Ketahanan Pangan Pengaruhi Kualitas SDM Masa Depan

Nusantara  SABTU, 25 NOVEMBER 2017 , 04:50:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

Ketahanan Pangan Pengaruhi Kualitas SDM Masa Depan

Agung Hendriadi/RMOL

RMOL. Persoalan ketahanan pangan di Tanah Air berkorelasi dengan kualitas Sumber Daya Manusia.

Kepala Badan Ketahanan Pangan (BPK) Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi menjelaskan program diversifikasi pangan yang sedang dijalankan pemerintah juga bertujuan untuk memperbaiki gizi generasi muda penerus bangsa.

Menurutnya, dalam era globalisasi persaingan terjadi di seluruh bidang usaha. Kualitas SDM merupakan faktor kunci dalam memenangkan persaingan tersebut.

"Ketahanan pangan ini penting untuk menyiapkan SDM Indonesia yang sehat, berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi," jelas Agung dalam acara Pemantauan dan Evaluasi Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Provinsi Regional Tengah dan Timur di Yogyakarta, Jumat (24/11).

Agung menjelaskan BKP Kementan telah menyiapkan tiga cara untuk mengatasi persoalan ketahanan pangan. Diantaranya mentransformasi sistem pertanian agar sesuai dengan kebutuhan sekarang, memperbaiki masalah gizi masyarakat dan menjaga ketersediaan air.

Menurutnya hal tersebut tidak akan berjalan jika para perancang program dan kebijakan di daerah tidak ikut berpartisipasi. Dirinya juga berharap pemerintah daerah ikut juga memberikan bantuan ke daerah lain yang masuk dalam ketegori rentan rawan pangan.

"Kita sudah menyusun peta daerah mana saja yang masuk dalam kategori rentan rawan pangan," kata Agung.

Lebih lanjut, Agung mengatakan program pembangunan pangan dan gizi ini sesuai dengan Peraturan Presiden No. 83/2017 tentang Kebijakan Strategis Pangan dan Gizi (KSPG) mengamanatkan penyusunan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi (RAN-PG) kepada seluruh kementerian teknis dan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi (RAD-PG) oleh Provinsi dan Kabupaten/Kota.

Lima pilar RAN-PG sesuai Perpres 83/2017 pertama Perbaikan gizi masyarakat; kedua Peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam; ketiga Mutu dan keamanan pangan; keempat Perilaku hidup bersih dan sehat dan terakhir Koordinasi pembangunan pangan dan gizi.

"Kelima pilar ini harus dilaksanakan secara komprehensif agar pembangunan pangan dan gizi dapat terwujud," tegas Agung.

Berdasarkan data pola konsumsi masyarakat diketahui menunjukkan bahwa beras/nasi masih mendominasi sebagai porsi menu konsumsi masyarakat, yaitu sebesar 60 persen.

Menurut Angka tersebut sudah lebih tinggi dari nilai ideal konsumsi beras/nasi yakni sebesar 50 persen.

Untuk itu Agung mengajak agar masyarakat merubah pola pikir bahwa beras bukan satu-satunya bahan pangan sumber karbohidrat. Ia juga berharap seluruh daerah dapat mengembangkan potensi sumber pangan lokal mereka masing-masing. Khususnya peningkatan produksi bahan pangan sumber protein hewani, sayur dan buah.

"Banyak sumber pangan lokal seperti umbi-umbian, sukun, jagung, sagu dan lain-lain yang memiliki nilai gizi setara dengan beras," pungkasnya. [nes]

Komentar Pembaca
Darmin Nasution Ngeles Terus!

Darmin Nasution Ngeles Terus!

, 12 DESEMBER 2017 , 19:00:00

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

Istri Panglima Hadi Bukan Tionghoa

, 12 DESEMBER 2017 , 15:00:00

Nekat Terobos Busway

Nekat Terobos Busway

, 10 DESEMBER 2017 , 00:42:00

Membaca <i>Moeslim Choice</i>

Membaca Moeslim Choice

, 10 DESEMBER 2017 , 11:37:00

Aktivis Komtak Dukung Palestina

Aktivis Komtak Dukung Palestina

, 10 DESEMBER 2017 , 11:15:00