Hanura

Mahasiswa Zaman Now: Tetes Darah Revolusi Atau Hiruk Pikuk Mall Basa Basi?

Suara Publik  RABU, 11 APRIL 2018 , 08:03:00 WIB

THOMAS Friedman dalam bukunya The World is Flat, menggambarkan tiga gelombang globalisasi dalam sejarah kehidupan manusia.

Friedman hendak menunjukkan bagaimana sebuah fase perkembangan manusia yang dalam setiap lintas sejarahnya dikuasai oleh instrumen yang berbeda. Misalnya, gelombang pertama disebut oleh Friedman dengan Gelombang 1.0, fase ini berlangsung sejak 1497-1800.

Di masa ini negara menjadi kendali (driving force) dalam memainkan dinamika kehidupan manusia. Gelombang kedua disebut dengan Gelombang 2.0, masa gelombang ini ditandai dengan bermunculan perusahaan multinasional (multinational company) yang menjadi kendali dalam kehidupan manusia, tak tanggung-tanggung kendali tersebut bukan hanya berlaku di satu negara saja, melainkan juga menghilangkan sekat geografis antar negara.

Gelombang 2.0 berlangsung sejak 1800 sampai dengan 2000. Gelombang globalisasi terakhir yang berlangsung sejak 2000 sampai sekarang dan seterusnya, ditandai dengan ruang aktualisasi individu yang semakin luas, bebas, terbatas-tidak terbatas dan dapat berlaku dalam beragam aspek kehidupan. Gelombang inilah yang dikenal dengan sebutan gelombang 3.0, dimana era ini ditandai dengan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin deras dan tidak terbendung.

Pada perkembangan gelombang globalisasi yang terakhir, dikenal pula dengan era digital, era teknologi komunikasi, era bermediasi, era dimana segala kehidupan manusia dapat ditampilkan melalui sebuah layar.

Pada era inilah, struktur interaksi manusia mengalami pergeseran, dari awalnya serba mengandalkan fisik (tatap muka) beralih menggunakan media layar (gadget, tv, laptop, dan lain-lain). Tentunya, peralihan struktur interaksi ini berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik hal-hal yang bersifat remeh temeh sampai segala sesuatu yang berpengaruh signifikan terhadap kehidupan manusia dalam konteks agama, bangsa dan negara. Termasuk, pelibatan subjek (orang per orang, kelompok, institusi sosial, dan lain-lain) dalam memandang dunia (agama, ekonomi, politik, budaya) dan memaknainya.

Sebagaimana judul di atas, tulisan ini akan dimaksudkan sebagai pemantik diskusi berkaitan dengan bagaimana posisi dan peran strategis “mahasiswa dan gerakan mahasiswa” khususnya di Indonesia pada masa gelombang 3.0, era digital yang menuntut segala sesuatu serba cepat, kreatif, individualistik sekaligus menyisipkan rasa optimis dalam menjawab beragam tantangan dan problematika sosial-politik kebangsaan.

Trend Mahasiswa Zaman Now: Antara Literasi dan Selebrasi
Karl Mannheimm dalam The Problem of Generation mengklasifikasikan generasi manusia ke dalam beberapa kelompok yang didasarkan pada tahun kelahiran dan dinamika kehidupan yang terjadi pada masanya. Dimulai dari sebutan terhadap Generasi Perang Dunia II, Generasi Paska Perang Dunia II, Generasi Bobby Boomer I (kisaran kelahiran 1946-1964), Generasi Bobby Boomer II (kisaran kelahiran 1965-1970), Generasi X (kisaran kelahiran 1971-1980), Generasi Milenial (kisaran kelahiran 1981-1994), dan Generasi Z (kisaran kelahiran 1995-2010).

Yang menarik untuk dikaji adalah bagaimana kemunculan klasifikasi generasi ini didalamnya selalu dilibatkan problematika yang berkaitan dengan etika, kesadaran sosial-politik, kecanggihan teknologi sampai dengan peran personal-komunal tiap generasi terhadap dinamika kehidupan bangsanya.

Kalaulah boleh kita definisikan ungkapan “zaman now” yang muncul kemudian, adalah sebutan bagi generasi Z yang lahir pada kisaran 1995 sampai media tahun 2000an. Di mana, generasi ini adalah generasi yang sejak dilahirkan sudah mengenal internet sebagai new media yang dipandang merubah secara signifikan struktur interaksi manusia.

