Hanura

Diplomat Indonesia Jangan Terjebak Retorika Sempit

Politik  RABU, 14 MARET 2018 , 08:44:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

Diplomat Indonesia Jangan Terjebak Retorika Sempit

Noor Huda Ismail/ Pusdiklat Kemenlu RI

RMOL. Radikalisme tidak muncul dari sebuah ruang kosong, melainkan berkembang sesuai konteks pribadi, masyarakat dan teknologi.

Diplomat Indonesia harus kritis dan tidak terjebak pada retorika sempit seperti ideologi dan ekonomi saja.

Hal ini disampaikan pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian, Noor Huda Ismail di hadapan 36 diplomat muda peserta Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) Angkatan ke-60 di Jakarta, Selasa (13/3). Noor Huda bersama timnya seharian penuh bersama para diplomat membawakan tema 'Memahami asal-usul terorisme'.
 
"Menyelesaikan persoalan terorisme dan radikalisme hanya menggunakan pendekatan keamanan itu seringkali justru menimbulkan persoalan baru. Untuk itu, perlu dikedepankan sikap understanding serta pendekatan 3H (heart, hand, head)," kata Noor Huda.
 
Noor Huda menekankan, fenomena radikalisme yang terjadi haruslah dilihat secara utuh dan detil, tidak bisa dilihat dengan cara pukul rata. Hal ini dikarenakan satu kasus terorisme atau radikalisme memiliki perbedaan pola, penyebab, maupun tingkat keterlibatan individu, jika dibandingkan dengan kasus terorisme atau radikalisme lainnya.
 
Agar lebih menginspirasi, pertemuan juga menghadirkan seorang perempuan muda cerdas yang ternyata pernah menjadi korban propaganda ISIS. Berdasarkan pengalaman yang telah diceritakan, para diplomat dapat memahami isu dan realitas yang harus dihadapi oleh korban radikalisme dari sisi sosial dan kemanusiaan.
 
Kehadiran narasumber yang multiperspektif telah memberikan daya tarik tersendiri bagi para diplomat muda. Dialog menjadi sangat kaya, mengingat para diplomat ini telah bekerja setidaknya selama 10 tahun di berbagai negara dengan isu-isu yang berbeda-beda.

"Selain itu, informasi dan pengalaman yang diperoleh dari tangan pertama telah memberikan pencerahan serta memperluas wawasan para kami mengenai isu radikalisme dan terorisme," ujar salah satu peserta, Aidil.
 
Pola pendidikan kedinasan yang menghadirkan secara langsung para pakar dan profesional di bidangnya masing - masing ini, merupakan manifestasi dari arahan Menteri Luar Negeri untuk menjadikan Pusdiklat sebagai center of excellence. [wid]


Komentar Pembaca
#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?
Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

, 19 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00