Hanura

Mengenal Inklusi Visme Islam Indonesia (38)

Sosiologi Dakwah Walisongo (2): Sunan Sunan Kalijaga

Tau-Litik  KAMIS, 08 MARET 2018 , 11:03:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mengenal Inklusi Visme Islam Indonesia (38)

Nasaruddin Umar/Net

SEPERTI sunan-sunan lain­nya, Sunan Kalijaga satu di antara sunan yang memil­ki kekhususan dan me­narik untuk diketahui oleh siapapun terutama para pemimpin bangsa, khusus­nya pemimpin umat be­ragama. Mungkin Sunan Kalijaga merupakan "wali" yang paling ban­yak disebut masyarakat Jawa. Nama kecilnya Raden Said, lahir sekitar tahun 1450 Masehi, putra dari Arya Wilatikta, Adipati Tuban yang masih keturunan tokoh pergerakan Majapa­hit, Ronggolawe. Sunan Kalijaga juga memiliki panggilan lain seperti Lokajaya, Syekh Mala­ya, Pangeran Tuban dan Raden Abdurrahman. Tentu saja nama-nama tersebut disesuaikan dengan status dan prestasi yang diraihnya. Ke­cerdasan Sunan Kalijaga diakui semua pihak, termasuk kearifannya mengesankan tokoh-to­koh agama Hindu dan Budha yang amat popu­lar di Kawasan Jogyakarta.

Sunan Kalijaga ditemukan dalam sejarah pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat dekat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan orang Jawa mengaitkan Sunan Kalijaga dengan ke­sukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau "jaga kali." Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab "qadli dzaqa" yang menunjuk statusnya seba­gai "penghulu suci" kesultanan, Allahu a'lam. Sunan Kalijaga namanya diabadikan oleh Uni­versitas Islam "Sunan Kalijaga" Jogyakarta ini umurnya diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang la­hir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Se­nopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung De­mak. Tiang "tatal" (pecahan kayu) yang meru­pakan salah satu dari tiang utama masjid ada­lah kreasi Sunan Kalijaga.


Toleransinya terhadap agama-agama lain dan terhadap kearifan lokal tidak perlu diragu­kan lagi. Ia dipuji bukan hanya umat Islam tetapi juga penganut agama dan tokoh budaya lokal. Ia merupakan lambang pemersatu masyarakat Jawa ketika itu. Ia berkeyakinan bahwa di da­lam menjalankan ajaran Islam tidak mesti harus mengedepankan fikih. Dengan memperkenal­kan substansi Islam maka ajaran lainnya serta-merta pasti akan dipraktekkan orang. Banyak lagi keistimewaan Sunan Kalijaga yang tidak bisa dipaparkan dalam artikel terbatas ini.

Komentar Pembaca
Apa Dan Siapa Kelompok Radikal Itu?
Islam & Local Wisdom Nusantara

Islam & Local Wisdom Nusantara

JUM'AT, 13 JULI 2018

Bersahabat Dengan Makhluk Spiritual
Bersahabat Dengan Burung

Bersahabat Dengan Burung

SELASA, 10 JULI 2018

Bersahabat Dengan Api

Bersahabat Dengan Api

SENIN, 09 JULI 2018

Bersahabat Dengan Laut

Bersahabat Dengan Laut

JUM'AT, 06 JULI 2018

PKS: Prabowo-Anies Hanya Sebatas Wacana
Wagub DKI: Anak SMAN 68 Hebat!

Wagub DKI: Anak SMAN 68 Hebat!

, 13 JULI 2018 , 15:00:00

Kampanyekan Gatot-Anies

Kampanyekan Gatot-Anies

, 08 JULI 2018 , 03:42:00

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

Asyik Bergoyang

Asyik Bergoyang

, 08 JULI 2018 , 09:41:00