Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Mega: Buktinya Mana

Soal Jokowi Otoriter

Politik  MINGGU, 13 AGUSTUS 2017 , 10:36:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mega: Buktinya Mana

Megawati Soekarnoputri/Net

RMOL. Peluncuran Progam Penguatan Pendidikan Pancasila yang digelar di Istana Bogor, kemarin, dikemas "sersan" alias serius tapi santai. Bagian yang santai yakni saat Presiden Jokowi berbaur dan ikut senam pagi di tengah-tengah peserta. Ikut bercanda dan tertawa-tawa. Adapun yang serius antara lain pidato Megawati Soekarnoputri yang menyanggah tudingan Jokowi sebagai pemimpin otoriter. Mega bilang, kalau benar diktator, mana buktinya?

Sejak pukul 7 pagi, halaman Istana Bogor sudah dipenuhi ratusan orang. Mereka adalah peserta peluncuran Progam Penguatan Pendidikan Pancasila. Pesertanya lumayan banyak, total 650 peserta terdiri atas 540 mahasiwa dari perguruan tinggi negeri dan swasta plus 110 dosen. Langit cerah dengan hawa sejuk Kota Bogor bikin peserta acara semangat. Acara ini digelar oleh Unit Kerja Presiden (UKP) Pancasila yang berkerja sama dengan Kemenristekdikti Jokowi sendiri baru muncul dari dalam Istana sekitar pukul 8 pagi. Stelannya santai. Mengenakan training lengan panjang warna hijau dan sepatu kets. Sejumlah menteri mendampingi seperti Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Presiden Teten Masduki, Menkopolhukam Wiranto dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Mereka juga tampil dalam stelan olah raga wana merah atau putih. Terlihat juga Ketua UKP Pancasila Yudi Latief dan Ketua Dewan Pakar Megawati Soekarnoputri dan anggotanya yaitu Try Sutrisno, Buya Syafii Maarif dan Mahfud MD. Berbeda dengan Jokowi dan jajarannya, stelan orang-orang UKP ini resmi dengan balutan batik.

Acara yang digelar ini memang tidak seserius judulnya. Bahkan terkesan santai. Saat senam pagi misalnya, alih-alih berdiri di baris paling depan, Jokowi memilih bersenam di tengah-tengah peserta berdampingan dengan Wiranto. Tentu saja, bikin sejumlah peserta yang di depan dan di samping Jokowi gagal fokus. Mereka tampak beberapa kali menengok ke arah Jokowi. Mungkin penasaran dengan gaya senamnya. Ada tiga instruktur yang memimpin senam di atas panggung. Gerakan senam terlihat energik dan semua mengikuti dengan gembira.

Kesan santai pun terlihat saat acara di sesi terakhir yaitu ketika peserta dihibur oleh penampilan Giring, vokalis band Nidji dengan membawakan beberapa lagu nasional. Saat lagu akan selesai, Jokowi kembali meminta Giring bernyanyi. "Sekali lagi ayo nyanyi," pinta Jokowi yang sudah berdiri di samping panggung dan kembali berbaur dengan para peserta.

Nah, usai acara itu, lanjut ke acara yang serius meski nggak terlalu serius banget, ada santainya juga. Diawali dengan sambutan dari Ketua Dewan Pengarah UKP Pancasila Megawati Soekarnoputri. Dalam pidatonya, Mega berpesan Pancasila menjadi fondasi dari sistem pendidikan Indonesia. Dia kemudian bernostalgia dan bercerita bagaimana ayahnya, Bung Karno sempat memperkenalkan "Salam Pancasila". Mega kemudian memperagakan bagaimana "Salam Pancasila" itu. Dengan menunjukkan tangan kanan serupa posisi hormat. Namun, ujung jari tidak menempel di dahi, melainkan berjarak sejengkal dari dahi bagian kanan. Gerakannya pun mesti sedikit menghentak. Megawati kemudian berteriak, "Salam Pancasila". Serentak, para mahasiswa melakukan persis yang diperagakan Megawati. "Salam Pancasila", seru mereka kompak.

