Hanura

Pentingnya Bermain Untuk Anak

 SABTU, 02 JULI 2016 , 02:17:00 WIB | OLEH: TATANG MUTTAQIN

Pentingnya Bermain Untuk Anak
POLA asuh anak juga tidak terlepas dari budaya bermain anak. Dalam literatur Psikologi Perkembangan, anak usia 0-6 tahun adalah seorang peniru ulung” dan sekaligus "pembelajar ulet", tapi bukan seorang "pendengar yang baik". Anak seusia ini akan lebih mudah belajar dan paham dengan melakukan aktifitas, bukan dengan diceramahi atau sekadar kata-kata.

Oleh karena itu, anak usia dini memerlukan aktifitas bermain untuk merangsang perkembangan syaraf. Permainan-permainan tradisional, yang kini telah banyak dihilang tergantikan oleh permainan modern, mampu memacu perkembangan syaraf anak secara seimbang. Sehingga anak tidak hanya pintar secara intelektual, tapi juga cerdas secara emosional, spiritual dan sosial. Sedangkan permainan modern cenderung mendidik anak untuk bersikap individual, egois, dan anti sosial.

Di beberapa daerah mengenal beberapa permainan tradisional untuk anak-anak. Semisal, permainan tepuk ame-ame dapat memacu keseimbangan otak kanan dan otak kiri; permainan dhakon dapat membantu anak untuk memahami strategi untung-rugi; permainan ciluk ba dapat merangsang kecerdasan emosional dan sosial anak.

Menurut Freud dan Erikson (Santrock, 1998) bermain bagi anak sangat berguna sebagai salah satu bentuk penyesuaian diri, membantu anak menguasai kecemasan dan konflik yang dihadapinya. Permainan diyakini mampu meredakan ketegangan sehingga membantu anak dalam menyelesaikan masalah dan konflik yang dihadapi dalam hidupnya.

Secara lebih spesifik, setidaknya 5 manfaat permainan untuk perkembangan anak, yaitu:

Pertama, Fisik-motorik. Permainan akan mampu melatih motorik kasar dan halus anak sehingga otot- otot tubuh anak akan terbentuk secara baik, sehat dan seimbang.

Kedua, Sosio-emosional. Dengan bermain anak akan merasa senang karena ada teman, pada tahun- tahun pertama teman bermain adalah orang tua sehingga orang tua menjadi teman pertama dan utama bagi anak. Permainan akan semakin mendekatkan anak dengan orang tuanya sehingga anak merasa disayangi, di samping itu permainan akan merangsang anak untuk berkomunikasi dua arah.

Ketiga, Kognisi. Permainan akan membuka cakrawala baru sehingga anak dapat belajar, mengenal, dan mengalami obyek-obyek yang baru, seperti: permukaan yang hasul atau kasar, dan rasa yang manis atau pahit. Di samping itu permainan akan menambah perbendaharaan kata, bahasa, dan kesempatan komunikasi secara timbal balik. Setahap demi setahap ketika bermaian anak akan mulai memperhatikan sesuatu, memusatkan perhatian, dan mengamati

Keempat, Kepribadian. Dengan bermain anak dapat berinteraksi dengan teman sebayanya sehingga anak memiliki kemampuan untuk menilai diringan dibandingkan dengan teman-temannya, baik dari aspek kelebihan maupun kekurangan. Identifikasi ini akan membantu dalam pembentukan konsep diri yang positif yang akan menumbuhkan rasa percaya diri anak karena ia memiliki kelebihan tertentu. Interaksi anak bersama teman-temannya akan melatih anak untuk bersikap dan bertingkah laku yang baik, seperti: jujur, sportif dan ramah agar dapat diterima dan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya.

Kelima, kreatifitas. Permainan akan memberikan ruang untuk anak berimaginasi sehingga mampu mengekplorasi dan memanipulasi alat permainnya. Eksplorasi ini secara perlahan akan mampu mengasah kemampuan dan kreatifitas anak (Nikita, 2001; Tedjasaputra, 2001).

Sebagai contoh kreatifitas yang bias berujud dalam dua proses, yaitu : (1) developing new idea, dan (2) exploring idea. Isenberg & Jacobs (1982) memetakan secara lebih detail manfaat permainan dalam pengembangan kemampuan anak yang meliputi delapan (8) aspek, yaitu: (1) ideas and their vocabulary: (2) language development; (3) number ideas; (4) thinking skills; (5) symbolic representation; (6) measurement; (7) estimation; dan (8) perceptual-motor skills.