Namun, “zaman now” pula dapat disisipkan pada generasi milenial atau disebut juga generasi Y yang lahir pada masa pra internet dan post internet. Artinya, generasi Y ini menjadi satu generasi yang mengalami kehidupan tanpa media sosial (secara sederhana) dan kehidupan saat media sosial lahir dan berkembang. Dengan demikian, trend mahasiswa dan gerakan mahasiswa zaman now di Indonesia dapat kita batasi pada medio 1998 sampai dengan sekarang.

Arif Novianto dalam tulisannya (2015) menggambarkan kondisi mahasiswa zaman now yang mulai kehilangan sandaran dan arah perjuangan dalam menuntaskan agenda revolusi nasional yang dimulai sejak 1998.

Novianto berasumsi bahwa mitos mahasiswa dan gerakan mahasiswa sebagai agent of change mulai menjauh dari realitas sosial yang ada. Di mana dia menggambarkan bagaimana hari ini, khususnya di Indonesia sering didapati mahasiswa yang hanya sekedar menjadi jurukeprok pada acara-acara TV, atau mahasiswa yang hilir mudik meramaikan khazanah pusat perbelanjaan semacam mall, nogkrong-nongkrong di kafe dan cenderung menjauh dari kesulitan rakyat kecil.

Bahkan tidak sedikit pula mahasiswa yang hari ini doyan membincangkan perkara remeh temeh semacam artis idola, film populer, trend atau mode pakaian, anti demo bahkan mencibir yang melakukan demo di jalan, beberapa hal selebrasi gaya hidup.

Padahal, semestinya mahasiswa menjadi jembatan rakyat kecil yang kesehariannya dihabiskan dengan narasi-narasi perjuangan yang tidak luput dari nilai-nilai literasi. Sebab, kalau kita membaca peristiwa “zaman bergerak” pada kurun waktu 1912-19126 menjadi cikal bakal kemunculan kesadaran perjuangan, kesadaran anti feodalisme, kesadaran anti imperialisme, dan kesadaran anti kolonialisme. Kesemuanya dibentuk melalui habitus budaya dan kesadaran mahasiswa secara intelektual yang memiliki hasrat pergerakan dan perjuangan.

Belum lagi dalam konteks gerakan mahasiswa, berapa persen dari total aktivis mahasiswa yang melibatkan dirinya secara live in bersama rakyat kecil. Adanya gerakan, himpunan, dan kesatuan mahasiswa hari ini terjebak pada ritus-ritus organisasi yang menafikan esensi perjuangan terhadap rakyat kecil.

Hal ini dapat dilihat dari gagasan gerakan mahasiswa yang masih terjebak pada isu-isu elite nasional, atau menjadi kepanjangantangan tokoh-tokoh politik nasional tertentu, atau bahkan gerakan mahasiswa tidak bedanya dengan event organizer  yang merasa puas ketika berhasil mendatangkan artis idola, mengundang pejabat atau politis tertentu, atau bermitra secara seremonial dengan institusi atau lembaga negara tertentu.

Persepsi mengenai mahasiswa dan gerakan mahasiswa “zaman now” yang ruhnya berbeda pada masa “zaman bergerak” boleh jadi disebabkan hilangnya habitus literasi dalam diri mahasiswa baik secara personal maupun komunal. Sehingga, trend mahasiswa dan gerakan mahasiswa “zaman now” terjebak pada selebrasi gaya hidup dan selebrasi politik yang tak jelas, tidak tegas, kurang berani dan tidak berbasis massa-rakyat.

Novianto sendiri mengungkapkan bahwa trend mahasiswa dan gerakan mahasiswa yang berkembang hari ini boleh jadi disebabkan karena hilangnya sandaran dan ketidakjelasan arah perjuangan mahasiswa paska 1998. Perjuangan 1998 atas dasar kesatuan komando antara mahasiswa, buruh, petani, nelayan dan rakyat kecil belum mampu melahirkan pemimpin politik nasional yang mampu mengomando dan menyelesaikan agenda revolusi nasional.

Akhirnya, gerakan mahasiswa terjebak pada isu elit yang disetir melaui media nasional dan dibajak oleh tokoh-tokoh politik yang berada di lingkaran ORBA semacam Amien Rais, Megawati, Gusdur dan Sultan Hamengku. Pada akhirnya, trend gerakan mahasiswa terjebak pada habitus budaya yang jauh dari politik nilai, terpenjara oleh komersialisasi pendidikan yang melahirkan gaya hidup pragmatis dan glamour (hedonis) serta memuncakkan agenda neo liberalisme yang merujuk pada kapitalisasi ekonomi dan politik bangsa.

