Berita

On The Spot

Tetangga Sering Lihat Agus Cuci Mobil Sendiri

Ke Rumah Pimpinan KPK yang Diteror
JUMAT, 11 JANUARI 2019 | 09:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RMOL. Rumah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M Syarif diteror orang tak dikenal (OTK). Selepas 'dibom,' kediaman Agus di Perumahan Graha Indah, RT 4, RW 15, Kelurahan Jatimekar, Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, lebih ramai dari biasanya.

Hari itu, jalan di depan ru­mah Agus yang lebarnya sekira tujuhmeter, dipadati beberapa kendaraan. Selain milik aparat keamanan, sejumlah mobil beberapa media elektronik terparkir rapi di sekitarnya.

Kediaman Agus tak tampak seperti rumah pejabat tinggi negara pada umumnya, yang be­sar dan mewah. Ukuran bagian depan rumah ini, tak sampai 10 meter. Pagarnya terbagi dua. Satu bagian, selebar sekitar tiga meter, dipakai untuk akses ke­luar masuk. Sedangkan sisanya, merupakan pembatas rumah dengan jalanan.

Rumah itu terdiri dari dua lantai. Cat abu-abunya sudah mulai kusam. Noda di sana-sini, mendominasi rumah ini. Masuk ke bagian dalam, lang­sung berhadapan dengan garasi yang hanya muat satu mobil. Tapi, saat itu, mobil Agus tak ada. Hanya empat motor yang terparkir.

Untuk masuk ke dalam rumah, terdapat pintu yang modelnya bersisian. Pintu itu berkelir putih. Sudah mulai kusam. Saat itu, pintu dalam kondisi tertutup rapat. Hanya penghuni maupun pihak berkepentingan yang di­izinkan masuk.

Meski mendapat ancaman benda mirip bom paralon, aktivitas di sekitar rumah Agus berjalan seperti biasa. Meski ada penjagaan dari aparat, warga sekitar leluasa berlalu-lalang di depan rumah Agus. Pun beberapa bocah, asyik mengamati petugas yang sedang memasang kamera pengawas (CCTV) di rumah Agus.

Mendapat ancaman, tidak membuat Agus jiper menempati rumah ini. Malam hari, ia masih tidur di sini. Setelah sang fajar terbit, ia masih berangkat bertu­gas dari rumah ini.

Mantan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) ini, mengaku tak gentar menghadapi teror.

"Maju terus. Jangan takut. Tetap semangat demi kepentingan bersama. Teror tidak akan bisa melunturkan semangat member­antas korupsi," Agus bertutur. Raut mukanya santai.

Di lingkungan tempat tinggalnya ini, Agus dikenal sederhana dan suka bersosialisasi. Melky, tetangga Agus bercerita, kesederhanaan itu terlihat sebelum dan sesudah Agus menjadi Ketua KPK. Menurutnya, Agus kerap mengenakan kaus oblong putih saat keluar rumah.

Warga yang rumahnya berh­adap-hadapan dengan kediaman Agus itu, kerap melihat Ketua KPK ini mencuci mobilnya sendiri. Bahkan, Agus kerap jajan di warung kopi. Atau, membeli makanan sendiri.

"Pak Agus orangnya kelihatan bersahaja," Melky menilai.

Baginya, Agus ramah ke­pada tetangga. Melky sempat mengira, Agus bakal berubah saat jadi Ketua KPK. Tak ra­mah lagi. Bakal ditempel ketat para pengawal berbadan kekar. Berwajah garang. Mengingat, KPK dimusuhi koruptor. Tetapi, perkiraan Melky salah.

"Ternyata sama saja. Kehidupan sehari-harinya nggak neko-neko. Istri dan anaknya, barang-barang dan penampilannya sederhana," Melky menilai lagi.

Ia menambahkan, setiap hari Agus pulang kerja ke rumah tersebut. Agus kelihatannya cinta rumahnya. Nyaman dengan rumahnya. "Kalau banjir, dia tetap pulang. Celananya digu­lung. Kenapa nggak nginap saja di hotel," ujarnya.

