Hanura

Mudik Dan Narasi Politik Ngulik

Suara Publik  RABU, 13 JUNI 2018 , 14:35:00 WIB

MENJELANG lebaran, masyarakat kita disibukkan dengan ajang tahunan yang lazim dinamakan mudik.Mudik adalah fenomena sosial yang sudah menjadi tradisi di mana seseorang yang merantau ke kota pulang ke kampung halamannya di momen tertentu seperti hari raya lebaran, biasanya terjadi di minggu terakhir bulan puasa.

Dirunut dari asal katanya, asal-usul kata mudik cukup beragam. Itu hal yang wajar dalam ilmu sosial dan budaya. Dalam pengertian yang populer, mudik berasal dari kata udik yang mengandung makna kampung, desa, dusun atau daerah. Dalam bahasa Jawa, mudik berarti mulih dilik atau pulang
sebentar.

Menurut Ridwan Saidi seorang budayawan Betawi, mudik memiliki keterkaitan dengan kata milir. Milir-mudik adalah kegiatan yang dilakukan oleh para petani dan para pedagang pada masa kolonial dalam mengangkut hasil panennya melalui jalur sungai dan dilakukan secara terus menerus. Dengan kata lain milir-mudik berarti bolak-balik.

Menurutnya juga, istilah mudik memiliki arti berjalan menuju ke arah yang lebih sepi. Sedangkan milir berjalan menuju ke arah yang lebih ramai. Artinya, mudik diidentikkan dengan pulangnya para perantau dari kota ke desa atau kampung halamannya, dari keramaian ke kesepian.

Dulu hanya kota Jakarta lah yang menjadi titik mudik, karena Jakarta kota satu-satunya yang ada pada waktu itu. Sekarang kita memiliki 98 kota yang tersebar di seluruh Indonesia. Artinya jumlah pemudik tidak hanya terpaku bagi mereka yang merantau ke Jakarta melainkan ke kota-kota lainnya juga dan bisa kita bayangkan betapa besarnya jumlah para pemudik itu.

Dalam tatanan ekonomi, kondisi ini memberikan sumbangsih yang signifikan karena pendapatan daerah akan terbantu oleh perputaran uang yang dibawa oleh para pemudik. Pendapatan Tukang ojek pangkalan, sopir angkutan desa, tukang beras, tukang bubur, tukang bakso, tukang asongan, tukang kupat tahu dan pasar tradisional dipastikan akan meningkat dibandingkan hari-hari sebelumnya terlebih tradisi kita kalau di bulan Syawal marak hajatan seperti nikahan, sunnatan lamaran, syukuran dan lain-lain .

Dalam tatanan agama, mudik juga dijadikan ajang silaturahmi dengan orang tua, sanak saudara, sahabat karib, guru, kawan lama, mertua karena sekian lama sudah tak jumpa. Hal ini bisa kita rujuk pada Q.S An-Nisa ayat 1. Tak hanya itu, dalam aspek spritual, mudik diartikan sebagai perumpamaan di mana kita kelak akan pulang (mudik) ke hadapan sang maha pencipta. Dunia diibaratkan tempat perantauan manusia dengan segala tektek- bengek urusannya yang sementara dan akhirnya akan menuju atau mudik ke tempat sesungguhnya yaitu akhirat.

Menurut Abdul Madjid guru besar UPI, mudik bisa diartikan sebagai simbol kesadaran rohani akibat kemampuan spritualitas yang teralami sehari-hari di kota akibat dari rutinitas kerja yang berbanding lurus dengan Kesadaran bahwa dirinya tidak memiliki apa -apa kecuali bahwa dirinya hanya milik Allah Swt.

Dan semua apa yang dimilikinya itu semata-mata berada dalam genggaman Allah Swt yang pada suatu saat akan kembali ke hadapan Nya. Hal ini bisa kita rujuk pada Q.S al-Baqarah 156.

