Hanura

Anak Indonesia Stunting, Ini Tragedi Bung!

Kesehatan  RABU, 04 APRIL 2018 , 18:13:00 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

Anak Indonesia Stunting, Ini Tragedi Bung<i>!</i>

Foto/Net

PEMERINTAH boleh berbangga karena banyak investasi asing datang untuk membangun infrastruktur di Indonesia. Pemerintah boleh puas karena gampang mendapatkan utang untuk membiayai pembangunan.

Pemerintah boleh senang hati karena barang dan jasa jasa dengan mudah dapat diperoleh dari luar negeri untuk mendukung pembangunan.

Namun gemerlap pembangunan besar besaran infrastruktur tersebut telah menyisahkan masalah ekonomi, sosial dan ketahanan nasional yang mengerikan. Bangsa Indonesia terancam punah karena generasi penerusnya mengalami stunting.

Satu dari tiga anak di bawah usia lima tahun menderita stunting, yang mencerminkan perkembangan otak terganggu yang akan mempengaruhi peluang masa depan anak-anak. (World Bank, 2017).

Apa itu stunting, dr. Hariman Siregar menyatakan semua berawal dari gizi dan hygienus (itu artinya pengetahuan, pendidikan) ibu/orang tua  dan intervensi/subsidi untuk ibu dan anak yang miskin. Sebagaimana diketahui bahwa subsidi telah "diharamkan" dalam sistem ekonomi dan politik kita dewasa ini.

Sebelumnya ratusan anak suku Asmat di papua meninggal disebabkan busung lapar dan gizi buruk. Pemicunya penyakit campak. Tapi karena kondisi gizi yang buruk menyebabkan mereka dengan mudah terserang penyakit dan berujung kematian.

Angka stunting akibat gizi buruk yang menimpa anak anak indonesia adalah terburuk di bandingkan negara negara tetangga di Asia Tenggara. Kondisi ini mutlak mendapat perhatian serius.

DR. Rizal Ramli mengingatkan kepada semua pihak khususnya para aktivis gerakan sosial, para pemerhati lingkungan hidup, para aktivis masalah perempuan dan anak anak, untuk menaruh perhatian terhadap masalah ini. Mengingat stunting merupakan problem besar dan merupakan ancaman terhadap keberlanjutan generasi. Ini buka soal sepele.

Harus diakui memang, sistem ekonomi dan politik yang ada sekarang  telah menghasilkan penguasa yang tidak dapat diharapkan kepeduliannya pada masalah masalah semacam ini. Apalagi dintahun politik perhatian itu tampaknya telah hilang sama sekali.

Sementara pembangunan yang dipandu oleh ideologi ultra konservatif ini hasilnya sudah bisa ditebak, sebagian besar pendapatan nasional setiap tahun hanya dinikmati oleh 10 persen masyarakat lapisan atas, sebagaimana ditunjukan oleh koefisien gini 0,40. Sementara hampir separuh rakyat Indonesia berpendapatan dua dolar per hari. Hari ini anak anak Indonesia stunting, akibatnya besok kita akan kehilangan segala galanya. [***]

Penulis adalah peneliti dari Assosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)



Komentar Pembaca
Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

Perang Tagar Hanya Mainkan Emosi Rakyat

, 18 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

Represif, Jokowi Jadi Raja Saja!

, 18 SEPTEMBER 2018 , 15:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00

Djoko Santoso: Kami Hormati Pilihan Pak Gatot Nurmantyo
<i>Asia Sentinel</i>: Pemerintahan Era SBY Cuci Uang Rp 177 Triliun
Aksi Mahasiswa UIR Pekanbaru Tempeleng Jutaan Mahasiswa Indonesia
KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

Politik17 September 2018 07:25

Kabareskrim Mau Tangkap Hendropriyono, Arief: Itu Kabar Bohong
Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Pileg Jangan Dikotori Aksi Saling Hujat

Politik19 September 2018 05:33

Tuding Moeldoko Ibarat Buruk Muka Cermin Dibelah
Houston

Houston

Dahlan Iskan19 September 2018 05:00

Kiai Ma'ruf Minta Didoakan Berhasil Jadi Wapres
Uni Eropa Selidiki 28 Kelompok Produk Baja Dunia