Verified

Korut Kena Batunya

Dihukum China

Dunia  SENIN, 25 SEPTEMBER 2017 , 10:44:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Korut Kena Batunya

Kim Jong Un/Net

RMOL. Tindakan provokatif Korut dengan program nuklirnya makin meresahkan Amerika Serikat dan sekutunya. Termasuk China yang menjadi sekutu Amerika. Sebab itu, Negeri Tirai Bambu ini memberikan sanksi dagang kepada Korut, yakni membatasi penjualan BBM dan pembelian tekstile. Tuh kan, Korut kena batunya.

"China akan membatasi ekspor produk minyak sulingan ke Korea Utara mulai 1 Oktober," demikian pernyataan Kementerian Perdagangan China, seperti dilansir Reuters, kemarin.

Sanksi dari China ini merupakan partisipasi Beijing dalam sanksi baru atas persetujuan bersama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengendalikan Korut. Dewan Keamanan PBB geram dengan Korut karena tidak menghiraukan imbauan pemberhentian proyek nuklir. Bahkan, Pyongyang hingga kini sudah melakukan enam kali uji coba nuklir.

Sebelum China memutuskan sanksi, awalnya Amerika berusaha menerapkan larangan minyak penuh, tetapi melunakkan sikapnya untuk mengamankan dukungan dari Rusia dan China. Kedua negara komunis ini merupakan mitra dagang utama Korut.

Dalam pernyataan di situs resminya kemarin, Kementerian Perdagangan China menegakkan kembali persyaratan resolusi terbaru, menulis bahwa negara-negara anggota PBB tidak akan mengekspor lebih dari 500.000 barel produk minyak sulingan ke Korut dalam tiga bulan terakhir 2017, dan dua juta barel setiap tahun mulai 2018. China merupakan anggota PBB.

"Otoritas pemerintah China akan mengeluarkan pemberitahuan berdasarkan situasi ekspor saat mendekati batas atas dan berdasarkan data itu menerapkan larangan ekspor produk minyak sulingan ke Korea Utara untuk tahun tersebut," katanya sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Selain urusan minyak, kementerian menambahkan, China telah mengeluarkan larangan menyeluruh untuk impor tekstil dari Korut. Ini menegaskan kembali klausul lain dalam sanksi baru yang melarang perdagangan kain maupun pakaian.

China memasok bahan baku ke Korut, tempat mereka membuatnya menjadi pakaian di pabrik-pabrik dengan tenaga kerja murah dan hasilnya sering kali diekspor kembali ke China.

Para ahli mengatakan larangan impor tekstil dapat memotong sumber utama mata uang asing bagi Pyongyang, karena tekstil merupakan salah satu ekspor utama negara tersebut, yang diperkirakan para analis IHS Markit mencapai 750 juta dolar Amerika (sekitar Rp 9,96 triliun).

Sanksi China ini diprediksi akan semakin mencederai ekonomi Korut, mengingat negara tersebut juga sedang dilanda beragam sanksi negara-negara Barat. Bagi Korut, China merupakan mitra dagang paling penting, dan sumber pendapatan utama. Demi memenuhi keperluan bahan bakar minyak, misalnya, Korut mengandalkan kiriman dari China.

Kantor berita AFP melaporkan, harga bensin di Pyongyang telah naik sekitar 20 persen, selama dua bulan terakhir. "Saya menduga harga akan naik lagi dalam waktu dekat," kata seorang petugas SPBU di Pyongyang, seperti dilansir AFP, kemarin.

Awalnya, China dan Rusia menolak usulan Amerika menghentikan ekspor minyak ke Korut, namun belakangan keduanya sepakat untuk membatasinya. Sanksi terhadap Korut diterapkan setelah Pyongyang menguji coba nuklir bulan ini.

Sementara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, seperti biasa menjadi sosok yang paling vokal mendesak agar Korut diberi sanksi berat. Pada Kamis (21/9), Trump mengumumkan sanksi-sanksi baru terhadap para individu dan perusahaan yang menjalin usaha dengan Korut.

Hal itu dilakukan demi memutus sumber-sumber pendapatan yang digunakan untuk mendanai usaha Korut mengembangkan senjata paling mematikan yang pernah dikenal oleh manusia. Sektor-sektor yang dijadikan sasaran adalah industri tekstil, perikanan, teknologi informasi dan manufaktur.

Trump juga kembali melontarkan ancaman terhadap Korut setelah Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong Ho mengingatkan bahwa serangan rudal Korut ke daratan Amerika tak terelakkan. Dalam sidang Majelis Umum PBB, Sabtu (23/9) waktu setempat, Ri mengatakan serangan ke daratan Amerika dengan roket-roketnya tak terelakkan setelah "Presiden Jahat" Trump mengejek pemimpin Korut Kim Jong-un sebagai "manusia roket".

"Baru saja mendengar Menteri Luar Negeri Korut berbicara di PBB. Jika dia menggaungkan pikiran Manusia Roket Kecil, mereka tak akan ada lebih lama lagi," ujar Trump dalam postingannya lewat akun Twitter miliknya seperti dilansir kantor berita Reuters, kemarin. Tidak jelas apakah Trump mengacu ke Ri dan Kim, atau Korut secara lebih luas dalam kicauannya itu.

Trump dan Kim belakangan makin gencar saling melontarkan hinaan dan ancaman satu sama lain. Pada Jumat (22/9) lalu, Kim mengejek Trump sebagai "manula pikun dan orang gila". Komentarnya itu dilontarkan setelah dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Trump mengancam akan menghancurkan Korut secara total jika terus mengancam Amerika ataupun sekutunya. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
50%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
50%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Tumpeng Ulang Tahun

Tumpeng Ulang Tahun

, 21 OKTOBER 2017 , 02:25:00