Berita

Publika

Sriwedari Dan Ambruknya Benteng Jokowi

KAMIS, 11 APRIL 2019 | 12:10 WIB

SOLO itu kota asal Jokowi. Dikenal pula sebagai kandang banteng. Solo juga identik dengan PDIP dan warna merah. Dari Solo, Jokowi ke Jakarta. Tepatnya ke balaikota, lalu ke istana.

Semua berawal dari Solo. Kota kecil dengan penduduk sekitar 300 ribu saat Jokowi jadi walikota. Dan di Solo ini nama Jokowi cemerlang sebagai walikota. Dua periode, kendati tak tuntas.

Mobil Esemka juga lahir dari Solo. Soal tak jadi diproduksi, itu hal lain. Sudah 12 tahun belum ada kabarnya. Itu bukan urusan presiden, kata Jokowi. Yang jelas, dengan naik mobil Esemka, Jokowi bisa sampai ke Jakarta. Apakah mobil Esemka hanya didesain khusus untuk mengantarkan Pak Jokowi ke Jakarta? Entahlah. Silakan tanyakan sendiri. Itu di luar kapasitas saya untuk menjelaskan.

Ini semua adalah cerita lama. Nostalgia masa lalu. Jokowi dielu-elukan masyarakat Solo. Putra daerah yang sukses jadi gubernur DKI, lalu presiden dengan modal mobil Esemka. Bagaimana dengan sekarang?

Cerita Jokowi 2019 sepertinya tak seindah dulu. 2010 sukses menjabat kedua kalinya sebagai walikota Solo. 2012, berhasil duduk sebagai gubernur DKI. Dan 2014, memenangkan pilpres. Setiap dua tahun, Jokowi naik posisinya. Luar biasa. 2019?

Di 2019, heroisme Jokowi nampaknya sudah mulai redup. Gelombang pujian tak lagi segenap gempita tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya Jokowi banjir para pemuja, tahun 2019 ini Jokowi banjir para pencela.

"Aku akan lawan" kata Jokowi.

Kepada siapa? Tentu kepada para pencela itu. Siapa mereka? Rakyat yang kecewa terhadap kepemimpinannya.

Sepinya pengunjung di acara kampanye Jokowi itu tanda, Jokowi sudah benar-benar redup. Eranya sudah selesai. Masyarakat Solo seolah ingin mengatakan: Pak Jokowi, cukup sampai di sini. Kami tak lagi menginginkanmu.

Kesimpulan ini tentu hasil analisis setelah melihat jumlah massa di acara kampanye Jokowi begitu sepi. Jokowi orang Solo, pernah jadi walikota Solo. Tapi kenapa sepi pengunjung ketika kampanye? Ini boleh jadi indikator bahwa masyarakat Solo tak lagi mendukung Jokowi. Bener tidaknya analisis ini, tetap yang paling akurat adalah hasil "real count" setelah pencoblosan 17 April nanti.

Sehari setelah Jokowi kampanye di Solo, giliran Prabowo berkampanye. Bagaimana jumlah massanya? Jika dibanding kampanye Jokowi, massa Prabowo jauh lebih besar.

Di kampanye Prabowo, turut hadir sejumlah jenderal, para ketua dan pengurus partai koalisi, dan juga para ulama, diantaranya Ustaz Bachtiar Nasir. Selain Habib Rizieq, Ketua Majlis Pelayan Indonesia (MPI) ini tercatat oleh sejarah sebagai inisiator 212 dan salah satu penggerak massa paling sukses.

Ada Ustaz Sambo, guru spiritual Prabowo, Ustaz Yusuf Martak, ketua GNPF dan Adhyaksa Dault, Komandan LASKAR TPS, mantan menpora dan KaKwarnas. Dihadiri pula oleh ulama-ulama lokal Solo yang satu persatu disebutkan namanya oleh Prabowo.  Jumlahnya cukup banyak.

Hadir pula mantan Wagub Jateng, yang juga kader PDIP, Rustiningsih. Dalam sambutannya, Rustiningsih bercerita tentang "banteng-banteng tua" (kader-kader PDIP senior) yang sudah beralih dukungan ke 02. Ini artinya terjadi migrasi dukungan di Jateng; dari Jokowi ke Prabowo.

Jika tanggal 9 April kampanye Jokowi di Solo sepi, maka tanggal 10 April, kampanye Prabowo membludak. Jumlahnya bahkan lebih dua kali lipat dari massa Jokowi.

Kalau lihat angka, nilai 10 memang lebih tinggi dan lebih sempurna dari nilai 9. Ah, ini hanya bercanda. Supaya anda gak terlalu tegang membaca. Saya juga gak paham soal "misteri angka".

Dalam kampanyenya di Sriwedari Solo, Jokowi didampingi Megawati, ketua umum PDIP. Juga Puan Maharani. Jokowi juga membawa Ian Kasela, band Radja dan Nella kharisma, penyanyi dangdut. Ibarat tim, ini lengkap. Ada presiden, ketum partai terbesar, menko, dan juga artis. Apakah tim yang lengkap ini berhasil menghadirkan massa yang besar? Ternyata tidak. Malah boleh jadi, jika Jokowi tak hadir, massa akan lebih banyak. Karena mereka ingin nonton Ian Kasela, dan berjoget bersama Nella Kharisma. Karena Jokowi hadir, jadi sepi.