Menolak Lupa, Sejarah Juang Mahasiswa

Belajar dari sejarah, tentu menjadi hal yang harus dilakukan oleh siapapun. Sejarah menanamkan sikap bijak dalam diri kita dalam menentukan langkah selanjutnya. Termasuk ihwal pergerakan mahasiswa. Kurun 1912-1926 dalam lintas sejarah Indonesia menjadi masa-masa yang penting untuk merekam peristiwa “zaman bergerak” yang membidani kemerdekaan Indonesia.

Di masa ini, kesadaran intelektual para pelajar, mahasiswa dan pemuda mengalir dengan deras dalam kehidupan massa-rakyat. Sejak saat itu pula, propaganda dan konsolidasi yang dilakukan kaum terpelajar ini berhasil membuka cakrawala kesadaran pribumi mengenai arti penting mempertahankan martabat kebangsaan dan meneteskan keringat dan darah demi kemerdekaan manusia.

Interaksi kaum terpelajar yang terlibat secara penuh dengan rakyat kecil berhasil mewujudkan kesadaran politik yang berujung pada mobilisasi massa dan radikalisasi gerakan dalam melawan penjajahan dan ketertindasan.

Berkait dengan zaman bergerak ini, maka pada masa-masa selanjutnya adalah perjuangan yang tidak bisa dilepaskan dari kesadaran perlawanan pada zaman bergerak. 1926-1945 adalah masa-masa kritis perjuangan yang mengalami pasang surut.

Pergerakan bumi putra diuji melalui serangkaian agresi militer Belanda dan penjajahan Jepang. Namun, ide anti kolonialisme dan imperialisme menggema di seantero nusantara untuk melakukan perlawanan baik melalui perang gerilya, pemogokan, diplomasi, rapat akbar, bahkan dengan menghimpun diri dalam sebuah partai politik. Ide-ide perlawanan ini berujung dengan tuntutan kemerdekaan Indonesia, nasionalisasi aset Indonesia, land reform, dan tuntutan untuk hidup berdikari dan berdaulat sebagai sebuah bangsa dan negara.

Paska merdeka, gerakan kaum terpelajar tidak pernah mati. 1965-1967 adalah fase dimana gerakan mahasiswa mulai diinfiltrasi oleh alat negara. Paska menumbangkan orde lama yang bertahta sejak 1945-1965, karena agenda kemerdekaan mulai menjauh dari tujuan awalnya, maka atas campur tangan militer, gerakan mahasiswa bergemuruh menumbangkan orla sekaligus mendukung pemerintahan orde baru sampai 32 tahun mendatang. Gerakan mahasiswa yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) berselingkuh dengan tentara AD dan berhasil melangengkan kekuasaan ORBA yang militeristik.

Hal ini, menurut Novianto dapat dilihat dari bercokolnya tokoh KAMI menjadi bagian dari pemerintahan orba pada masanya. Awal 1970an, gerakan mahasiswa terjebak pada ide moralitas. Arief Budiman misalnya, yang terkenal sebagai tokoh mahasiswa di zaman ini mengkampanyekan gerakan golput dalam pemilihan umum.

Pada masa ini, gerakan mahasiswa terjebak pada rutinitas teoritis yang mana bentuk perlawanannya hanya sebatas membuat pernyataan sikap tanpa mau melibatkan massa-rakyat.

Kondisi ini didorong oleh adanya kebijakan “Massa Mengambang” yang digagas Ali Moertopo dan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) bahwa kampus pusat pendidikan semata yang harus menjauh dari dinamika politik bangsa. Sehingga, gerakan mahasiswa di era ini tidak memiliki sandaran politik yang berujung pada BUTA POLITIK.

Belajar dari masa-masa sebelumnya, terutama ketika 1980 di Filipina melalui strategi live in gerakan mahasiswa berhasil menumbangkan diktator Marcos. Maka, spektrum gerakan mahasiswa Indonesia pada 1980-1998 banyak melibatkan dirinya dengan massa-rakyat. Pada saat itu, mahasiswa tidak betah hanya bertengger saja di kampus, melainkan mulai meramaikan wacana kerakyatan sekaligus melibatkan dirinya dalam kasus-kasus perburuhan, kawasan pinggiran kota, dan isu-isu konflik agraria.

