Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (11)

Memahami Pluralisme Indonesia

Tau-Litik  SELASA, 08 AGUSTUS 2017 , 09:31:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (11)

Nasaruddin Umar/Net

NILAI-nilai kemajmukan In­donesia lebih tepat dise­but sebagai nilai-nilai plural ketimbang nilai-nilai hetero­gen, karena meskipun terdi­ri atas berbagai suku, etnik, bahasa, dan agama namun tetap merupakan satu kes­atuan geokultural dan ideologis sebagaimana tercer­min di dalam motto "Bhinneka Tunggal Ika", bercerai-berai tetapi tetap satu. Segenap warga bangsa Indonesia bersepakat utuk menghim­punkan diri di dalam satu wadah kesatuan yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, nilai pluralitas Indo­nesia lebih dekat kepada jiwa segenap warga bangsa Indonesia.

Pluralitas Indonesia difahami sebagai sebuah konsep kesatuan yang tersusun dari berbagai un­sur keberagaman. Keberagamannya diikat oleh sebuah kesatuan yang kokoh, melalui persa­maan sejarah sebagai penghuni gugusan bangsa yang pernah dijajah selama berabad-abad oleh bangsa lain, dalam hal ini Belanda dan Jepang. Kehadiran kolonialisme, setuju atau tidak, telah memberikan andil yang penting untuk menyatu­kan bangsa Indonesia, sebagai sesama warga bangsa yang mengalami nasib penderitaan yang sama. Di samping persamaan sejarah, pluralitas Indonesia juga diikat oleh kondisi objektif bang­sa Indonesia sebagai suatu negara bangsa yang menjunjung tinggi azas kebersamaan, baik kon­disi objektif maupun kondisi subjektif. Kesatuan kebangsaan ini juga biasa diistilahkan dengan nasionalisme Indonesia.

Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme terbuka, sebagaimana dijelaskan di dalam UUD 1945 yang di dalamnya mengatur hak-hak azasi manusia, seperti hak berserikat, hak beragama, hak berbudaya dan hak budaya itu sendiri, men­gakui hak-hak internasional dan hak-hak kemanu­siaan lainnya. Nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme tertutup dalam arti mengandalkan dan menonjolkan unsur kekuatan dalam (inner werkende gaist), lalu kekuatan dalam ini diguna­kan sebagai alat pembentur dengan unsur-un­sur lain yang berasal dari luar dirinya. Misalnya, menolak kehadiran budaya dan aliran asing yang berbeda dengan kekuatan dalam tadi. Dialektika nasionalisme Hegel dapat dijadikan contoh na­sionalisme tertutup, karena menganggap kekua­tan dari luar sebagai ancaman dan memper­lakukannya sebagai "imigran asing" yang harus dimata-matai. Akibanya ketegangan konseptual selalu mewarnai ruang publik. Rezim politik paruh pertama Orde Baru yang membentuk berbagai perangkap pengaman nasionalisme, seperti Kopkamtib, Bakin, dan semacamnya.

Karakter dan jiwa segenap warga bangsa Indonesia dibentuk oleh persamaan nilai-nilai luhur budaya bangsa, yang memiliki sejarah panjang, dan kepentingan, serta tujuan yang sama. Keutuhan jiwa seperti ini perlu dipelihara dan dipertahankan. Jiwa yang pluralis ialah jiwa yang memiliki kemampuan untuk memahami dan sekaligus memberikan toleransi terhadap nilai-nilai pluralitas yang hidup di lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai pluralitas ialah sekum­pulan kelompok nilai atau sub-kultur yang di­ikat oleh suatu kekuatan nilai lebih tinggi yang memungkinkan masing-masing kelompok dan subkultur itu menyatu di dalam suatu wadah kebersamaan. Berbeda dengan nilai-nilai heterogenitas yang biasa difahami sebagai se­kumpulan kelompok nilai atau sub-kultur yang berdiri sendiri tanpa diikat oleh satu kesatuan nilai yang lebih tinggi.

NILAI-nilai kemajmukan In­donesia lebih tepat dise­but sebagai nilai-nilai plural ketimbang nilai-nilai hetero­gen, karena meskipun terdi­ri atas berbagai suku, etnik, bahasa, dan agama namun tetap merupakan satu kes­atuan geokultural dan ideologis sebagaimana tercer­min di dalam motto "Bhinneka Tunggal Ika", bercerai-berai tetapi tetap satu. Segenap warga bangsa Indonesia bersepakat utuk menghim­punkan diri di dalam satu wadah kesatuan yang disebut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, nilai pluralitas Indo­nesia lebih dekat kepada jiwa segenap warga bangsa Indonesia.