Sepinya massa yang hadir di kampanye Jokowi di Solo ini merupakan tamparan keras terhadap kubu Jokowi. Bagaimana mungkin di kandang sendiri, putra daerah tak mendapat sambutan dan dukungan meriah dari masyarakatnya. Seharusnya, hadirnya Jokowi sebagai presiden dan capres menjadi kebanggaan masyarakat Solo. Ini putra daerah loh.

Kalau ini terjadi di tempat lain, tidak ada masalah. Tapi, ini terjadi di daerah sendiri. Tempat lahir, besar dan berkarir Jokowi. Tempat di mana Jokowi menjadi terkenal dan akhirnya bisa ke Jakarta. Kenapa masyarakat Solo tak bangga dengan putra daerahnya sendiri? Kenapa masyarakat Solo tak mau hadir di kampanye Jokowi? Apa yang salah dengan Jokowi? Apa dosa Jokowi? Kok gue jadi ikutan kesel ya? Hehehe...

Sepinya massa kampanye Jokowi tidak saja akan jadi beban bagi Jokowi dan timsesnya, tapi akan memviralkan pengaruh terhadap persepsi dan pilihan politik publik. Kalau di kandang sendiri kalah massa, bagaimana di kandang orang lain? Begitulah kira-kira persepsi yang akan terbentuk di kepala publik.

Ibarat main sepakbola, kalah di kandang sendiri itu memalukan. Begitu juga di dunia politik. Itu bisa merontokkan dukungan kepada Jokowi secara nasional.

2012 masyarakat Solo mengelu-elukan Jokowi. Suara ini nyaring dan didengar oleh publik secara nasional. Dan akhirnya, Jokowi pun diterima rakyat Indonesia. Berawal jadi gubernur DKI, lalu presiden. Super cepat dan super mudah. Ini semua berawal dari suara masyarakat Solo sebagai juru iklannya Jokowi.

Suara itu sekarang tak terdengar lagi. Kalau toh terdengar, suara itu sudah berubah. Bukan lagi Jokowi, tapi Prabowo. Suara Prabowo lebih nyaring. Setidaknya di Sriwedari saat kampanye. Apakah suara ini juga didengar oleh publik secara nasional? Boleh jadi iya.

Melihat jumlah massa kampanye antara Prabowo dan Jokowi, masyarakat Solo nampaknya telah beralih dukungan ke Prabowo. Apakah ini pesan sekaligus peringatan bahwa benteng Jokowi di Solo sudah benar-benar ambruk?

Tony Rosyid

Pengamat politik dan pemerhati bangsa

Populer

Mahfud: Tim Hukum Prabowo-Sandi Cerdik

Jumat, 14 Juni 2019 | 19:53

Pigai: Ada Lembaga Selain MK Yang Akan Perintahkan KPU Mendiskualifikasi Jokowi-Maruf

Minggu, 16 Juni 2019 | 18:24

Refly Harun: Jika Terbukti Menjabat Di BUMN Saat Pilpres, Maruf Bisa Didiskualifikasi

Selasa, 11 Juni 2019 | 15:09

Beredar Undangan Aksi Sambut Kemenangan Prabowo-Sandi, BPN: Itu Hoax

Minggu, 16 Juni 2019 | 08:38

Jika Prabowo-Sandi Kalah Di MK, Maka Kecurangan Akan Menjadi Sesuatu Yang Legal

Minggu, 16 Juni 2019 | 11:49

Tabrakan Maut Di Tol Cipali Diduga Berawal Penumpang Ngotot Minta Turun Di Bahu Jalan

Senin, 17 Juni 2019 | 14:11

Soenarko Diduga Makar, Bang Yos: Kok Agak Enggak Masuk Logika

Sabtu, 15 Juni 2019 | 21:20

UPDATE

Berkunjung Ke Yogyakarta, Caketum HIPMI Ini Ingatkan Pentingnya Sektor Ekonomi Kreatif

Jumat, 21 Juni 2019 | 05:46

Biar Tidak Mubazir, Saksi Jokowi-Maruf Tak Sebanyak Saksi Prabowo

Jumat, 21 Juni 2019 | 05:21

Kamera Intai

Jumat, 21 Juni 2019 | 05:00

Delegasi Coast Guard Manca Negara Kunjungi ‘Miniatur’ Indonesia

Jumat, 21 Juni 2019 | 04:39

Ara: Megawati Sosok Negarawan Dan Pancasilais Sejati

Jumat, 21 Juni 2019 | 04:26

PT Pembangunan Jaya Ancol Bagikan Deviden Senilai Rp 223 Miliar

Jumat, 21 Juni 2019 | 03:40

Geruduk Kemenkeu, APPKSI Tolak Pemberlakuan Pungutan Ekspor CPO

Jumat, 21 Juni 2019 | 03:14

Adu Mulut Kuasa Hukum Prabowo Dan Komisioner KPU Soal Amplop Tanpa Segel Dari Boyolali

Jumat, 21 Juni 2019 | 02:49

Korut Sambut Meriah Xi

Jumat, 21 Juni 2019 | 02:29

Menurut Ferdinand, Tidak Ada Yang Salah Pada Materi "Kecurangan Bagian Dari Demokrasi"

Jumat, 21 Juni 2019 | 02:13

Selengkapnya