Hanura

KPK Hebat, Bila Tangkap Semua Penikmat Korupsi KTP Elektronik

Topeng Yasonna, Ganjar & Olly Dipake Demonstran

Bongkar  SELASA, 19 DESEMBER 2017 , 10:47:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

KPK Hebat, Bila Tangkap Semua Penikmat Korupsi KTP Elektronik

Foto/Net

RMOL. Sejumlah massa menuntut KPK mengungkap keterliba­tan pihak lain dalam kasus korupsi proyek e-KTP. Salah satunya, politikus PDIP Yasonna Laoly yang kini menja­bat sebagai Menkumham.

Massa yang menamakan kel­ompoknya sebagai Komando Aksi Mahasiswa dan Pemuda Anti Korupsi (KOMPAK), ke­marin siang, sekitar pukul 11, berunjuk rasa di depan gedung merah-putih KPK.

Massa yang datang menggu­nakan tiga bus itu kompak mengenakan replika tiruan rompi tahanan orange KPK. Sebagian dari mereka mengenakan topeng wajah para tokoh yang diduga terlibat e-KTP.

Selain itu, massa juga mem­bawa dua spanduk besar yang berisi tuntutannya. Spanduk pertama bertuliskan "KPK: Adil, Jujur, Hebat. KPK Segera Tuntaskan Penikmat EKTP," juga dengan gambar beberapa tokoh yang diduga terlibat mega­korupsi EKTP.

Di antaranya adalah trio politisi PDIP Yasonna Laoly, Ganjar Pranowo, dan Olly Dondokambey. Sementara spanduk kedua bertuliskan "KPK Hebat Bila Tangkap Dan Adili Yasonna Laoly/Menkumham Penikmat EKTP 84 Ribu USD."

Mereka menuntut KPK un­tuk lebih berani mengungkap tersangka lain dari kasus mega­korupsi E-KTP. "KPK belum memproses dan mengumumkan tersangka baru. Padahal banyak yang belum terungkap. Usut tun­tas semuanya, tangkap, dan bui mereka juga," ujar koordinator aksi, Santoso.

"Apa KPK tidak berani usut kasus ini? KPK jangan tebang pilih dalam memberantas koru­psi. KPK harus berani," imbuh­nya lagi.

Sambil menyerukan tuntutannya, massa menginjak-injak spanduk berisi wajah-wajah para tokoh itu. Sebagian lagi menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setelah itu, massa aksi kemudian melempari spanduk tersebut dengan tomat busuk.

"Tangkap dan adili Yasonna Laoly, dan nama-nama lain yang terungkap dalam dakwaan sebe­lumnya, seperti Olly dan Ganjar Pranowo," tegas Santoso.

Untuk diketahui, nama Yasonna Laoly muncul dalam dakwaan tiga terdakwa kasus e-KTP, yakni Irman dan Sugiharto, serta Andi Narogong.

Dalam dakwaan disebutkan, Yasonna yang saat itu menjadi anggota Komisi II DPR menerima USD84 ribu atau setara dengan Rp 1,1 miliar. Uang tersebut diterima Yasonna saat dia masih menjadi anggota Komisi II DPR bersamaaan dengan pembagian untuk fraksi PDIP.

Yasonna menerima dua tahap. Pertama adalah pemberian dari Miryam S Haryani. "Pembagian uang tersebut kepada setiap ang­gota Komisi II DPRRI dengan cara dibagikan melalui Kapoksi atau yang mewakilinya, yakni diberikan kepada Yasonna Laoly atau Arief Wibowo untuk ang­gota fraksi PDI P yang diberikan langsung di ruangan kerjanya," kata Jaksa KPK saat memba­cakan tuntutan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis (22/6).

Sementara pembagian tahap kedua juga dilakukan dengan cara yang sama. Anehnya, da­lam dakwaan Setya Novanto, nama-nama dari PDIP itu hilang. Pengacara Novanto, Maqdir Ismail pun mempertanyakan hi­langnya nama Yasonna cs itu.

"Makanya saya katakana, kenapa tiba-tiba di perkara ini namanya hilang? Namanya Pak Ganjar yang menerima uang hilang. Pak Yasonna Laoly hil­ang, Olly Dondokambey hilang. Negosiasi apa yang dilakukan KPK?" kata Maqdir usai men­dampingi Novanto menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Rabu (13/12) pekan lalu.

Dia memastikan dalam proses persidangan nanti, hilangnya sejumlah nama itu akan dida­lami penasihat hukum kepada sejumlah saksi-saksi. Ini akan dituangkan dalam eksepsi yang akan dibacakan di persidangan lanjutan.

Sementara Jubir KPK Febri Diansyah menyebut, meski nama-nama itu tak dicantumkan seperti dalam dakwaan terdakwa e-KTP lainnya, bukan berarti nama-nama tersebut hilang. KPKhanya tengah fokus kepada terdakwa Novanto.

"Konstruksi hukum dakwaan secara umum sama, namun tentu KPK saat ini fokus menguraikan perbuatan terdakwa. Seluruh pihak yang diduga menerima saat ini dituangkan dalam kel­ompok-kelompok yang diurai­kan di dakwaan," katanya.

Karena ini Febri menekankan, penyidikan e-KTP tidak berhenti di Novanto. Kasus ini terus dikembangkan. Bila ditemukan bukti-bukti dugaan keterlibatan pihak lain, komisi antirasuah itu tak akan segan-segan menjerat­nya sebagai tersangka. "Ini tentu dapat terus berkembang sesuai dengan fakta yang muncul di persidangan," tandasnya. ***

Komentar Pembaca
Jokowi Berupaya Mengunci Mitra Koalisi
Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

Menteri Yang Nyaleg Harus Mundur!

, 20 JULI 2018 , 13:00:00

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

RR Terima Kiai Muda Jabodetabek

, 17 JULI 2018 , 20:39:00

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

Massa PDIP Vs Hummer Hary Tanoe

, 17 JULI 2018 , 21:28:00

Dukung Potensi Gresik Berkembang

Dukung Potensi Gresik Berkembang

, 15 JULI 2018 , 05:16:00