Hanura

Memenangi Hearts & Minds Orang Papua (1)

Belajar Dari Kegagalan Di Afghanistan

Suara Publik  JUM'AT, 16 FEBRUARI 2018 , 23:31:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Belajar Dari Kegagalan Di Afghanistan

Alto Labetubun/Dok

PADA 11 September 2001, gedung kembar World Trade Center di New York ditabrak dua pesawat penumpang yang sudah dibajak. Tak kurang dari 2,996 orang yang berada di gedung WTC, termasuk para petugas pemadam kebakaran dan paramedis yang merespon panggilan darurat setelah pesawat pertama menghantam gedung, turut tewas dalam serangan yang kemudian dikategorikan sebagai serangan teror itu.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dibawah pimpinan Presiden Geroge W. Bush langsung mengumumkan bahwa Al-Qaida, sebuah organisasi teror pimpinan Osama bin Laden yang berada dalam lindungan Taliban di Afghanistan adalah dalang serangan yang terencana ini.

Kejadian 11 September 2001 melahirkan apa yang kemudian dikenal sebagai Global War on Terror (GWOT) yang daerah operasinya berpusat di Afghanistan dan Pakistan dan sudah menelan korban jiwa hampir mendekati 150,000 orang di kedua negara tersebut.

Pada 2002, upaya membangun Afghanistan mulai dilakukan dengan bantuan berbagai negara. Hampir 14,000 proyek rekonstruksi telah dilakukan di Afghanistan dan sudah menelan biaya sekitar 30 milyar dolar AS.

Proyek-proyek rekonstruksi ini dibuat dalam segala bentuk, dari merehabilitasi sekolah, pasar, sarana pengairan di desa-desa, sampai pada pembuatan dan perbaikan jalan dan jembatan bahkan proyek-proyek berskala besar seperti rekonstruksi bendungan-bendungan.

Selain proyek fisik, bantuan luar negeri juga ditujukan untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan warga Afghanistan. Peningkatan kualitas pendidikan, pelatihan ketrampilan berusaha maupun beasiswa kepada pelajar dan mahasiswa Afghanistan juga dilakukan.

Beta sendiri turut bekerja sebagai salah satu Field Directors dalam program Afghanistan Stabilization initiatives (ASI) di Provinsi Helmand dan Kandahar selama hampir 1 tahun. Ini satu dari ratusan program yang didanai pemerintah AS di Afghanistan.

Program ini bernilai 159 juta dollar AS untuk 3 tahun dan difokuskan untuk membangun fasilitas publik di Helmand dan Kandahar, provinsi di Afghanistan yang dikenal sebagai tempat lahirnya Taliban dan daerah safe havens-nya Al-Qaida pimpinan Osama bin Laden.

Semua upaya lewat pembangunan fisik maupun non fisik ini bermuara pada satu tujuan, agar Afghanistan tidak lagi menjadi safe havens bagi organisasi teror dan/atau menjadi daerah yang memberikan perlindungan kepada organisasi teroris seperti Al-Qaida, sebagaimana yang dilakukan oleh Taliban sebelumnya.

Kenyataannya adalah apa yang dilakukan koalisi negara-negara asing di bawah pimpinan AS dalam upaya memenangi hearts and minds dari orang Afghanistan itu gagal. Taliban kembali menguasai kota-kota dimana mereka sudah terusir oleh operasi militer dari koalisi internasional, Al-Qaida tetap beroperasi dan mendapat perlindungan di Afghanistan, bahkan ISIS pun muncul di Afghanistan.

Korupsi merajalela dan menguatnya para warlords yang berada di perbatasan Afghanistan- Pakistan. Kenyataan ini menunjukkan, semua upaya stabilisasi, rekonstruksi dan rehabilitasi yang dilakukan negara-negara koalisi itu tidak mampu mengubah Afghanistan sesuai dengan apa yang diinginkan mereka.

Pertanyaannya, apa yang salah dengan upaya yang dilakukan lewat program-program rekonstruksi yang sudah menelan puluhan miliar dolar itu? Dari pengalaman di lapangan, ada beberapa faktor yang menyebabkan winning the hearts and minds dari warga Afghanistan itu tidak berhasil.

Pertama, ketiadaan garis pemisah antara masa lalu dengan itikad baik ke masa depan. Amerika Serikat dan sekutunya masuk ke Afghanistan melalui kampanye “Perang Global terhadap Terorisme” (GWOT). Hal ini ditandai dengan operasi militer besar-besaran yang telah mengakibatkan tewasnya hampir 150,000 warga di Afghanistan dan Pakistan.

