Hanura

Urusan Buruh Migran Jauh Panggang Dari Api

Kebijakan Tak Berorientasi Jaminan & Perlindungan

Bongkar  SELASA, 03 APRIL 2018 , 10:12:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Urusan Buruh Migran Jauh Panggang Dari Api

Foto/Net

RMOL. Dalam dua bulan terakhir, tiga buruh migran Indonesia meninggal di luar negeri. Mereka adalah Adelina Sau dan Milka Boimau, dua perempuan buruh migran asal Kupang, NTT harus meninggal secara tragis di Malaysia karena dugaan pembunuhan secara sengaja yang dilaku­kan oleh majikan.

Satu lagi adalah buruh migran asal Madura, Jawa Timur, M. Zaini Mirsin, yang dieksekusi pemerintah Arab Saudi karena dakwaan pembunuhan maji­kan.

Ketua Badan Eksekutif Nasional Solidaritas Perempuan, Puspa Dewy mencatat, sejak 2008 sampai saat ini sudah 5 buruh migran Indonesia yang dieksekusi mati di Arab Saudi. Saat ini, ada 20 buruh migran Indonesia yang sedang menanti pelaksanaan eksekusi mati yang sudah ditetapkan pemerintah Arab Saudi.

"Sampai saat ini, Arab Saudi masih merupakan negara tujuan yang paling banyak diterima laporannya oleh Solidaritas Perempuan mengenai kasus kekerasan dan pelanggaran hak Perempuan Buruh Migran (PBM) yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT), yaitu sebesar 45 persen dari 13 negara tujuan lainnya dengan jenis kasus yang paling banyak terjadi adalah traffiking dan gaji tidak dibayar," katanya.

Selain itu, hilangnya nyawa perempuan buruh migran juga dapat terjadi karena adanya tindak kekerasan yang dialami sela­ma proses migrasi. Kasus kema­tian yang menimpa Adelina Sau dan Milka Boimau di Malaysia yang kini sedang dalam tahap penyelidikan dan persidangan juga menimpa Nani Suryani asal Karawang yang meninggal tahun 2011 karena kekerasan yang dilakukan oleh majikan di Arab Saudi.

Menurut Dewy, gambaran kasus kematian buruh migran tersebut sesungguhnya adalah dampak dari kompleksitas per­soalan migrasi yang tidak pernah terurai sejak bertahun-tahun la­manya. Faktor kemiskinan yang meluas menjadi problematika masyarakat di pedesaan hingga tidak memiliki alternatif dalam mengakes sumber-sumber peng­hasilan di desanya.

Rendahnya kemampuan masyarakat untuk mengakses pen­didikan hingga tingkat lanjut juga menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat di pedesaan memilih mencari pekerjaan ke luar negeri dengan berbagai cara.

"Faktor di atas kemudian diperparah dengan adanya ke­bijakan atau peraturan yang tidak berorientasi pada jaminan perlindungan buruh migran serta lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku tindak ke­jahatan kepada buruh migran," ungkapnya.

Sementara, kebijakan terkait buruh migran hingga saat ini masih berwajah komoditisasi dan memprioritaskan kepentin­gan bisnis diatas perlindungan. Kerentanan demi kerentanan yang berujung pada pelanggaran hak-hak asasi buruh migran di luar negeri selalu terjadi setiap tahunnya.

Kerentanan ini memiliki dampak yang lebih parah pada buruh migran yang berstatus tidak berdokumen. "Ironisnya, pe­merintah seakan bisu dan tidak memiliki strategi jitu dalam menyikapi dan menekan pe­merintah negara tujuan untuk bertanggungjawab terhadap berbagai pelanggaran hak yang terjadi kepada buruh migran Indonesia," kritiknya.

Solidaritas Perempuan me­nilai kasus-kasus hilangnya nyawa buruh migran di luar negeri terjadi karena lemahnya pengawasan pemerintah, baik negara asal maupun negara tujuan, terhadap situasi kerja bu­ruh migran terutama perempuan yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT).

"Hampir 90 persen PRT mi­gran berada pada situasi kerja yang berisiko antara lain tidak memiliki akses informasi, ter­batasnya komunikasi dengan dunia luar, beban kerja berlebih, jam kerja panjang, tempat ting­gal yang tidak layak, sulitnya akses terhadap perlindungan hukum, dan jaminan kesehatan yang tidak memadai," kata Dewy.

Maka dari itu pihaknya men­desak pemerintah memaksimal­kan langkah-langkah bantuan hukum bagi buruh migran di luar negeri yang menghadapi masalah hukum dengan negara-negara tujuan. Termasuk memastikan proses fair trial berjalan sesuai dengan standar pemenuhan hak asasi dan norma-norma hukum internasional. ***

Komentar Pembaca
Politisi PDIP: Tim Kami Over Acting!

Politisi PDIP: Tim Kami Over Acting!

, 18 DESEMBER 2018 , 15:00:00

SBY: Pak Wiranto, Jangan Korbankan PDIP dan Demokrat
Salam Dari AHY Dan UAS

Salam Dari AHY Dan UAS

, 17 DESEMBER 2018 , 10:19:00

Dibonceng Ojek Online

Dibonceng Ojek Online

, 16 DESEMBER 2018 , 17:45:00

Anies Sambut Jakmania

Anies Sambut Jakmania

, 16 DESEMBER 2018 , 03:34:00