Verified
Hanura

Pancasila Sejatinya Ideologi

Titik Koma  RABU, 31 MEI 2017 , 12:37:00 WIB | OLEH: FAISAL MAHRAWA

<i>Pancasila Sejatinya Ideologi</i>
HARI lahirnya Pancasila adalah kenyataan sejarah. Ia tidak bisa begitu saja berubah, meski kita selalu memperdebatkannya. Memperdebatkannya secara serius, biarlah menjadi ruang bagi ahli sejarah. Meski untuk perdebatan ini, saya meyakini Pidato Soekarno 1 Juni 1945 sebagai tanggal bersejarah bagi lahirnya Pancasila. Pidato heroik di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, sebuah badan yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia saat itu.

Selayaknya sebagai sebuah bangsa yang merdeka, yang sudah selesai dengan dasar negaranya, kita sudah seharusnya move on, maju ke depan. Tidak ada tawar menawar lagi. Perdebatan dan diskusi tidak lagi hanya sekadar hari lahirnya, tetapi juga soal implementasinya. Implementasi nilai-nilai Pancasila menjadi penting untuk didiskusikan. Apalagi di ruang-ruang publik. Mendiskusikannya bukanlah sesuatu yang asing. Melalui karyanya, Negara Paripurna, Yudi Latif (2011)  secara detil sudah menginisiasi diskusi ini.

Pidato Soekarno 1 Juni 1945

Sebagian kita meyakini bahwa hari lahirnya Pancasila adalah ketika Soekarno membacakan pidatonya di hadapan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, BPUPKI) pada tanggal 1 Juni 1945. Saat itu Soekarno bicara mengenai philosofische grondslag, dasar falsafah.

Menurut Soekarno, Pancasila adalah weltanschauung (pandangan dunia). Seperti yang disampaikannya secara heroik. "Berhubung dengan itu, sebagai yang diusulkan oleh beberapa pembicara-pembicara tadi, barangkali perlu diadakan noodmaatregel, peraturan bersifat sementara. Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat saya, haruslah Panca Sila. Sebagai dikatakan tadi, saudara-saudara, itulah harus Weltanschauung kita. Entah saudara-saudara mufakatinya atau tidak, tetapi saya berjoang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung itu. Untuk membentuk nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam peri-kemanusiaan; untuk permufakatan; untuk sociale rechtvaardigheid; untuk ke-Tuhanan. Panca Sila, itulah yang berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh-puluh tahun.Tetapi, saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah saudara-saudara. Tetapi saya sendiri mengerti seinsyaf- insyafnya, bahwa tidak satu Weltanschauung dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan, menjadi realiteit, jika tidak dengan perjoangan!" (Pidato Soekarno, 1 Juni 1945, "Disalin dari buku Lahirnya Pancasila, Penerbit Guntur, Jogjakarta, Cetakan kedua, 1949 Publikasi 28/1997 Laboratorium Studi Sosial Politik Indonesia").

Nah, perjuangan sesungguhnya bagi kita saat ini adalah menjelmakan weltanschauung menjadi realiteit. Menjadikannya sebagai sesuatu yang riil, dalam kehidupan sehari-hari. Mengupayakannya membumi.

Selanjutnya >

Komentar Pembaca
Partai Gerindra Vokal Tapi Belum Terarah

Partai Gerindra Vokal Tapi Belum Terarah

, 23 OKTOBER 2018 , 13:00:00

Indonesia Berpotensi Jadi Mangkuk Pangan Asia
Bersihkan Puing Gempa Lombok

Bersihkan Puing Gempa Lombok

, 21 OKTOBER 2018 , 08:17:00

Patung Dua Kim

Patung Dua Kim

, 23 OKTOBER 2018 , 00:49:00

Hadiri Festival Nasyid Nusantara

Hadiri Festival Nasyid Nusantara

, 20 OKTOBER 2018 , 14:50:00