Rita Widyasari

Surat Terbuka Penuh Kasih Untuk Pak Menhub Budi Karya Sumadi

Suara Publik  SELASA, 11 JULI 2017 , 01:50:00 WIB

ASSALAMMUALAIKUM Wr. Wb. Pak Menhub Budi Karya Sumadi, semoga Bapak sehat sukses selalu beserta keluarga terkasih.

Pak Menhub, mengawali surat terbuka penuh kasih ini yang adinda Ricky Tamba sengaja ketik saat di atas kapal ferry dari Pelabuhan Bakauheni ke Merak, Senin (10/7), saya haturkan banyak terima kasih karena pada musim liburan Iedul Fitri 1438 H tahun 2017 ini, perjalanan panjang mudik dan rekreasi saya rasakan membaik dibandingkan tahun-tahun kemarin, saat mondar-mandir ke beberapa tempat, baik sendirian dan atau bersama keluarga, walau tentu saja masih banyak keluhan dan kritik di sana-sini yang saya yakin terkadang pasti bikin Pak Menhub kesal dan sebal.

Nah, saya mau curhat sedikit nih ke Pak Menhub soal transportasi publik kita, Pak. Tadi saya sengaja naik bus Damri rute Unit 2, Tulang Bawang, Lampung menuju Bakauheni, Lampung Selatan hendak merasakan check langsung gembar-gembor kemajuan transportasi publik di era Pak Jokowi dan Pak JK. Biasanya saya naik travel swasta berupa mobil pribadi muatan terbatas, Pak.

Saat bus Damri ukuran kecil tiba di hadapan saya di loket Damri Way Jepara, Lampung Timur, hati terasa gembira. Ndilalahnya, pas pintu untuk naik-turun penumpang dibuka, saya kaget ternyata penumpang berdesakan banyak orang dan bawaannya, empet-empetan kalau bahasa ndesonya, Pak.

Bus Damri-nya memang baru, bagus dan nyaman karena pendingin udara AC-nya sangat dingin dan saat naik disambut musik syahdu lagu-lagu Oom Pance Pondaag almarhum, penyanyi legendaris Indonesia idola saya, serta tarifnya murah banget Rp 30.000 hanya setengah biaya travel yang biasa saya naiki.

Sumpah Pak, kaki saya pegal juga berdiri beberapa jam hingga tiba di Bakauheni, walau hati gembira menyaksikan kemajuan zaman dan ada prestasilah saat ini di bidang transportasi publik. Jauh dari zaman dulu, kalau naik Damri, sudah empet-empetan, udara pengap panas tanpa AC eh busnya suka protes ngadat di jalan alias mogok, Pak. Mungkin dulu busnya kurang dirawat, duit anggaran banyak dikorupsi ya, Pak hahaha...

Pak Menhub, boleh ya saya usul saran soal Damri dan fasilitas pelabuhan penyeberangan sebagai warganegara Indonesia yang baik dan pengguna rutin pecinta transportasi publik. Semoga menjadi atensi Pak Menhub, para pejabat BUMN terkait serta jajaran pelaksana di lapangan. Serta ditindaklanjuti demi kemajuan Indonesia tercinta.

Pertama, sebaiknya kesejahteraan awak angkutan Damri baik sopir, kenek dan loket ditingkatkan. Miris lho saat saya tahu kalau banyak sopir Damri khususnya di rute perintis daerah Lampung yang gajinya cuma Rp 1.500.000 per bulan jauh di bawah UMR Lampung dan kalau rute yang saya naikin tadi uang makan Rp 100.000 PP dengan jam tempuh perjalanan di atas 12 jam. Kalau kenek dan loket sistem persentase. Gimana kalau lebih diperhatikan lho kesejahteraan mereka, Pak. Mereka itu pejuang ekonomi kita dengan bekerja mengangkut para pekerja dari berbagai pelosok, dengan resiko tinggi membawa manusia bernyawa. Kalau mereka lebih dihargai di-wongke, haqul yakin mereka kerja keras lebih sungguh-sungguh layani rakyat, walau sering jauh dari anak istri tercinta.

Kedua, mbok ya bisa diganti aja bus kecil dengan bus besar di rute-rute berusia 2 tahun lebih bila didukung sarana prasarana infrastruktur memadai seperti Unit 2-Bakauheni tadi, Pak. Kemudian ditambah frekwensi ritase perjalanan serta sosialisasi promosi Damri-nya biar gak padat terus di bus dan makin banyak masyarakat beralih dari hobi bawa mobil-motor pribadi jadi naik transportasi publik, Pak.

Nah yang ketiga, saya usul dipikirkan dong soal pejalan kaki di Pelabuhan Bakauheni dan Merak, Pak. Kalau pas kami kebagian naik kapal ferry di Dermaga 3, 4, dan seterusnya, lumayan jauh lho jalan kakinya. Kalau gak percaya tes deh diam-diam jangan ramean, Pak. Untung saya baru usia 41, jadi masih kuat, hitung-hitung olahraga juga sih. Kasihan yang kakek nenek tua, ibu hamil, rombongan keluarga dengan bawa anak balita, atau pengguna yang suka bawa barang oleh-oleh banyak, Pak. Apalagi pas musim-musim liburan, sudah jalan jauh ke kapal eh bisa nunggu lama kapal sandar, kasihan. Mbok jangan cuma mikirin pengguna kapal yang naik mobil dan motor, Pak. Kalau mereka ya tinggal injak gas mau berkilometer dermaganya juga gak keringetan ngos-ngosan kayak kami lho. Juga dibikin ruang tunggu ruang istirahat yang nyaman di Bakauheni dan Merak buat pejalan yang lelah, bukan cuma dibiarin geletakan saja seperti sekarang. Tenanan iki, mboten ngarang ngapusi, Pak.

Itu dulu ya, Pak. Semoga surat terbuka penuh kasih ini dibaca Pak Menhub Budi Karya Sumadi, syukur-syukur sampai ke gadgetnya Pakde Presiden Jokowi yang sedang getol bangun infrastruktur dan transportasi publik. Mudah-mudahan yang dipikirin bukan cuma benda matinya saja, tapi juga makhluk hidup penggunanya. Jangan marah ojo nesu ora apik lho, Pak. Ini karena saya cinta Indonesia dan ingin rakyatnya maju sejahtera, bukan pejabat foya-foya tapi rakyat menderita.

Sekian dulu dari adinda Ricky Tamba, Pak. Ini mau dengar alunan musik dangdut ada orkes organ tunggal di kapal ferry. Selamat dinas majukan dunia perhubungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta, Pak Menhub Budi Karya Sumadi.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Salam hangat,
Ricky Tamba SE.

PS: Maaf kalau surat ini dinilai Bapak norak kampungan. Maklum saya wong ndeso.

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Solidaritas Indonesia Untuk Kuba

Solidaritas Indonesia Untuk Kuba

, 23 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

Baznas Ajak Berdonasi Sambil Belanja

Baznas Ajak Berdonasi Sambil Belanja

, 22 SEPTEMBER 2017 , 19:00:00

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

Barbuk OTT Suap Wali Kota Cilegon

, 24 SEPTEMBER 2017 , 02:20:00

Persiapan HUT TNI

Persiapan HUT TNI

, 23 SEPTEMBER 2017 , 03:40:00

Tes Urine Di Kemang

Tes Urine Di Kemang

, 23 SEPTEMBER 2017 , 04:14:00