Verified
Hanura

Satu Tekad, Satu Visi, Anies Baswedan Hadiri Deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia

Politik  SABTU, 13 JANUARI 2018 , 10:39:00 WIB

Satu Tekad, Satu Visi, Anies Baswedan Hadiri Deklarasi Gerakan Kebangkitan Indonesia

Prijanto/Net

"MENCERMATI perkembangan lingkungan strategis global, regional dan nasional, serta dalam rangka mewujudkan cita-cita Indonesia yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Aman Tentram, Adil dan Makmur, kami ingin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bangkit agar tidak punah".

Itulah kalimat pembukaan dari undangan para pemrakarsa Gerakan Kebangkitan Indonesia (GKI). Ada 3 kalimat kunci (1) mencermati perkembangan Lingstra (2) mewujudkan cita-cita (3) mengajak rakyat bangkit.

Sangat jelas kemana GKI bergerak. Apalagi undangan menyebutkan GKI sebagai gerakan moral dan intelektual. Gubernur Anies yang peduli kepada rakyatnya, menangkap secara cerdas. Permohonan untuk menghadiri deklarasi dan memberikan sambutan kontan diterima dan dijadwalkan secara resmi. Sambutan Anies memberikan apresiasi dan harapan. Tampak ada kesamaan tekad untuk mengajak bangkit memperbaiki kesejahteraan rakyat. Elaborasi kebangkitan diperkecil untuk wilayah Jakarta, sesuai jabatannya sebagai Gubernur. Anies membandingkan kemiskinan di Jakarta dengan kemiskinan di daerah-daerah terpencil yang pernah dikunjunginya.

Kemiskinan di Jakarta sangat memprihatinkan. Kemiskinan di daerah pelosok lain masih lebih baik, karena rakyat  masih bisa menikmati segarnya udara, wilayah terbuka luas nan indah, hasil bumi dan kebun menghidupinya. Apa yang dinikmati rakyat miskin di daerah tersebut, tidak bisa dinikmati rakyat miskin di Jakarta yang hidup di kawasan kumuh, udara kotor, rumah yang pengap berdempetan, biaya hidup tinggi, lapangan pekerjaan sulit, tingkat pendidikan rendah, dan lain sebagainya.

Konon, Bertolt Brecht, penyair dan dramawan Jerman berkata: "Buta terburuk adalah buta politik. Orang yang buta politik, tak sadar bahwa biaya hidup, harga makanan, harga rumah, harga obat, semuanya bergantung kepada keputusan politik. Dia membanggakan sikap anti politiknya, membusungkan dada dan berkoar 'Aku benci politik!' Sungguh bodoh dia, yang tak mengetahui bahwa karena dia tak mau tahu politik, akibatnya pelacuran, anak terlantar, perampokan, dan yang terburuk, korupsi dan perusahaan multi nasional yang menguras kekayaan negeri".

Saya yakin, kaum intelektual, praktisi dan aktivis yang peduli, akan membenarkan Bertolt Brecht. Pemrakarsa Gerakan Kebangkitan Indonesia (Gerakan Kebangkitan Indonesia Lahir Dari WhatsApp Group) juga sependapat. Tidak dipungkiri, sistem politik menghasilkan pemimpin, dan konstitusi negara mendasari sistem politik yang melahirkan pemimpin. Pemimpin yang lahir dari sistem politik itulah yang menentukan dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan dan tidak dilakukan untuk rakyatnya.

Selanjutnya >

Komentar Pembaca
Mabes Polri Fokus Berantas Hoax

Mabes Polri Fokus Berantas Hoax

, 16 OKTOBER 2018 , 19:00:00

Rizal Ramli Gugat Surya Paloh Rp 1 Triliun

Rizal Ramli Gugat Surya Paloh Rp 1 Triliun

, 16 OKTOBER 2018 , 15:00:00

Peluncuran Buku Papua Ethnography

Peluncuran Buku Papua Ethnography

, 13 OKTOBER 2018 , 06:49:00

Pencakar Langit Jakarta

Pencakar Langit Jakarta

, 16 OKTOBER 2018 , 04:31:00

Dikunjungi Karo Penmas Mabes Polri

Dikunjungi Karo Penmas Mabes Polri

, 16 OKTOBER 2018 , 16:08:00