Inilah yang dimaksud bahwa mudik itu simbolisme dari spritualitas, dalam titik tertentu manusia akan mengalami dan menyadari bahwa semuanya itu akan kembali (mudik) ke hadapan-Nya. Dengan begitu mudik tidak hanya mengandung nilai-nilai kultural akan tetapi juga mengandung nilai-
nilai spritual. Lantas di manakah korelasi antara mudik dengan aspek politik?

Ngulik Demi Agenda Politik

Siapa sangka, dewasa ini mudik disisipi embel-embel politik. Belakangan kita diramaikan dengan Pesan klakson tiga kali bagi para pemudik sebagai dukungan #2019 ganti presiden, spanduk ucapan terima kasih pada presiden, dan mudik gratis itu semua bisa kita terjemahkan sebagai upaya ngulik para elit politik demi  mendapatkan suara rakyat khususnya para pemudik.

Dalam ideopolstratak, ketika momen politik telah dimulai sekecil apapun gerakan suatu kelompok politik, baik posisi maupun oposisi itu diperhitungkan, satu sama lain saling menduga, saling bermanuver demi eksistensi dan kemenangan kelompoknya.

Penomena mudik bak ladang hijau bagi para elit dalam bermanuver khususnya di ajang Pilkada serentak yang akan diselenggarakan pada 27 Juni mendatang. Tentu sebagian besar para pemudik masih memiliki KTP daerahnya masing-masing dan tentu juga tidak semuanya para pemudik adalah PNS atau karyawan kantoran yang masa liburnya dibatasi.

Ini keuntungan tersendiri bagi pihak tertentu agar para pemudik masih sudi berlama-lama menunaikan kerinduan kampung halaman
sembari menunggu momen lima tahunan.

Artinya, para pemudik dipastikan terdaftar baik sebagai DPS maupun DPT yang suaranya masih dimungkinkan berlabuh pada salah satu paslon. Dalam meraih  simpati itu tim pemenang harus pandai-pandai ngulik (mengotak-atik, mencari-cari, menggali) celah kebutuhan rakyat seperti yang telah disebutkan tadi.

Di sisi lain ini, kondisi demikian merupakan keuntungan tersendiri bagi KPU
dalam mengajak masyarakat untuk mengapresiasi pesta demokrasi lima tahunan ini.

Penulis menilai bahwa ngulik demi agenda politik itu di momen- momen tertentu seperti mudik, dalam alam demokrasi selama tidak melanggar ketentuan bawaslu dan hukum lainnya merupakan hal yang wajar.

Namun perlu diingat bahwa meski tidak melanggar ketentuan tersebut tapi menimbulkan kegaduhan di sana-sini itu tidak wajar dan menandakan bahwa sikap demokrasi kita masih kekanak-kanakan.

Elit politik sebaiknya mengedepankan etika dan kedewasaan politik, hindari kampanye yang menimbulkan percikan pertikaian yang akan membuat gaduh keharmonisan bangsa khususnya dalam menyambut hari kemenangan (Idul Fitri).

Idul Fitri selain dimaknai sebagai hari kembalinya kepada kesucian, Cak Nur membahasakannya dengan hari raya kesucian, juga dimaknai sebagai hari kemenangan.

Makanya ada istilah minal aidzin wal faizin yang artinya "termasuk orang-orang yang kembali dan orang orang yang menang. Termasuk orang orang yang kembali maksudnya kembali kepada keadaan suci dan menang berarti
kita telah mampu menahan segala godaan selama puasa.

Oleh karena itu sudah sepatutnya kita gunakan momentum sakral ini sebagai titik balik kita dalam menjalankan semua urusan termasuk ihwal politik berdasarkan pesan- pesan ketuhanan. [***]

Rusdi Ali Hanafia
(Ketua HMI Badko Jabodetabeka-Banten Bidang Kewirausahaan periode 2016-2018)

Komentar Pembaca
Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

, 16 JULI 2018 , 15:00:00

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

, 16 JULI 2018 , 13:00:00

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

JK Jadi Saksi

JK Jadi Saksi

, 12 JULI 2018 , 00:26:00