketahui, budaya Arab adalah pemi­num sehingga untuk menghapuskan budaya ini diperlukan 4 ayat turun secara bertahap un­tuk menghapuskannya. Tradisi perekonomian Arab bersifat ribawi atau rentenir, sehingga diperlukan 7 ayat turun untuk menghapus tra­disi eksploitatif itu di dalam masyarakat.

Konsekuensi manusia diciptakan dengan seperangkat kecerdasannya, maka mereka dibekali dengan sikap kritis untuk mempertah­ankan eksistensi dirinya, termasuk bersikap kritis terhadap ajaran-ajaran agama langit itu. Istimewanya ialah Allah Swt memahami ke­nyataan ini. Buktinya, setiap kitab suci-Nya diturunkan dengan cara berangsur-angsur (tadrij), menyedikitkan beban (taqlil al-taklif), dan mengeliminir kesulitan ('adam al-haraj). Ini membuktikan bahwa agama langit turun ke bumi mengalami proses "pembumian". Al­lah Swt yang memiliki kekuatan "kun fa yakun" tidak serentak ajaran agama-Nya dipaksakan kepada hamba-Nya yang sangat dhaif. Pada­hal, tak satu pun hambanya yang bisa meno­lak seluruh ajaran agama-Nya jika ia mengh­endaki-Nya. Ini bukan berarti tuhan mengalah terhadap manusia, tetapi menjadi bukti beta­pa Tuhan memanusiakan manusia atau beta­pa Tuhan menekankan dirinya sebagai Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Membumikan ajaran agama Tuhan men­gandung konsekuensi bahwa manusia pada satu sisi memiliki potensi, otoritas, dan kapasi­tas tertentu yang juga semuanya berasal dari- Nya, tetapi sisi lain manusia memiliki kekuran­gan yang prinsip sehingga mereka memerlukan bimbingan agar tidak jatuh terjerumus dengan kelemahan fundamental yang melekat pada dirinya. Manusia dalam pandangan Islam bu­kan antroposentris, yang serba manusia, bu­kan juga teosentris yang serba Tuhan, tetapi manusia menurut Prof. S.H. Nasr sebagai teo­morfis, yaitu makhluk yang memiliki berbagai kelebihan tetapi memiliki kelemahan melekat pada dirinya sehingga masih tetap membutuh­kan petunjuk Tuhan. Karena itu, diturunkan ke­padanya wahyu (Kitab) dan para Nabi untuk menjelaskan sekaligus mencontohkan penga­malan petunjuk itu.

Tidaklah sepantasnya kalangan manusia memaksakan kehendaknya agar manusia lain mengikuti petunjuk-Nya. Allah Swt tidak melakukannya dan para Nabi-Nya pun tidak melakukannya. Bahkan Allah Swt menegas­kan: Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepa­da orang yang dikehendaki-Nya, (Q.S. al- Qashash/28:56). Dalam ayat lain Allah Swt menyindir orang-orang yang melampaui ka­pasitasnya, mau memaksakan keinginannya untuk dan atas nama agama: Dan jikalau Tu­hanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia su­paya mereka menjadi orang-orang yang beri­man semuanya? (Q.S. Yunus/10:99).

Namun perlu diingat, siapapun tidak boleh berlindung dengan jargon "membumikan agama" untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, atau melakukan penafsiran secara liberal kitab suci hingga kel­uar jauh meninggalkan inti ajaran agama. Har­us kita ingat, pembumian agama untuk melan­gitkan kembali manusia setelah jatuh dalam drama kosmos, yang dilakukan oleh nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Allahu a'lam.

Komentar Pembaca
Ormas Islam & Kelompok Radikal (32)

Ormas Islam & Kelompok Radikal (32)

KAMIS, 16 AGUSTUS 2018

Awal Ketegangan Politik Dalam Dunia Islam
Siyasah Syar'iyyah

Siyasah Syar'iyyah

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Etika Suksesi Dalam Islam

Etika Suksesi Dalam Islam

SENIN, 13 AGUSTUS 2018

Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (2)
Mendelegitimasi Peran Negara Dan Agama (1)
Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

, 16 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

, 16 AGUSTUS 2018 , 13:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00