Bersama petani, buruh, nelayan dan massa-rakyat lainnya, kaum terpelajar menghimpun kekuatan yang ujungnya adalah reformasi 1998 dengan melengserkan Soeharto. Sebagaimana diungkapkan di atas, selepas tragedi 1998 ini gerakan mahasiswa tidak sampai menuntaskan agenda revolusi nasional.

1999-2000an adalah fase transisi demokrasi yang masih tidak jelas bagaimana arah perjuangan mahasiswa. Agenda revolusi nasional ala kaum terpelajar belum mampu melahirkan pemimpin nasional dari kalangan pergerakan yang mampu membawa perubahan sebagaiman tuntutan di awal. Agenda revolusi ini masih dibajak oleh tokoh-tokoh yang pernah terlibat dalam pusaran ORBA. Akhirnya, gerakan mahasiswa paska 1998 mengalami degenerasi dan deideologisasi gerakan.

“PR” Gerakan Mahasiswa Ke Depan

 Ada ungkapan yang menarik dari seorang Pramoedya Ananta Toer. “Kita secara nasional dilahirkan oleh revolusi nasional dan berhasil menghalau imperialisme...disusul perjuangan menuntaskan revolusi: sekarang itu sudah padam sama sekali. Kesimpulan saya: karena perkembangan ORBA menyalahi sejarah sebagai titik awal tempat bertolak sehingga kehilangan arah tak tau tujuan, alias ngawur”.

Ungkapan tersebut adalah autokritik untuk seluruh elemen bangsa Indonesia. Yang terbersit dari ungkapan di atas adalah tali kerangkeng dan penjara orba telah ternanam dalam mentalitas generasi bangsa, sehingga sukar melakukan perubahan sebagaimana yang dikehendaki. Kebijakan-kebijkan orba yang dipandang menyejahterakan menutup mata dan telinga perlawanan dari generasi bangsa. Bahkan hal tersebut seolah diamini tatkala hari ini para pemimpin penerus Soeharto dipandang belum mampu menjawab tuntutan reformasi.

Munculnya ungkapan “piye kabare? Enak jamanku to..” yang ditambahkan dengan foto diri Soeharto yang bersebaran di berbagai media gambar semakin mengkonfirmasi wujud mentalitas bangsa ini yang belum bisa “move on” dari penindasan dan manipulasi orba. Hal ini berakibat pada kondisi bangsa ini secara nasional.

BUTA POLITIK yang dilahirkan melalui aktivitas sosial dan politik yang tak jelas tujuannya hinggap dalam gerakan mahasiswa “zaman now” yang akhirnya trend yang berkembang adalah politik bukan dalam skala perjuangan, melainkan politik dalam konteks selebrasi. Gagasan intelektualitas mahasiswa muncul tidak dalam madah literasi berdarah-darah, melainkan sekedar obrolan basa basi di mall, kafe atau warung kopi.

Akhirnya, “PR” mahasiswa dan gerakan mahasiswa ke depan adalah bagaimana menyambunglidahkan perjuangan dan mental perlawanan terhadap segala penindasan dan kezaliman yang dilakukan oleh siapapun terhadap rakyat kecil. Gerakan mahasiswa harus bisa menghidupkan kembali perjuangan politik 1912-1926 dengan spirit perlawanan kaum terpelajar yang berhasil melahirkan kesadaran nasional.

 Gerakan mahasiswa harus kembali terlibat secara live in bersama massa rakyat dalam aksi-aksi nyata, mampu memobilisasi gerakan dan membuat rencana gerakan yang semata-mata memperjuangkan kepentingan rakyat. Gerakan mahasiswa “zaman now” jangan terjebak pada ritus organisasi yang berujung pada selebrasi atau event organizer, bangun dari ruang-ruang dunia maya. Sebab tidak cukup hanya membuat “petisi online” tetapi juga harus hadir di ruang nyata bersama rakyat kecil menuntaskan agenda revolusi nasional.[***]
   

Ridwan Rustandi

Penulis adalah Ketua MPO Hima Persis Jawa Barat 2016-2018;
Pegiat Dakwah Komunita;  dan Dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung


Komentar Pembaca
Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

, 16 JULI 2018 , 13:00:00

PKS: Prabowo-Anies Hanya Sebatas Wacana
Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

Rizal Ramli Dukung Penghapusan PT

Rizal Ramli Dukung Penghapusan PT

, 09 JULI 2018 , 17:10:00