Pluralitas Indonesia difahami sebagai sebuah konsep kesatuan yang tersusun dari berbagai un­sur keberagaman. Keberagamannya diikat oleh sebuah kesatuan yang kokoh, melalui persa­maan sejarah sebagai penghuni gugusan bangsa yang pernah dijajah selama berabad-abad oleh bangsa lain, dalam hal ini Belanda dan Jepang. Kehadiran kolonialisme, setuju atau tidak, telah memberikan andil yang penting untuk menyatu­kan bangsa Indonesia, sebagai sesama warga bangsa yang mengalami nasib penderitaan yang sama. Di samping persamaan sejarah, pluralitas Indonesia juga diikat oleh kondisi objektif bang­sa Indonesia sebagai suatu negara bangsa yang menjunjung tinggi azas kebersamaan, baik kon­disi objektif maupun kondisi subjektif. Kesatuan kebangsaan ini juga biasa diistilahkan dengan nasionalisme Indonesia.

Nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme terbuka, sebagaimana dijelaskan di dalam UUD 1945 yang di dalamnya mengatur hak-hak azasi manusia, seperti hak berserikat, hak beragama, hak berbudaya dan hak budaya itu sendiri, men­gakui hak-hak internasional dan hak-hak kemanu­siaan lainnya. Nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme tertutup dalam arti mengandalkan dan menonjolkan unsur kekuatan dalam (inner werkende gaist), lalu kekuatan dalam ini diguna­kan sebagai alat pembentur dengan unsur-un­sur lain yang berasal dari luar dirinya. Misalnya, menolak kehadiran budaya dan aliran asing yang berbeda dengan kekuatan dalam tadi. Dialektika nasionalisme Hegel dapat dijadikan contoh na­sionalisme tertutup, karena menganggap kekua­tan dari luar sebagai ancaman dan memper­lakukannya sebagai "imigran asing" yang harus dimata-matai. Akibanya ketegangan konseptual selalu mewarnai ruang publik. Rezim politik paruh pertama Orde Baru yang membentuk berbagai perangkap pengaman nasionalisme, seperti Kopkamtib, Bakin, dan semacamnya.

Karakter dan jiwa segenap warga bangsa Indonesia dibentuk oleh persamaan nilai-nilai luhur budaya bangsa, yang memiliki sejarah panjang, dan kepentingan, serta tujuan yang sama. Keutuhan jiwa seperti ini perlu dipelihara dan dipertahankan. Jiwa yang pluralis ialah jiwa yang memiliki kemampuan untuk memahami dan sekaligus memberikan toleransi terhadap nilai-nilai pluralitas yang hidup di lingkungan sekitarnya. Nilai-nilai pluralitas ialah sekum­pulan kelompok nilai atau sub-kultur yang di­ikat oleh suatu kekuatan nilai lebih tinggi yang memungkinkan masing-masing kelompok dan subkultur itu menyatu di dalam suatu wadah kebersamaan. Berbeda dengan nilai-nilai heterogenitas yang biasa difahami sebagai se­kumpulan kelompok nilai atau sub-kultur yang berdiri sendiri tanpa diikat oleh satu kesatuan nilai yang lebih tinggi.

Dinamika kehidupan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini terkadang sulit mengukur apakah yang sedang terjadi fenomena pluralisme atau heterogenitas. Tema-tema perdebatan publik, terutama di media-media sosial seringkali leb­ih menonjolkan fenomena heterogenisme, bu­kannya fenomena pluralisme, karena sejumlah perdebatan tidak disudahi dengan hal-hal yang konstruktif untuk pengayaan alternatif solusi bangsa tetapi sudah mengarah kepada hal-hal yang destruktif berupa pelemahan sendi-sendi kekuatan bangsa. 
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Agama dan Pancasila Saling Mencerahkan
Melting Pot Melahirkan Civil Society

Melting Pot Melahirkan Civil Society

SABTU, 19 AGUSTUS 2017

Negara Pancasila

Negara Pancasila

SENIN, 14 AGUSTUS 2017

Agama Negara, Negara Agama, & Negara Sekuler (2)
Pancasila & Nasionalisme Indonesia (14)

Pancasila & Nasionalisme Indonesia (14)

JUM'AT, 11 AGUSTUS 2017

Nasionalisme Terbuka

Nasionalisme Terbuka

RABU, 09 AGUSTUS 2017

Bendera RI Dilecehkan, Dubes Rusdi Diam Saja?
OTT Di PN Jaksel

OTT Di PN Jaksel

, 21 AGUSTUS 2017 , 15:00:00

Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

, 21 AGUSTUS 2017 , 22:39:00

Bantuan Pangan BNI

Bantuan Pangan BNI

, 20 AGUSTUS 2017 , 02:40:00

Lomba Dayung Kemerdekaan

Lomba Dayung Kemerdekaan

, 20 AGUSTUS 2017 , 17:25:00