Warga Kampung Bali Betah Di Kalimantan Barat

Karena Toleransi Antar Umat Beragama

Senin, 19 Maret 2018, 11:00 WIB

Foto/Net

RMOL. Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, bisa menjadi salah satu contoh bentuk toleransi antar umat beragama di Indonesia.

 Pasalnya, di Kabupaten yang baru terbentuk tahun 2007 ini, masyarakat Hindu, Bali bisa hidup rukun dan damai di tengah-tengah mayoritas masyarakat islam.

Masyarakat Hindu, Bali diketahui telah tinggal secara turuntemurun di Desa Sedahan Jaya, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar.

Letak Desa Sedahan Jaya tidak terlalu jauh dari Sukadana, ibu kota Kabupaten Kayong Utara. Hanya butuh 30 menit perjalanan dengan kendaraan roda dua maupun empat untuk mencapai desa yang sebagian kecil penduduknya menganut agama Hindu ini.

Sekilas tidak ada beda antara perkampungan Bali dengan perkampungan masyarat Muslim yang tinggal di desa tersebut. Mereka membuat rumah permanen dengan model berderet. Yang membedakan hanya di pekarangan rumah.

Di pekarangan rumah masyarakat Hindu terdapat penung­gun karang atau tempat suci yang di Bali disebut palinggih pangijeng.

"Kami sudah tinggal di sini secara turun temurun sejak tahun 1963," ujar Ketut Danu, salah satu warga Kampung Bali di Sedahan Jaya, Kayong Utara, Kamis (15/3).

Kampung Bali di Sedahan Jaya mirip perkampungan warga di Bali. Ada pura berhias ja­nur dengan beberapa sesajen. Beberapa tiang bangunan juga ditutup kain poleng khas Bali dengan motif kotak hitam dan putih. Juga tempat ibadah umat Hindu, Pura yang dibangun di tengah-tengah kampung dengan ukuran besar.

"Warga Hindu di sini lebih 500 orang dengan 120-an kepala keluarga (KK) yang tergabung dalam satu rukun tetangga (RT)," sebut Ketut lagi.

Namun demikian, kondisi desa cukup memprihatinkan karenaakses jalan perkampungan belum mulus. Masih berupa cor-coran yang lebarnya hanya satu meter. Sementara di sisi kanan dan kiri jalan banyak ditumbuhi rumput liar. "Pemerintah daerah informasinya akan memperbaiki akses jalan kampung di sini," ucap Ketut.

Menurut Ketut, mayoritas warga Bali yang tinggal di sini bekerja sebagai petani. Hanya beberapa orang yang berprofesi lain, sebagai guru atau pegawai negeri sipil (PNS). "Kami ingin ada bantuan alat pertanian dari pemerintah agar hasil pertanian bisa melimpah dan dikirim ke daerah lain," harapnya.

Ketut memuji kondisi alam di Sedahan Jaya yang subur, seh­ingga tanaman padi bisa tumbuh dengan baik. "Kami bisa panen empat bulan sekali,"  ucapnya.

Wanita berumur 50 tahun ini, mengaku betah tinggal di sini karena masyarakatnya yang toleran. Dirinya mengatakan, pernah ditawari seseorang agar bisa pulang ke daerah asalnya di Bali. Tapi, ia dan keluarganya meno­lak karena sudah punya ikatan kuat dengan warga di sini.

"Kami juga telah memiliki tiga tempat ibadah. Salah satu­nya Pura Gri Amertha Buana," sebutnya.

Selain itu, kata Ketut, umat Hindu di sini juga telah memiliki sanggar budaya sendiri yang sering dilibatkan dalam kegiatan pemerintahan daerah (Pemda). "Para wisatawan juga sering datang ke sini, melihat langsung pemukiman dan tarian khas Bali yang ada di sini," kata dia.

Sementara, Liang Banjar Adat atau Temenggung Desa setem­pat, Ketut Sukawan menyatakan, sebanyak 125 KK warga Hindu yang tinggal di Desa Sedahan Jaya, tetap bisa hidup rukun dan damai dengan masyarakat Muslim. "Kami juga tetap mam­pu mempertahankan budaya leluhur," ujar Ketut.