Di pidatonya ini pun, beberapa kali Mega memanggil Jokowi dengan sebutan "dik" atau adik. Mega kemudian meminta maaf kepada Jokowi sambil sedikit menunduk-nundukkan kepala. Reaksi ini bikin peserta tertawa. "Sorry, sorry," kata Mega, yang mengaku keceplosan terus dengan memanggil Jokowi dengan panggilan "Dik".

Mega mengaku lebih tua dari Jokowi dan sudah dari dulu memanggil Jokowi dengan sapaan tersebut. "Habis dari dulu manggilnya begitu. Sekarang suruh (memanggil dengan sebutan) Presiden lagi, aduh. Susah mulut saya," kata Mega yang disambut tawa hadirin.

Mega kemudian menepis tudingan yang mengatakan Jokowi sebagai pemimpin diktator. Dia bilang, Jokowi tak punya rekam jejak sebagai pemimpin otoriter. Yang ada justru sebaliknya, pemimpin yang memperhatikan aspirasi rakyat saat membuat kebijakan. Mega kemudian menceritakan kebijakan Jokowi saat memindahkan para pedagang kaki lima saat menjabat sebagai Walikota Solo. Cara yang digunakan Jokowi bukan menggusur, tapi dengan mengajak makan para pedagang hingga 57 kali. "Bolak balik, bolak balik. Sampai saya saja yang ngikuti bilang, Dik opo ndak bosen-bosen toh yo? Pak Jokowi bilang, yo namanya juga rembuk Bu. (Saya bilang) aduh kok sabar tenan, yo wes," kata Mega.

Namun, kebijakan Jokowi tersebut terbukti ampuh. Masyarakat akhirnya luluh hati dan bersedia agar rumahnya dibongkar dan menempati rumah baru yang disediakan oleh pemerintahan Jokowi kala itu. "Tapi terbukti betul. Digotong-gotong orangnya, rumahnya itu dibuka-buka lalu dipindahkan," lanjut Mega. "Jadi Kalau Pak Jokowi dibilang sebagai diktator, orang yang ngomong itu, hayoo sanggup membuktikan kediktatorannya Pak Jokowi atau nggak?" tantang Mega.

Dia juga menantang orang yang menuduh Jokowi sebagai pemimpin diktator untuk menemui Jokowi langsung. Jangan hanya menuduh lewat media sosial apalagi menggunakan akun palsu. "Kalau ngomong di hadapan Presiden itu baru jantan. Kalau di medsos apalagi alamat (akun) palsu aduh, itu namanya bener-bener pengecut," cetusnya.

Sementara, saat memberikan sambutan Jokowi berpesan di era modern ini Pancasila dijadikan sebagai "bintang pengarah" untuk menuju cita-cita kemerdekaan. Di era globalisasi ini perlu penguatan karakter untuk mencegah inflitrasi budaya asing yang merusak. Tapi, lanjut Jokowi, penguatan karakter bukan berarti anti segala yang berbau asing. Jokowi sendiri mengaku menyukai grup musik asal luar negeri seperti Metallica, Linkin Park, dll. "Untuk apa harus tahu? Untuk apa kita nonton? Untuk membandingkan posisi kita ada dimana, kekalahan kita ada dimana, kemenangan kita ada di mana. Jangan sampai kita tergerus oleh itu," kata Jokowi. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
100%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Ridwan Kamil Lirik Bima Arya

Ridwan Kamil Lirik Bima Arya

, 22 AGUSTUS 2017 , 13:00:00

Korban Penyiksaan Novel Baswedan Mengadu Ke DPR
Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

, 21 AGUSTUS 2017 , 22:39:00

Bantuan Pangan BNI

Bantuan Pangan BNI

, 20 AGUSTUS 2017 , 02:40:00

Lomba Dayung Kemerdekaan

Lomba Dayung Kemerdekaan

, 20 AGUSTUS 2017 , 17:25:00