Bekas Ledakan Di Dinding Sudah Dicat Lagi  

Tambahan pengamanan juga tampak di rumah Laode Syarif, Wakil Ketua KPK.

Beberapa polisi, lengkap denganmobil patroli, berada di rumah Laode. Rumah yang berada di Jalan Kalibata Selatan, Pancoran, Jakarta Selatan. Mobil kepolisian diparkir persis di depan pagar. Di rumah itu, orang tak dikenal (OTK) melemparkan dua bom molotov. Salah satunya meledak. Meninggalkan bekas di dinding yang menghitam.

Kemarin, bekas ledakan itu sudah hilang. Dua orang terlihatmengecat ulang. Warnanya senada dengan warna dinding. Pengecatan ulang tak berlangsung lama. Selain bekas yang tak ter­lalu besar, posisinya pun mudah untuk melakukan pengecatan. Sekira 15 menit saja, bekas ledakan sudah sewarna dengan dinding di sekitarnya.

Sama seperti Agus, Laode pun tetap menempati rumahnya. Malam hari usai kejadian, Laode tetap pulang. Tidur di rumahnya. Pagi harinya, Laode angkat bicara. Mengaku tidak gentar terhadap teror.

"Biasa saja, biasa saja. Mudah-mudahan, tidak terjadi apa-apa. Doakan saja," ia berkata.

Saat ditanya, apakah sebelumnya pernah mendapat teror, Laode menjawab diplomatis. Hal ini, menurutnya, merupakandinamika tugas KPK dalam memberantas korupsi.

"Kerja di KPK itu banyak warna-warninya. Makanya, kalian ke sini. Harusnya, nggak usah ke sini," ia bertutur.

Laode mempercayakan pen­gungkapan kasus ini ke polisi. Berharap polisi segera menang­kap pihak yang bertanggung jawab. "Katanya, kasus begini sulit diungkap. Kita berharap ke­pada teman-teman di Polri, agar bisa mengungkapnya. Supaya jelas," pinta Laode.

Latar Belakang
Rumah Agus Dilempari Bom Palsu Rumah Laode Dilempari Molotov


Pimpinan KPK diteror. Rumah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua Laode M Syarif, dilempari benda yang diduga bom.

Di rumah Agus diduga bom paralon. Namun, tidak meledak. Sedangkan di rumah Laode, dua bom molotov. Salah satunya meledak.

Peristiwa itu terungkap pada Rabu (9/1). Pertama kali, bom molotov ditemukan di rumah Laode yang terletak di Jalan Kalibata Selatan, Pancoran, Jakarta Selatan. Rumah Laode dilempari dua benda yang diduga bom molotov pada Rabu pagi itu. Ada dua botol berisi bahan bakar. Satu botol pecah. Botol lainnya utuh.

Selang beberapa jam, di ke­diaman Ketua KPK Agus yang berada di Jati Asih, Bekasi, juga ditemukan benda mencuriga­kan. Sebuah bom mirip bom paralon, ditemukan persis di depan rumah Agus.

Karopenas Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan, tim dari Polda Metro Jaya dengan bantuan dari Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri, sudah diterjunkan ke lapangan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan bukti.

Menurutnya, hingga kini poli­si sudah menemukan pecahan botol, bekas asap dan api di kediaman Laode. Berdasarkan pantauan kamera pengawas yang ada di rumah Laode, kata Dedi, terlihat orang mencurigakan di depan rumah. Sekitar jam satu dini hari.

Tim yang sudah dibentuk Kapolda Metro Jaya, lanjutnya, fokus melakukan investigasi, melakukan pemeriksaan saksi yang ada di TKP. "Densus juga akan membantu tim ini bekerja secara efektif dan efisien," kata Dedi.

Dedi menambahkan, polisi maupun internal KPK terus melakukan penjagaan di rumah Agus dan Laode.