Menurut Ketut, masyarakat Hindu yang tinggal di desa ini, tetap mempertahankan budaya Bali dengan cara terus melatih anak-anak dengan berbagai adat dan kebudayaan Bali, sehingga generasi penerus selanjutnya tetap mengenal adat dan istiadat leluhurnya.

Ketut lantas menceritakan awal mula masyarakat Bali ada di Kayong Utara. Saat terjadi letusan Gunung Agung tahun 1963, ada 38 KK korban letusan yang berasal dari Kabupaten Karangasem, Bali berlayar ke Pontianak, Kalbar. Setelah itu, karena sebagian besar warga ingin menjadi petani, sehingga dicarilah lahan yang cocok. "Ternyata di Sedahan Jaya ini­lah lokasi yang paling pas," kata dia.

Pada masa awal tinggal di sini, lanjut Ketut, warga juga sempat mengalami ketakutan karena tak lama setelah kejadian G30SPKI. "Kami kesulitan men­cari makan karena saat datang juga tidak membawa apa-apa," kenangnya.

Kebetulan saat mengungsi, cerita Ketut, ada warga yang membawa kain-kain dari Bali sehingga ditukarkanlah barang tersebut kepada masyarakat set­empat untuk kebutuhan makan. "Itu dilakukan untuk bertahan hidup pada saat itu," tuturnya.

Selain itu, kata dia, banyak masyarakat sekitar yang mem­bantu, sehingga masyarakat Bali yang mengungsi ke tempat ini menjadi betah dan berkembang hingga saat ini. "Kami di sini be­lajar mandiri tanpa diakomodir pemerintah," tandasnya.

Modal awal yang dipakai untuk bertahan hidup, kenang Ketut, yaitu membeli lahan dengan cara bertukar atau barter barang yang dimilikinya, dengan pen­duduk lokal. Setelah itu, warga mulai membangun pondok dan juga pura.

"Kami baru bisa membangun rumah secara permanen setelah 11 tahun sejak awal mengungsi,"  ucapnya.

Karena warga setempat yang ramah, toleransi yang tinggi ditambah dengan kondisi tanah­nya yang cocok untuk bertani, kata Ketut, sehingga warga Bali membuat perkampungan di sini.

"Kami betah tinggal di sini, tidak ada dari kami yang ingin meninggalkan Kayong untuk selamanya, paling hanya pulang liburan saja," kata Ketut.

Menurut Ketut, seluruh warga desa juga selalu bergotong royong saat ada kegiatan dan saling menjaga kerukunan antar umat beragama. "Kami tidak pernah konflik sedikit pun," tandasnya.

Saat ini, kata Ketut, perkam­pungan Bali juga sudah memi­liki Pura Giriamerthabuwana yang dibangun tahun 1977 atau setelah 11 tahun berada di Desa Sedahan Jaya. "Kami sudah generasi kedua yang tinggal di sini," sebutnya.

Bahkan, kata dia, ada beberapa masyarakat Kampung Bali yang menikah dengan masyarakat sekitar. Kendati hidup merantau, lanjut Ketut, adat dan budaya Bali tetap dipertahankan, malah pihaknya mendatangkan pelatih tari dari Bali untuk mengajarkan tari kepada anak-anaknya.

"Kami juga mendapat perhatian dari Pemkab Kayong Utara, dan bantuan peralatan Gamelan dari bapak Oesman Sapta Oedang (OSO)," ucapnya.

Setiap Tahun Baru Saka, menurut Ketut, warga Bali di sini juga melakukan Nyepi den­gan dipasangnya janur di sekitar pura. Masyarakat yang beragama lain juga ikut menghiasi sekitar rumah mereka dengan ornamen dari daun kelapa muda. ***

Kolom Komentar


Video

Prabowo: Kita Menang, Jangan Lengah!

Rabu, 17 April 2019
Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
loading