Berita

Politik

Tokoh Tionghoa: Pecat Dubes Rusdi Kirana Jika Terlibat

JUMAT, 12 APRIL 2019 | 07:56 WIB | LAPORAN: DAR EDI YOGA

Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya dua video penggerebekan rumah di Malaysia terkait Pemilu Indonesia. Dua video yang viral di media sosial itu masing-masing berdurasi sekitar 5 menit dan berisi pemberitaan adanya indikasi kecurangan Pemilu Indonesia bagi pemilih di Malaysia.

Satu video berisi penggerebekan oleh sejumlah orang terhadap satu rumah kosong di Banggi, Selangor yang menyimpan puluhan kantong surat suara yang sudah tercoblos.  Sedangkan satu video lagi berisi penggerebekan terhadap sebuah rumah yang di dalamnya ada sejumlah orang, lelaki dan perempuan, yang terlihat sedang membuka kertas-kertas surat suara tersebut dan mencoblosnya.

Kedua video itu menunjukan adanya surat suara yang sudah tercoblos untuk pasangan calon presiden nomor 01, Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin dan dua Caleg dari Partai NasDem untuk Daerah Pemilihan (Dapil) II Jakarta nomor urut 2 dan 3 atas nama Davin Kirana (anak Dubes RI di Malaysia Rusdi Kirana) serta Ahmad.

Terkait beredarnya video itu, Koordinator Rumah Aspirasi Prabowo-Sandiaga Uno, Lieus Sungkharisma mengaku geram dan marah. “Saya benar-benar kecewa dengan kinerja KPU (Komisi Pemilihan Umum), khususnya Pokja PPLN. Kalau video itu benar, lalu mana itu jargon pemilu jurdil yang selalu mereka dengung-dengungkan?” tanyanya.

"Kalau berita itu benar, sungguh ini tragedi bagi demokrasi kita. Ini apa-apaan? Kita semua sedang berusaha membangun demokrasi yang baik melalui pemilu ini. Tapi kabar adanya kecurangan pemilu yang terjadi secara massif di Malaysia itu, membuat kita semakin meragukan kinerja KPU untuk menyelenggarakan pemilu ini secara luber dan jurdil,” ujar tokoh Tionghoa ini, dalam keterangan yang diterima redaksi (12/4).

Lieus meminta agar Bawaslu segera menyelidiki dengan sungguh-sungguh kasus ini. “Jika memang terjadi kecurangan dan ada indikasi keterlibatan pihak-pihak di Kedubes Malaysia, harus segera ditindak,” katanya. Bahkan, tambahnya, “jika terbukti Dubes Malaysia terlibat dalam kasus ini, yang bersangkutan harus dipecat,” tegasnya.

Menurut Lieus, apapun alasannya, apa yang terjadi di Malaysia tersebut telah mencederai proses demokrasi yang sedang kita bangun. “Jangan-jangan hal itu tak cuma terjadi di Malaysia, tapi di berbagai negara lain. Gawat jika begitu,” katanya.

Karena itu, tambah Lieus, ia meminta pada pasangan Capres 02, Prabowo-Sandi, jika nanti keduanya terpilih menjadi presiden RI, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan audit terhadap KPU dan kinerja para Dubes Indonesia di luar negeri. “Ya, lakukan audit investigasi terhadap KPU dan semua Dubes itu,” katanya.
Menurut Lieus lagi, hal-hal seperti inilah yang membuat Prabowo Subianto menjadi marah.

“Seperti ketika kampanye di Jogya itu, pak Prabowo marah karena masih ada pejabat Indonesia yang tega menggadaikan martabat bangsanya bahkan mengkhianati bangsanya sendiri demi kepentingan pribadi dan kelompok,” kata Lieus.

Atas beredarnya video itu, Lieus meminta agar KPU, Bawaslu dan aparat penegak hukum sungguh-sungguh menanganinya. “KPU dan Bawaslu tidak boleh main-main soal ini. Jangan sampai pemilu kita kehilangan legitimasi karena hal-hal seperti ini,” katanya.

“Kita semua harus ingat, sekarang yang sedang kita pertaruhkan tidak hanya kehidupan demokrasi, tapi juga kepercayaan masyarakat dunia,” katanya lagi.

Populer

TNI Minta Warga Tak Perlu Takut Aksi 22 Mei

Senin, 20 Mei 2019 | 14:17

Putusan Bawaslu Indikasikan Persekongkolan Antara KPU, Lembaga Survei Dan Kontestan Pemilu

Jumat, 17 Mei 2019 | 06:38

Dokter Ani Hasibuan Dipolisikan, Keluarga Besar UI: Kegilaan Ini Harus Dihentikan!

Jumat, 17 Mei 2019 | 05:17

Ribuan Umat Islam Surabaya Bakal Turun Ke Jalan Tolak Kecurangan

Selasa, 14 Mei 2019 | 04:42

SBY: Sejarah Mencatat, Prabowo Seorang Yang Menghormati Hukum, Champion Of Democracy

Rabu, 22 Mei 2019 | 00:02

Data BPN: Prabowo-Sandi Menang 54,24 Persen

Selasa, 14 Mei 2019 | 17:26

Mobil Komando Bersiap Di Seberang Rumah Prabowo

Rabu, 22 Mei 2019 | 11:32

UPDATE

Kasihan Ibu DMR Yang Sempat Dicurigai Teroris Bom Bunuh

Jumat, 24 Mei 2019 | 09:26

Polda Metro Jaya Panggil Amien Rais Jadi Saksi Makar Hari Ini

Jumat, 24 Mei 2019 | 09:19

HNW: MK Bukan Mahkamah Kalkulator

Jumat, 24 Mei 2019 | 08:52

MWA UI Bentuk Panitia Penjaringan Kandidat Rektor

Jumat, 24 Mei 2019 | 08:50

Pemilu Sudah Usai, Jangan Ada Lagi Statement Yang Tidak Menyejukkan

Jumat, 24 Mei 2019 | 08:43

Program Kementan Mampu Tekan Inflasi dan Sejahterakan Petani

Jumat, 24 Mei 2019 | 08:39

Sengketa Pemilu, Refly Harun Minta Hakim MK Jadi Negarawan Yang adil

Jumat, 24 Mei 2019 | 07:50

Meski Beban Puncak Menurun, PLN Tetap Siapkan Posko Siaga Lebaran 24 Jam

Jumat, 24 Mei 2019 | 07:31

Belasungkawa Dan Doa Tragedi 225

Jumat, 24 Mei 2019 | 07:07

Dua Tahun Lebih Di Penjara Mesir, Jurnalis Al Jazeera Mahmoud Hussein Akhirnya Bebas

Jumat, 24 Mei 2019 | 06:47

Selengkapnya