Ini menimbulkan kebencian yang berkepanjangan dari orang Afghanistan terhadap negara-negara koalisi. Operasi militer ini masih tetap berlanjut bersamaan dilaksanakannya program rekonstruksi, rehabilitasi dan stabilisasi di Afghanistan.
Berbeda dengan negara-negara sekutu, orang Afghanistan tidak melihat program non-perang ini sebagai sebuah itikad baik. Sebaliknya, mereka melihat program ini sebagai bagian operasi militer yang terstruktur dan terencana untuk menguasai Afghanistan. Jadi batasan antara kesalahan pada waktu lampau yang terjadi saat operasi militer dan proses rekonsiliasi untuk membangun Afghanistan itu tidak pernah ada.

Kedua, adalah ketiadaan rasa memiliki (ownership) terhadap program-program yang dilakukan. Program-program yang dilakukan lewat dana dari negara-negara koalisi ini dirancang dan dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing, bekerjasama dengan perusaaan-perusahaan lokal yang kebanyakan dimiliki para penguasa dan warlords di Afghanistan.

Dalam proses ini, masyarakat Afghanistan hanya menjadi objek dari apa yang diinginkan oleh orang non Afghanistan. Hadirnya produk dari program-program stabilisasi, rekonstruksi dan rehabilitasi juga dibarengi dengan meningkatnya korupsi oleh para penguasa Afghanistan, dan ini kontraproduktif dengan upaya membangun sistem pemerintahan yang akuntabel kepada rakyat. Rakyat Afghanistan merasa, mereka hanyalah objek dan bukan subjek dari program dimaksud.

Ketiga, masih berlangsungnya operasi militer dan masih tingginya instabilitas dan kerawanan. Pengalaman beta berinteraksi dengan orang Afghanistan di Kandahar dan Helmand, stabilitas adalah segalanya.

Masyarakat Afghanistan sudah terbiasa hidup di lingkungan dimana akses terhadap fasilitas pelayanan publik termasuk akses ke sumber-sumber pemenuhan kebutuhan dasar yang terbatas.

Dalam kondisi seperti itu pun, mereka masih menikmati hidup yang lebih stabil dan aman. Bagi warga Afghanistan, kebutuhan utama mereka adalah stabilitas dan ini yang belum terjadi di Afghanistan.

Masih berlangsungnya operasi militer membuat masyarakat masih melihat mereka sebagai potensi korban dari operasi militer tersebut. Hal sangat tidak membantu membangun rasa saling percaya antara warga Afghanistan dengan koalisi negara-negara yang berniat membantu Afghanistan. Bersambung


Alto Labetubun,
putra kelahiran Kepulauan Kei, Maluku, menetap di Timur Tengah sejak 2009 ini kini tinggal di Iraq. Pekerja kemanusiaan sekaligus analis konflik dan konsultan keamanan yang sudah 17 tahun berkecimpung di dunia konflik dan krisis kemanusiaan di Indonesia maupun di Timur Tengah dan Afrika Utara ini adalah penerima beasiswa Australian Development Scholarship (ADS) 2007 dan lulusan Master of International Studies dengan spesialisasi Peace and Conflict Resolution dari University of Queensland, Australia.





Komentar Pembaca
Surat Terbuka Untuk Bapak Jokowi Tentang Emak-Emak
Politik Utang-Piutang Ridwan Kamil

Politik Utang-Piutang Ridwan Kamil

SABTU, 15 SEPTEMBER 2018

Pesan Sunan Kalijaga Untuk Umat Akhir Zaman
Nasdem Somasi Rizal Ramli

Nasdem Somasi Rizal Ramli

RABU, 12 SEPTEMBER 2018

UAS, Imam Mahdi Abad Ini

UAS, Imam Mahdi Abad Ini

SELASA, 11 SEPTEMBER 2018

Depresiasi Rupiah

Depresiasi Rupiah

SENIN, 10 SEPTEMBER 2018

Grup Tari Saman Tuna Netra Pecahkan Rekor MURI
Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

Massa Pro Dan Kontra Jokowi Bentrok

, 20 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Ratusan Mahasiswa Bergerak Ke Istana Tuntut Presiden Jokowi Turun Tahta
Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

Peluncuran Tagar #2019TetapPancasila

, 13 SEPTEMBER 2018 , 16:15:00

HMI Demo Jokowi

HMI Demo Jokowi

, 14 SEPTEMBER 2018 , 03:12:00