Rita Widyasari

Suu Kyi Jiper

Tak Akan Hadiri Sidang PBB

Dunia  KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 , 10:12:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Suu Kyi Jiper

Aung San Suu Kyi/Net

RMOL. Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi jiper alias takut menghadiri Sidang Majelis Umum PBB yang akan digelar di New York, pekan depan. Ketakutan itu tersirat dari ucapan juru bicara kantor Suu Kyi, Zaw Htay yang beralasan demi keamanan.

"Dia (Suu Kyi) berupaya mengendalikan situasi keamanan, untuk mendapatkan perdamaian internal dan stabilitas dan mencegah menyebarnya konflik komunal," ujar Htay seperti dikutip kantor berita Reuters, kemarin.

Sepertinya absennya Suu Kyi di sidang PBB kali ini tidak lain karena dugaan kasus pembantaian etnis muslim Rohingya di Myanmar. Nah, sidang nanti agendanya memang membahas terbunuh dan terusirnya ribuan manusia di Negeri Burma itu.

Suu Kyi kini menuai kritikan dari banyak pihak karena dianggap diam atas kekerasan yang terjadi terhadap muslim Rohingya di negaranya. Suu Kyi, adalah pemimpin de facto di Myanmar. Artinya, peraih nobel perdamaian itu mempunyai peran besar menghentikan kekerasan di Rakhine.

Kekerasan kembali marak di Rakhine sejak 25 Agustus lalu, ketika kelompok militan Rohingya melancarkan serangan ke puluhan pos polisi dan pangkalan militer. Militer Myanmar merespons serangan tersebut dengan melancarkan operasi militer besar-besaran, yang telah menyebabkan lebih dari 300 ribu warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Sebelumnya dalam pidato pertamanya sebagai pemimpin negara di depan Majelis Umum PBB September 2016, Suu Kyi membela upaya-upaya pemerintahannya menyelesaikan krisis Rohingya.

Dalam pidato sebagai pemimpin nasional dia sempat menyebut upaya pemerintahannya mengatasi diskriminasi terhadap kelompok minoritas muslim di Myanmar.

Namun, menurut laporan PBB, sudah ada 370 ribu orang, lebih dari sepertiga jumlah populasi penduduk Rohingya di Myanmar mengungsi di Bangladesh. Belum lagi dengan dugaan korban tewas dan desa yang dibakar di Rakhine. Alhasil, Suu Kyi dikecam. Banyak yang meminta nobel perdamaian yang disematkan kepadanya pada 1991 dicabut. Di Indonesia, petisi desakan mencabut nobel ini hingga semalam mencapai 419.533 orang.

Juru bicara Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), atau partainya Suu Kyi tegas membantah ketidakhadiran Suu Kyi karena takut. "Dia tidak pernah takut menghadapi kritik dan masalah. Mungkin dia punya masalah yang lebih mendesak untuk diselesaikan di sini," kata Aung Shin, kepada Reuters.

Tekanan internasional terus membesar terhadap Myanmar untuk mengakhiri kekerasan di negara bagian Rakhine yang bermula 25 Agustus lalu. Para pengungsi, dan kelompok-kelompok hak asasi manusia, menggambarkan meluasnya serangan di desa-desa Rohingya di Rakhine State oleh pasukan keamanan dan etnis Buddha di Rakhine, yang membakar desa-desa muslim.

Namun pihak berwenang membantah bahwa pasukan keamanan atau warga pengikut Buddha melakukan pembakaran, dan menyalahkan para pemberontak. Hampir 30.000 warga Buddha juga mengungsi menurut mereka.

Terlepas dari meningkatnya kekhawatiran mengenai krisis kemanusiaan, Myanmar menolak gencatan senjata yang dideklarasikan kelompok gerilyawan Arakan Rohingya Salvation Army untuk memungkinkan pengiriman bantuan. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
67%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
33%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Kesehatan Setnov Belum Stabil

Kesehatan Setnov Belum Stabil

, 22 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

Rizieq Pulang, Polisi Tunggu Di Bandara

, 21 SEPTEMBER 2017 , 21:00:00

HUT TNI 72

HUT TNI 72

, 22 SEPTEMBER 2017 , 05:10:00

Dukung Kemajuan Ekonomi Digital

Dukung Kemajuan Ekonomi Digital

, 22 SEPTEMBER 2017 , 00:35:00

Kunjungi Booth BCA Di Banking Expo

Kunjungi Booth BCA Di Banking Expo

, 22 SEPTEMBER 2017 , 01:23:00