Verified

Berkaca Dari Kasus Dwi Hartanto, Ini Alasan Mengapa Orang Berbohong

Nusantara  JUM'AT, 13 OKTOBER 2017 , 17:42:00 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Berkaca Dari Kasus Dwi Hartanto, Ini Alasan Mengapa Orang Berbohong

Ilustrasi/Net

RMOL. Nama Dwi Hartanto kembali menjadi sorotan di media beberapa waktu terakhir. Bukan karena prestasinya, melainkan karena pengakuannya mengenai sejumlah klaim prestasinya selama ini hanyalah kebohongan semata.

Mahasiswa S3 technise Universiteit Delft, Belanda itu bahkan sempat diberikan julukan "The Next Habibie" karena klaim sederet prestasinya yang membanggakan.

Namanya mulai muncul di media massa sekitar tahun 2015 karena disebut menciptakan Satelite Launch Vehicle atau Wahana Peluncur Satelit (SLV) dengan teknologi mutakhir The Apogee Ranger V7s (TARAV7s).

Bukan hanya itu, ia juga disebut memiliki lima hak paten di bidang kedirgantaraan dan ikut terlibat dalam proyek pembuatan Eurofighter Typhoon Defence serta sederet prestasi lainnya yang mengundang decak kagum.

Kemampuannya dalam teknologi kedirgantaraan bahkan diklaimnya membawa ia terlibat dalam sejumlah proyek strategis dengan European Space Agency (ESA), National Aeronautics and Space Administration (NASA), Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) dan Airbus Defence.

Namun decak kagum tersebut berhenti ketika baru-baru ini Dwi mengklarifikasi kepada media mengenai pemberitaan yang berlebihan mengenai dirinya yang bersumber dari kehilafan dan ketidakdewasaannya dalam memberikan informasi.

Ia pun menjalani sidang kode etik di TU Delft atas informasi yang menyebar ke media soal prestasinya fiktifnya tersebut.

Klarifikasi tersebut menyebabkan banyak cibiran serta hujatan yang dilayangkan pada Dwi terutama oleh para netizen melalui sosial media.

Terlepas dari status Dwi yang adalah seorang ilmuan serta mahasiswa doktoral di sebuah kampus ternama di Belanda, perilaku berbohong sebenarnya sebuah hal yang, disadari atau tidak, kerap dilakukan banyak orang dewasa lainnya dalam kehidupan sehari-hari, apapun latar belakang dan profesinya.

Belajar dari kasus Dwi tersebut, ada baiknya kita bercermin dan melakukan introspeksi diri daripada melontarkan hujatan. Pasalnya, perilaku bohong merupakan hal yang, diakui atau tidak, lekat dengan diri kita dan kerap kali atau sesekali dilakukan, meski mungkin tidak dalam kapasitas yang besar seperti yang dilakukan oleh Dwi.

Ada banyak alasan serta latar belakang mengapa seseorang berbohong.

Dalam postingan psikoedukasi psikolog Mellissa Grace, M.Psi., menjelaskan mengenai perilaku berbohong yang dilakukan oleh orang dewasa.

"Kebohongan sesekali pernah dilakukan oleh hampir setiap orang, namun ada beberapa orang yang melakukan kebohongan secara terus menerus (compulsive lying) hampir di setiap perkataannya dan aspek hidupnya," tulis Mellissa di akun Instagramnya @mellissa_grace.

Lebih lanjut ia menjelaskan sejumlah motifasi yang menjadi latar belakang mengapa seseorang biasanya memiliki perilaku berbohong secara terus menerus.

Pertama, tulis Mellissa, bohong digunakan sebagai bentuk pelarian dari tanggungjawab.

"Perilaku berbohong dianggap lebih mudah atau lebih sedikit mendatangkan konsekuensi negatif dibandingkan perilaku jujur," tulisnya.

Kedua, bohong digunakan untuk meningkatkan citra atau "image" dari diri seseorang.

"Biasanya pelaku compulsive lying  justru memiliki konsep diri yang buruk sehingga mereka perlu terus menerus melakukan kebohongan untuk membuat image diri terlihat lebih positif di lingkungan sosial," sambung mantan penyanyi cilik ini.

Ketiga, bohong merupakan mekanisme yang otomatis terjadi karena merupakan suatu kebiasaan guna meningkatkan perasaan berharga diri sendiri.

"Seringkali subjek tahu bahwa ia berbohong, namun tidak sanggup menghentikan kebiasaanya," tulis Mellissa.

Keempat, bohong dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh pengakuan sosial atau impresi dari orang lain.

"Subjek berharap memperoleh pengakuan sosial yang lebih baik dibandingkan status sosial diri subjek yang sebenarnya," jelasnya.

"Subjek butuh diakui sebagai orang yang hebat atau pahlawan atau justru korban dari sebuah situasi," sambung Mellissa.

Kelima, kebiasaan bohong merupakan bentuk "akibat" dari pengalaman masa kecil yang traumatis.

Keenam, bohong digunakan subjek sebagai bentuk pengesahan atas keyakinannya.

"Sebagai contoh, 'Saya kuat', meski sebenarnya tidak," tulis Mellissa.

Hal itu termasuk denial atau penyangkalan terhadap diri sendiri.

Ketujuh, bohong sebagai upaya untuk memperoleh penerimaan sosial, seperti agar diterima di kalangan status sosial tertentu atau agar dianggap penting.

Lantas, bisakah mereka yang terbiasa melakukan compulsive lying sembuh?

"Jika perilaku tersebut dilakukan di usia dewasa, biasanya sangat kecil kemungkinan untuk bisa sembuh, karena sudah menjadi bagian dari karakter kepribadian," tulis Mellissa.

Namun, sambungnya, jika individu tersebut berniat untuk sembuh, kendati hal itu hampir tidak pernah terjadi, dapat dibantu dengan proses psikoterapi yang melibatkan orang-orang terdekat serta memakan waktu yang panjang. [mel]

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Panglima TNI Dipermalukan!

Panglima TNI Dipermalukan!

, 23 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Melihat Lebih Luas Konflik Semenanjung Korea
Bahas Wacana Densus Tipikor

Bahas Wacana Densus Tipikor

, 22 OKTOBER 2017 , 00:25:00

Wakil Ketua DPRD Banjamasin Diperiksa KPK

Wakil Ketua DPRD Banjamasin Diperiksa KPK

, 22 OKTOBER 2017 , 01:33:00

Rider Photo Challenge

Rider Photo Challenge

, 22 OKTOBER 2017 , 21:09:00