Rita Widyasari

Makna Kunjungan Najib

Politik  KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 , 06:59:00 WIB | OLEH: SUDARNOTO A HAKIM

<i>Makna Kunjungan Najib</i>

Trump-Najib/Net

HARI Selasa tanggal 12 kemarin PM Najib, sesuai dengan jadwal yang direncanakan, melakukan lawatan ke Amerika atas undangan Presiden Trump. Pertemuan orang nomor satu dua negara di White House termasuk dalam rangka memperingati 60 tahun hubungan Malaysia-Amerika ini telah menuai perdebatan atau kontroversi di kalangan mass media baik elektronik maupun cetak dan juga di media sosial di Amerika dan Malaysia.

Kalangan oposisi Malaysia yang antara lain diungkapkan oleh Presiden DAP, misalnya, mengatakan bahwa kepergian Najib seharusnya tidak dilakukan dan karena itu harus dicegah. Tak kurang, Mahathir Mohammad sendiri mengatakan bahwa Najib akan ditangkap setiba di Amerika karena kasus mega korupsi IMDB. Korupsi ini sudah menjadi perhatian departemen kehakiman Amerika. Nurul Izzah, putri tokoh oposisi dan mantan Wakil PM Malaysia Anwar Ibrahim, pun menegaskan di Washington Post bahwa kunjungan Najib sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa. Dengan alasan yang hampir sama, aktivis demokrasi dan HAM juga melakukan kritik terhadap visit ini. Tak sedikit, analisis yang juga bersikap skeptikal termasuk di Amerika sendiri terhadap kunjungan Najib ini.

Tentu saja orang-orangnya Najib melakukan pembelaan terhadap kritik dan serangan yang ditujukan kepada Najib. Mereka menegaskan bahwa visitasi atas undangan Trump ini sangat penting karena memperbincangkan agenda kerjasama di berbagai bidang strategis tidak saja memberikan manfaat bagi Malaysia, akan tetapi juga bagi kepentingan Asia Tenggara. Para pengkritik nampak cenderung hanya berkeinginan untuk mendiskriditkan Najib untuk kepentingan politik. "Mereka kalap dan ketakutan" kunjungan Najib akan menjadi dukungan moral yang sangat penting bagi kemenangan Najib di Pemilu tahun depan.

Agenda Meeting

Pertemuan dua pemimpin di White House akan memperbincangkan rencana kerjasama yang lebih kuat dua negara. Diantara agenda penting itu ialah soal keamanan global terkait dengan ancaman nyata gerakan radikal dan ekstrimis, ekonomi dan perdagangan.

Di mata Trumph dan Amerika, global security sangatlah penting. Peristiwa 11 September memang traumatik yang dalam perspektif dan keyakinan Amerika dilakukan oleh kelompok ekstrim teroris muslim. Karena itu, harus terus dilakukan upaya-upaya membangun aliansi strategis berbagai negara untuk menghadapi radikalisme dan terorisme global ini.

Bagi Amerika, Malaysia adalah mitra yang baik di Asia Tenggara apalagi Trump pernah mengatakan bahwa "Najib is my favorit Prime Minister". Malaysia sendiri tentu juga sangat berkepentingan dengan isu ini apalagi banyak yang meyakini bahwa Malaysia merupakan destinasi yang baik bagi kelompok radikal teroris termasuk gerakan yang kemudian dipengaruhi oleh ISIS.

Menjaga keamanan dari pengaruh dan ancaman radikalisme terorisme paling tidak di Asia Tenggara dan Amerika akan menjadi kontribusi dan langkah yang sangat penting dan berarti bagi a global secuity. Perlu diingat bahwa sejak kekuatan ISIS mulai terasa lemah dan berantakan di Timur Tengah, para pejuang ISIS yang kembali pulang kampung di wilayah Asia Tenggara melakukan aksinya. Di Marawi Philipine Selatan sudah terjadi benturan dengan tentara ISIS. Malaysia juga menjadi tempat di mana kelompok ekstrimis tentara ISIS melakukan aksinya.

Amerika juga memandang bahwa soal Cina merupakan agenda penting yang harus diselesaikan sehingga tidak menjadi ancaman bagi kepentingan Amerika khususnya di Asia Tenggara. Amerika tidak ingin kehilangan momentum dengan membiarkan semakin besarnya pengaruh Cina di Malaysia. Dalam realitasnya, hubungan Malaysia dengan Cina memang dekat. Semenjak Presiden Xi Jinping berkuasa, Beijing berusaha keras untuk meningkatkan pengaruh ekonomi dan militernya di Asia Tenggara melalui hubungan perdagangan dan investasi sekaligus mengontrol isu Laut Cina Selatan yang memang diperebutkan. Cina berhasil nenjadi negara investor dengan angka yang besar bahkan melebihi Amerika sendiri. Di bawah leadership Xi, hubungan dua negara era Najib --melalui investasi-- ini disebut sebagai hubungan yang paling baik yang belum pernah terjadi.

Najib berhasil membawa pulang uang sebesar  $33.6 billion ketika ia mengunjungi Cina dan berhasil menanda tangani kesepakatan untuk membeli  mpat kapal patroli dari Cina. Tentu saja, hal ini dilakukan antara lain karena komposisi demografis etnis Cina di Malaysia sangat signifikan dan karena itu harus dijaga atau dirawat supaya secara sosial,  ekonomi dan politik produktif. Begitu juga dengan Korea Utara.

