Hanura

Saat Pelajar Banyuwangi Saling Bertanding Angklung

Nusantara  MINGGU, 18 FEBRUARI 2018 , 22:34:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

Saat Pelajar Banyuwangi Saling Bertanding Angklung

RMOL

RMOL. Beragam kesenian khas daerah terus disajikan dalam agenda wisata Banyuwangi Festival.

Sabtu malam (17/2) giliran Angkluk Caruk pelajar ditampilkan di Gesibu Banyuwangi, di mana pelajar yang tergabung dalam kelompok musik angklung saling beradu kepiawaian bermusik dan tebak lagu.

Meski di bawah guyuran hujan, ratusan pemusik pelajar itu tidak gentar dan bersemangat untuk tampil. Setiap penampilan diisi dua grup karena mereka harus saling caruk untuk bertanding memainkan musik angklung. Caruk sendiri berarti bertemu.

Mereka saling beradu musik, menebak lagu, dan mengeluarkan guyonan khas Using, suku lokal Banyuwangi, yang memunculkan gelak tawa penonton. Para penonton terhibur kala menyaksikan kelucuan para badut dari masing-masing kelompok yang pandai mengocok perut dengan gerakan jogetnya yang menggemaskan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hadir membuka acara turut tertawa mendengar celotehan pemain angklung pelajar tersebut. Saking gemasnya dengan penampilan dari salah satu peserta SD Blimbingsari yang lucu dan kreatif, usai acara Anas tiba-tiba menggendong peserta yang berperan sebagai badut.

"Saya tadi benar-benar gemas melihat mereka. Kok sekecil ini bisa atraktif begini ya. Ajari bapak ya nak," katanya.

Menurut Anas, Festival Angklung Caruk dimasukkan dalam agenda Banyuwangi Festival sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi angklung yang sudah berlangsung turun temurun. Apalagi, dalam pertandingan angklung, ada tujuh gending asli Banyuwangi yang harus dikuasai tiap peserta, yakni Thong-thong Bolong, Padang Ulan, Mak Ucuk, Pethetan, Bang Cilang-Cilung, Peteg-peteg Suku, dan Untring-untring.

"Pemkab ingin agar kesenian ini bisa diregenerasi ke pelajar agar kelak tak punah. Mereka semua yang tampil hari ini hebat. Saya atas nama pemkab mengucapkan terima kasih atas segala kreativitas dan kerja keras anak-anak," jelasnya.

Penampilan masing-masing peserta juga terlihat sangat atraktif dan penuh semangat dengan didukung permainan musik yang rancak. Bahkan tak jarang para penabuhnya menyelipkan aksi panggung di luar dugaan. Seperti berlompatan di atas panggung, atau tiba-tiba melompat sambil memukulkan dua kentongan bambu sehingga menghasilkan tampilan unik.

Kreativitas para peserta yang masih duduk di bangku sekolah tingkat SD, SMP, SMA/SMK itu mampu menghibur penonton. Para pemain pun mengaku sangat senang mereka diberi ruang untuk bisa tampil di hadapan banyak penonton.

Seperti diungkapkan Robbitul Hakiki, pelajar SD asal Srono ini mengaku senang bisa menghibur penonton termasuk bupati.

"Senang banget bisa tampil di sini. Ramai banyak yang lihat. Apalagi malam ini kami pulang bawa piala. Alhamdulillah berkat kekompakan semua anggota tim, akhirnya kami jadi penyaji unggulan," ucap Robbi dengan bangga.

Robbi bersama kelompoknya berlatih keras selama tiga pekan. Dalam pentas angklung tersebut, kelompok Robbi berhasil menebak lagu Pethetan yang dimainkan pihak lawan, sementara sang lawan tidak bisa menebak lagu Untring-untring yang mereka lontarkan.

Festival Angklung Caruk diikuti 11 grup yang terdiri atas grup pelajar SD, SMP hingga SMA/SMK sederajat. Dalam penampilan tersebut dipilih pelajar dengan penyaji, badut, sinden, penabuh angklung, penggendang, busana hingga penyaji unggulan terbaik. [wah]


Komentar Pembaca
#KataRakyat: Ulama Berpolitik, Emangnya Ngaruh?
Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

Eks Politikus Gerindra Dukung Jokowi-Ma\'ruf

, 19 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00