Hanura

Dunia Cyber Tidak Ramah, Kaum Hawa Sering Di-bully

Dicatat 237 Lembaga Negara Dan Swadaya

Bongkar  JUM'AT, 09 MARET 2018 , 10:05:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dunia Cyber Tidak Ramah, Kaum Hawa Sering Di-bully

Foto/Net

RMOL. Terkait peringatan Hari Perempuan Sedunia kemarin, Komnas Perempuan meluncurkan Catatan Tahunan (Catahu), yang merupakan catatan dokumentasi berba­gai kasus kekerasan terhadap perempuan.

 Catahu ini dilaporkan dan ditangani baik oleh 237 lembaga negara, maupun lembaga masyarakat, serta pengaduan yang langsung datang ke Komnas Perempuan. Salah satu yang paling disorot adalah berkembangnya bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Wakil Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah menuturkan, terdapat temuan tren kekerasan yang berkembang sesuai konteks dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), femicide, poligami, dan perkawinan anak.

"Peristiwa KDRT sering disertai dengan terungkapnya kasus pembunuhan perempuan atau femicide, dalam kasus ini pem­bunuhan terhadap istri," katanya di Jakarta, kemarin.

Tingginya cerai gugat istri sering disebabkan oleh situasi rumah tangga yang tidak aman. Di antaranya kekerasan fisik, maraknya poligami, dan perkaw­inan anak di antaranya kriminalisasi terhadap perempuan yang dikawinkan karena dianggap berzina.

Selain itu, ada kekerasan terhadap perempuan berbasis cyber. Kekerasan ini muncul ke permukaan dengan masif, namun kurang dalam pelapo­ran dan penanganan. "Dampak kejahatan cyber ini dapat men­jatuhkan hidup perempuan, menjadi korban berulang kali, dan dapat terjadi seumur hidup," ujar Yuniyanti.

Pihaknya mencatat, perem­puan masih menjadi sasaran yang disalahkan atau di-bully termasuk dalam konteks per­selingkuhan, poligami dan ke­jahatan perkawinan lainnya. Sementara pelaku utama justru lolos dari penghakiman sosial.

Komnas Perempuan juga me­nyoroti pembangunan infrastruk­tur yang masif, impunitas dan supremasi korporasi hingga meminggirkan, bahkan mengusir masyarakat penduduk asli atau masyarakat adat, mengundang migrasi paksa, perdagangan orang maupun kerentanan kerja-kerja domestik termasuk Pekerja Rumah Tangga (PRT).

"Perlawanan dianggap pem­bangkangan terhadap hukum dan kebijakan pusat dan daerah.Dampaknya pada perempuan adalah menambah beban pemiskinan," imbuhnya.

Komisioner Komnas Perempuan, Sri Nurherwati menga­takan, ada sejumlah kemajuan yang berhasil dicatat dalam Catahu 2018 ini. Mulai dari peningkatan jumlah pengaduan kepada lembaga pengadalayan­an dari unsur pemerintah seperti Kepolisian dan Rumah Sakit.

"Artinya lembaga tersebut dibutuhkan dan dipercaya masyarakat, oleh karena itu diper­lukan dukungan penambahan sumber daya manusia, pelayanan dan penanganan yang cepat," katanya.

Berangkat dari temuan dan pendokumentasian data Catahu 2018, Komnas Perempuan merekomendasikan agar Kementerian Komunikasi dan Informasi-khusus untuk kekerasan terhadap perempuan berbasis cyber dan perlu membangun sistem teknologi komunikasi untuk mencegah meluasnya kekerasan terhadap perempuan berbasis cyber.

Sementara Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak perlu memastikan sub­stansi dan mekanisme Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UUP KDRT) dijalankan oleh semua pihak terutama perlindungan pada korban dan akses keadilan bagi korban serta penghukuman untuk mencegah impunitas.

"Kepolisian melakukan pen­dokumentasian secara nasional dan masif tentang kejahatan femisida (femicide) sebagai bentuk kejahatan klimaks dari Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) agar terpetakan penyebab, pola dan langkah-langkah pence­gahannya," tandasnya.

Sedangkan DPR, ujar Sri lagi, harus segera mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dengan terlebih dahulu mem­baca serius persoalan kekerasan seksual dengan perspektif HAM perempuan dan mengedepankan hak perempuan korban. ***


Komentar Pembaca
Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI
Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

, 20 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00