Karena itu, untuk kepentingan Malaysia, bersahabat secara lebih terbuka --selain dengan Cina - dengan Amerika dan juga Saudi Arabia sebagai investor adalah penting. Malaysia memandang dalam sektor perdagangan hubungan Malaysia-Amerika ke depan semakin kuat. Malaysia bisa menyediakan/mengimport karet untuk keperluan industri roda misalnya. Dengan demikian, kepentingan Malaysia bisa terpenuhi tanpa sama sekali mengganggu kepentingan negara-negara tersebut meskipun tetap saja kehawatiran Amerika terhadap pengaruh Cina  tak bisa ditutup-tutupi.

Kehawatiran terhadap bangkitnya Korea Utara juga menjadi bagian penting yang dibicarakan dalam pertemuan Najib-Trumph di White House. Uji coba nuklir dan missile yang dilakukan oleh Korea Utara telah sangat mengganggu ketentraman Amerika dan karena itu membutuhkan kawan yang bisa diajak kerjasama untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Korut. Kebetulan memang hubungan Malaysia-Korut mulai memburuk sejak presiden Kim dibunuh di airport Malaysia. Malaysia mengusir Dubes dan para pekerja Korut di Malaysia dan pihak Pyongyang juga melakukan hal yang sama. Perasaan sama-sama tidak menyukai Korut dua negara ini haruslah diwujudkan dalam program kerjasama kongkrit untuk menghalangi pengaruh Korut di wilayah Asia Tenggara.

Jadi, jika kedua negara Malaysia dan Amerika tidak serius memberikan perhatian, maka kekuatan Korut, Negara Islam dan juga Cina akan bersama-sama menjadi ancaman serius bagi dua negara dan bahkan wilayah Asia Tenggara pada umumnya.

Problem Malaysia

Problem serius Malaysia sebetulnya memang political leadership Najib yang nampak semakin terpojok dan semakin melemah kehilangan dukungan potensialnya. Ini problem UMNO dan Barisan Nasional antara lain karena beberapa hal berikut:

1. Isu mega korupsi 1MDB (badan investasi yang dipimpin Najib). Penyelidikan telah dilakukan dan kasus ini menyeret Najib setelah Wall Street Journal melaporkan adanya aliran dana sebesar US$700 juta (sekitar Rp 9,3 triliun) dari badan investasi tersebut ke rekening pribadi Najib. WSJ mengklaim laporan tersebut berdasarkan dokumen hasil penyelidikan terhadap 1MDB oleh Satgas khusus yang dibentuk pemerintah Malaysia. Amerika sendiri,  melalui departemen kehakiman juga telah menginvestigasi kasus lencucian uang yang dilakukan di Amerika. Meskipun Najib menyatakan tidak melakukan kesalahan atau korupsi, akan tetapi isu ini telah menggambarkan buruknya pemerintah Najib. Beberapa waktu belum lama ini,  Najib memecat banyak pejabat yang dalam tuduhannya terlibat dalam berbagai kasus korupsi meskipun belum terbukti kebenarannya. Di sisi lain,  Najib terselamatkan. Soal ini menimbulkan friksi internal UMNO-BN dan tentu memperlemah posisi politiknya apalagi oposisi terus digerakkan memperlemah pemerintahan Najib melalui kasus korupsi ini.

2. Soal demokrasi yang oleh banyak kalangan dinilai telah dibelenggu. Sikap otoritarian Najib sangat terasa antara lain suara vokal dibungkam dan dipenjara. Sudah banyak korban aktivis pembela demokrasi dan HAM yang dipenjarakan, antara lain Nurul izzah putri Anwar Ibrahim hanya karena melakukan kritik terhadap performance pemerintahan Najib. Lebih sembilan puluh persen mass media dikuasai oleh pemerintah. Hal atau situasi yang sama sebetulnya juga dilakukan oleh Trump. Mereka nasionalis otoritarian, sebagaimana yang sebetulnya juga dilakukan oleh Mahathir saat dia memimpin Malaysia selama 22 tahun. Demokrasi harus diperkuat dan didukung oleh kekuatan kekuatan global tanpa harus mencederai dan merusak nilai lokal. Perjuangan keadilan dan demokrasi ini yang saat ini juga dilakukan oleh Nurul Izzah. Masih dipenjarakannya Anwar Ibrahim dan pembungkaman terhadap mass media yang kritis adalah bukti nyata bahwa demokrasi di Malaysia terancam. Begitulah paling tidak kepercayaan para aktivis HAM dan demokrasi di Malaysia yang hingga saat ini bersama sama dengan kekuatan oposisi masih memperjuankannya. Wallahu 'alam. [***]

Penulis adalah pakar politik Malaysia

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Panglima TNI Dinilai Tidak Tahu Prosedur

Panglima TNI Dinilai Tidak Tahu Prosedur

, 25 SEPTEMBER 2017 , 19:00:00

Info Panglima TNI Tidak Akurat, So What?

Info Panglima TNI Tidak Akurat, So What?

, 25 SEPTEMBER 2017 , 15:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Kang Emil Di Gunung Padang

Kang Emil Di Gunung Padang

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:04:00

Kontes Domba Berhias

Kontes Domba Berhias

, 24 SEPTEMBER 2017 , 08:46:00