Terpisah, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Muhammad Iqbal mengatakan, dari hasil pemeriksaan Puslabfor Polri, benda mencurigakan di dalam tas yang digantung di pagar kediaman Agus Rahardjo, dipasti­kan bukan bom.

"Polri menyimpulkan, yang ditemukan di lokasi kediaman Pak Agus di Bekasi adalah bom palsu. Fake bomb," ujar Iqbal.

Iqbal menuturkan, dalam tas itu ada benda yang menyerupai rangkaian bom. Yakni, paralon yang disusun dengan baterai, ser­buk putih, paku, kabel, detonator, dan sekring. Iqbal mengatakan, saat ini penyidik sedang bekerja untuk menelusuri pelaku.

"Kita akan ungkap motifnya apa. Tunggu saja," tutur Iqbal.

Soal penyerangan rumah Laode, Iqbal mengatakan, satu dari dua bom yang dilemparkan, dipastikan tak meledak.

Iqbal kemudian mengimbau masyarakat agar percaya kepada Polri untuk menangani kasus teror terhadap pimpinan KPK.

Menurut mantan Kapolrestabes Surabaya ini, polisi bekerja ses­uai fakta-fakta yang ditemukan di lapangan.

"Yang paling penting, masyarakat perlu diberikan edukasi. Ini adalah kriminal. Domainnya polisi," tuturnya. ***

Populer

Habis Dipermalukan Mahathir, Rocky Gerung: Nah Dungunya Di Situ

Minggu, 17 Maret 2019 | 18:45

Akhirnya Tumbang Juga Saya, Punya Fasilitas BPJS Kesehatan Kelas 1 Tapi Tak Bisa Dipakai

Minggu, 17 Maret 2019 | 14:06

Pengamat: Survei Litbang Kompas Menunjukkan Jokowi Sangat Mungkin Dikalahkan

Rabu, 20 Maret 2019 | 10:54

Kades Se-Indonesia Diminta Rp 3 Juta Untuk Dapat Hadiri Silaturahmi Nasional Dengan Presiden

Selasa, 19 Maret 2019 | 08:16

Jokowi 'Ngamuk' Di Yogyakarta Terkesan Depresi Tingkat Tinggi, Mentalnya Sudah Jatuh

Minggu, 24 Maret 2019 | 08:29

Apel Kebangsaan Rp 18 M, Bantuan Musibah Sentani Hanya Rp 1 M

Senin, 18 Maret 2019 | 16:28

Kalau BPK Dan KPK Bisa Buktikan, Sangat Mungkin Ganjar Menyusul Romi

Sabtu, 16 Maret 2019 | 14:14

UPDATE

Akui Operasi Wajah, Ratna: Jangan Munafik! Siapa Yang Enggak Mau Cantik

Selasa, 26 Maret 2019 | 19:28

Koleksi Fadli Zon Kembali Pecahkan Rekor MURI

Selasa, 26 Maret 2019 | 19:27

Kampanye Di Pamekasan, AHY Ingatkan Pembangunan Suramadu

Selasa, 26 Maret 2019 | 19:10

Modal Awal Rp 30 Juta Bisa Percantik Pantai Leledana

Selasa, 26 Maret 2019 | 19:01

Jepang Lirik Bisnis Limbah Dan Gulma Indonesia

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:59

Peresmian MRT Pakai Kaos, Jokowi Malu-maluin Dan Tidak Punya Etika

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:57

Hotel Borobudur Banyak Genderuwo Dan Jin, Amien Rais Minta Penghitungan Suara Dilakukan Di DPR

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:48

ASEAN Komitmen Perkuat Pengawasan Dan Perlindungan Pekerja

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:32

Rusun Peneliti LIPI Di Cibinong Selesai Dibangun

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:32

Empat Negara Teluk Tolak Pengakuan AS Soal Kedaulatan Israel Atas Golan

Selasa, 26 Maret 2019 | 18:30

Selengkapnya