Verified

Budaya Demokrasi Memiliki Syarat Sensitifitas Dan Silaturahim

MPR RI  RABU, 11 OKTOBER 2017 , 18:44:00 WIB

Budaya Demokrasi Memiliki Syarat Sensitifitas Dan Silaturahim
RMOL. Era kebebasan berdemokrasi di mana masyarakat diberi kebebasan menyampaikan pendapat, namun perbedaan pendapat tidak harus meninggalkan sisi silaturahmi yang menjadi ciri dan tidak melahirkan perpecahan. 
Hal itu diungkapkan dalam dialog MPR Rumah Kebangsaan dengan tema 'Budaya Demokrasi' di Komplek Parlemen, Jakarta (Rabu, 11/10).

Dialog menghadirkan Fadly Nurzal S.Ag sebagai pimpinan PPP MPR dan Drs. H. Wahidin Ismail yang merupakan anggota Lembaga Pengkajian MPR.

Menurut Fadly, sebagai anak bangsa kita harus belajar kepada senior terdahulu yang walaupun berbeda pendapat tetap mengutamakan silaturahim.

"Walau berbeda pendapat, dalam suatu forum sekalipun mereka tidak terpecah," katanya.

Berbeda pendapat tapi tetap terjaga silaturahim harus ditularkan kepada generasi berikut.

"Lembaga apapun harus memberi ruang politik kepada anak muda. Mereka harus peduli pada politik, untuk melahirkan generasi penerus berkualitas dan memiliki cita-cita," jelas Fadly.

Bagaimana cara membangun demokrasi berkualitas, sementara masyarakat berkotak-kotak dengan pilihan masing-masing, maka harus memiliki sensifititas dan silaturahim kuat.

"Bangsa ini bisa bekerja sama dan bersilaturahim dengan baik, walaupun berbeda pendapat. Sikap bangsa ini jangan hilang sehingga pada proses regenerasi, anak muda akan mentransformasi seluruh sikap dan budaya dasar ini dan akan menjadi kekayaan budaya," papar Fadly.

Sementara Wahidin Ismail mengatakan, budaya demokrasi yang dijalankan di Indonesia sudah cukup baik. Ruang yang diberikan kepada masyarakat terbuka lebar kendati yang membatasi hak tersebut yakni, apabila ada hak konstitusional dilanggar maka ada koridor hukumnya. Dan kebebasan ini memiliki aturan main bagi masyarakat, media masa dan antar lembaga.

"Selain merawat kebebasan, ada pula hal dibatasi undang-undang dan pertimbangan agama, moral dan kesantunan," katanya.

Menyinggung soal era sosial media saat ini tidak terpisahkan dari peristiwa politik. Generasi milenial terbiasa mengutarakan sesuatu lewat sosial media.

"Mereka sudah terbiasa dengan tiga layar, layar kaca, layar telepon genggam dan layar komputer," ujar Wahidin.

Dia pun mengingatkan, dengan informasi yang tidak terbendung generasi milenial jangan sampai menjadi manusia yang kehilangan karakter. Dan tetap berpegang pada adanya regulasi UU ITE.

"Pendapat dan kritik harus benar sesuai koridor dalam budaya demokrasi," demikian Wahidin. [wah]

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Kritisi Jokowi-JK

Kritisi Jokowi-JK

, 21 OKTOBER 2017 , 05:01:00