Verified

Dikurung, Ahok Masih Disanjung

Masuk Bursa Cawapres

Politik  JUM'AT, 13 OKTOBER 2017 , 09:27:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dikurung, Ahok Masih Disanjung

Basuki Tjahaja Purnama/Net

RMOL. Jeruji besi seperti tak mampu mengurung nama besar Ahok. Buktinya, eks gubernur Jakarta ini masih disanjung-sanjung. Namanya bahkan masuk bursa cawapres pendamping Jokowi di Pilpres 2019.

Kembali eksisnya nama Ahok ini dapat dilihat pada survei yang dilakukan Indikator Politik Indonesia, yang dilakukan medio 17-24 September 2017. Survei yang dikomandoi Burhanuddin Muhtadi ini merilis 16 nama siapa yang pantas mendampingi Jokowi, nama Ahok menjadi nomor uno.

"Ahok, meskipun masih di penjara, tetap nomor satu," kata Burhanuddin saat merilis hasil survei di kantornya, di Jakarta, kemarin.

Di survei itu, responden diberikan pertanyaan siapa yang pantas mendampingi Jokowi selaku presiden pertahana pada Pemilu 2019. Hasilnya, 16 persen dari 1.220 responden yang tersebar di seluruh Indonesia memilih Ahok.

Ahok mengungguli seluruh nama top. Adapun Gatot berada di tempat kedua dengan angka 10 persen. Burhanuddin menduga, tingginya elektabilitas Gatot sebagai cawapres Jokowi tidak terlepas dari manuvernya sebagai Panglima TNI belakangan ini. "Pak Gatot banyak manuvernya untuk naikkan awareness, supaya dikenal," analisanya.

Di peringkat ketiga, ada Walikota Bandung Ridwan Kamil dengan 8 persen. Berikutnya, Menkeu Sri Mulyani Indrawati (7 persen), Walikota Surabaya Tri Rismaharini (5 persen), Kapolri Jenderal Tito Karnavian (4 persen), eks Ketua MK Mahfud MD, dan Ketum Nasdem Surya Paloh sama-sama mengantongi 3 persen dukungan.

Ada pula Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Budi Gunawan, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, serta eks Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tanjung. Masing-masing dari mereka dipilih oleh 2 persen responden.

Ketum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar dan Ketum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan mendapat 1 persen dukungan. Apesnya, Ketum Partai Persatuan Pembangunan Romahurmuziy tidak dipilih sama sekali. "Sementara responden yang tidak tahu atau tidak menjawab masih sangat tinggi, yakni 34 persen," ucap Burhanuddin.

Menariknya, ketika pilihan dikerucutkan menjadi delapan nama, dukungan terhadap Ahok naik menjadi 17 persen. Gatot dipilih 14 persen responden, disusul oleh Ridwan Kamil (11 persen), Sri Mulyani (9 persen), Tri Rismaharini (8 persen), Tito Karnavian (6 persen), Puan Maharani (2 persen), dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan (1 persen). Angka yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab juga masih tinggi, yakni 32 persen.

Berdasarkan hasil survei ini, Burhanuddin menyimpulkan jika nama Ahok dan Gatot menjadi yang paling diunggulkan menjadi cawapres untuk Jokowi di Pilpres 2019. Ahok, masih disanjung sebagai yang terbaik mendampingi Jokowi, karena keduanya dianggap berpengalaman sebagai pemimpin DKI Jakarta medio 2012-2014.

Menurut Burhanuddin, masih banyak masyarakat yang ingin melihat duet itu terjadi di skala nasional meskipun Ahok menjadi terpidana kasus penistaan agama. Alhasil, elektabilitas Ahok sekalipun di penjara, tetap terjaga.

Untuk diketahui, survei ini menggunakan multistage random sampling dengan 1.220 responden di seluruh wilayah Indonesia. Margin of error kurang lebih 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Responden yang terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit menilai wajar jika Ahok masih memiliki posisi manis di hati masyarakat. Menurutnya, kekalahan Ahok di Pilgub DKI Jakarta beberapa waktu lalu karena kondisi politik yang abnormal. "Biar dikurung Ahok masih disanjung, karena (saya anggap) dia tidak bersalah," ujar Arbi kepada Rakyat Merdeka.

Selain itu, katanya, masyarakat masih menganggap duet Jokowi-Ahok di skup pemimpin Jakarta dianggap mumpuni memimpin ibu kota.

Namun masih harus dilihat reaksi publik jika benar non-muslim seperti Ahok menjadi cawapres. "Tidak gampang juga karena masyarakat bisa juga menghadang," pungkasnya.

Seperti diketahui, Ahok saat ini tengah menjalani masa hukuman di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok lantaran vonis hakim yang memutusnya menista agama Islam saat melakukan kunjungan kerja di Kepulauan Seribu, September 2016 lalu. Saat itu, dia berpidato menyinggung Surat Al Maidah 51 dan memancing reaksi kelompok muslim sehingga Ahok dipolisikan. Polisi pun segera melimpahkan berkas Ahok ke pengadilan.

Sementara, saat itu menjelang hajatan Pilkada Jakarta. Ahok, tampil sebagai pertahana. Dia pun menjalani masa kampanye sembari bersidang setiap minggunya.

Singkat cerita, Ahok kalah di Pilkada. Lebih dari itu, dia juga kalah di pengadilan lantaran majelis hakim memutuskan Ahok bersalah dan memenuhi unsur penistaan agama. Ahok divonis dua tahun bui.

Sekalipun di bui, Ahok tetap memiliki penggemar. Sejumlah karangan bunga untuk Ahok menyemuti Balai Kota Jakarta sebagai tanda terima kasih kepada Ahok telah memimpin Jakarta. Nantinya, Jakarta akan memiliki gubernur baru, Anies-Sandi. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
100%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Kritisi Jokowi-JK

Kritisi Jokowi-JK

, 21 OKTOBER 2017 , 05:01:00