Psychologist Mildred Parten (1933) mencatat perubahan atau perkembangan pola permainan anak dari umur 2 (dua) sampai 5 (lima) tahun berdasarkan 5 (lima) tahap: (1) Permainan soliter, yaitu pada tahap ini anak cenderung bermain sendiri secara bebas sekalipun diselilingnya banyak anak-anak. Tahap ini biasanya terjadi pada anak usia 2 tahun; (2) Permainan paralel, yaitu masing-masing anak bermain pada kegiatan dan waktu yang sama. Anak menyadari akan kehadiran teman-teman sebaya namun tetap terpisah dan sibuk dengan permainannya sendiri; (3) Permainan bersama, yaitu pada tahap ini anak masih tetap fokus pada pola bermain secara terpisah, tetapi sudah mulai memperhatikan teman sebaya di lingkungannya, sudah mulai saling berbagi, saling pinjam alat permainan, saling bertukar kegiatan, dan bergabung dengan kegiatan teman-teman yang lain. Biasanya tahap ini terjadi pada anak usia 3-4 tahun; (4) Permainan kooperatif, yaitu merupakan tahap permainan paling tinggi yang menunjukkan kematangan sosial dan kognitif anak. Anak-anak mulai mampu mengorganisasi permainannya dan mampu bersosialisasi dengan teman sebaya.

Teori Parten tersebut di atas mempengaruhi pola pikir dan kebijakan para praktisi, pengajar, dan orang tua di Euro-American. Mereka cenderung menekankan manfaat kognitif permainan anak dan pengakuan kemampuan sosial masing-masing individu melalui bermain. Sementara itu, orangtua di Asia, Afrika, atau Hispanic-American cenderung berorientasi pada kelompok, interaksi dengan keluarga ataupun kelompok lain, bukan pada permainan.

Dalam konteks Indonesia, Kajian Hikmah terhadap permainan kuba-Kuba” di Jawa Tengah (2006 dalam Yuliani Nuraeni 2007) menemukan setidaknya ada delapan (8) aspek keterampilan yang dapat dikembangkan dalam permainan anak, yaitu: (1) intrapersonal (mengatur dan memahami emosinya sendiri); (2) interpersonal (perasaannya peka dan berinteraksi dengan temannya); (3) kinestetik (belajar melempar dan kecekatan gerak tubuh); (4) naturalistik (mengenal bahan alam dan lingkungan); (5) visual-spasial (mengenal dan memahami objek); (6) bahasa (berkomunikasi sebelum, selama dan sesudah bermain); (7) logika-matematika (menghitung, memperkirakan, strategi); dan (8) spiritual (berdoa sebelum bermain).

Dengan demikian, permainan memiliki peran yang penting dan signifikan dalam tumbuh kembang anak utamanya dalam mengoptimalkan kecerdasan majemuk anak (multiple intelligence). Oleh sebab itu, optimalisasi alat permainan tradisional yang mampu mengembangkan kecerdasan majemuk perlu mendapatkan perhatian serius dari semua pihak.

Diharapkan alat permainan tidak saja mampu merangsang kecerdasan anak tetapi juga memperkenalkan identitas dan keunikan bangsa terhadap anak sejak dini. Penelitian yang dilakukan oleh Mustaq Firin (2003) menemukan sedikitnya 172 jenis permainan anak yang tersebar di sebagian kabupaten dan kota di pulau Jawa. Penelitian dilakukan di Kota Yogyakarta, Kabupaten Gunung Kidul, Kulonprogo, Kebumen, Kota Semarang, kabupaten Ponorogo, Kabupaten Pacitan, Kota Surabaya, Kota Bogor dan DKI Jakarta.

Hasil penelitian menunjukkan besarnya manfaat alat permainan anak dalam mengembangkan kemampuan anak. Hasil penelitian tersebut memetakan 24 aspek untuk pengembangan kemampuan anak yang ada dalam permainan tradisional yang meliputi: ideas & their vocabulary; oral communication; rhyming words; conting; one-to- one correspondence; cardinality; ordinality; equality and inequality; natural of materials; calssifying; planning; decision making; patterning; seriation; developing new idea; exploring idea; symbolic representation; measurement; estimation; eye-hand coordination; directionality; visual discrimination; visual imagery; and other perceptual motor skills. Di antara ke 124 aspek yang selalu ada dalam hampir semua permainan adalah ideas and their vocabulary, yaitu sebanyak 114 permainan, disusul oleh oral communication untuk 80 permainan.

Kesimpulan dari penelitian Mustaq Firin tersebut adalah: (1) beragamnya alat permainan yang ada dengan kemampuan rangsangan yang beragam pula; dan (2) intensifnya kemampuan alat permainan dalam mengembangkan kemampuan anak, dengan kata lain, semua lat permainan mampu mengasah kemampuan yang dibutuhkan anak secara intensif, memadai dengan biaya dan kemudahan dalam membuatnya.

Dengan demikian, permainan anak tradisional yang dimiliki bangsa Indonesia sangat beragam. Untuk mendapatkan alat permainan tradisional tersebut cukup mudah dan murah karena dapat diperoleh di pasar tradisional dan pasar malam yang hanya ada beberapa kali saja dalam setahun. Kelemahan alat permainan tradisional adal aspek keamanan untuk dimankan anak-anak usia dini.

Oleh karena itu pemilihan cat, bahan logam maupun finishingnya masih terlihat kasar sehingga perlu perhatian dan pemberdayaan produsennya agar mampu menjamin keamanan alat tersebut. [***]

Penulis adalah peneliti di The Inter-university Center for Social Science Theory and Methodology (ICS), University of Groningen, The Netherlands


Komentar Pembaca
Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

, 16 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

, 16 AGUSTUS 2018 , 13:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00