Menkop UKM: Pertama Kalinya Harkopnas 2017 Diramu Nilai Budaya

Kemenkop dan UKM  SENIN, 10 JULI 2017 , 11:38:00 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

Menkop UKM: Pertama Kalinya Harkopnas 2017 Diramu Nilai Budaya

Ganjar Pranowo dan AAGN Puspayoga/Kemenkop UKM

Menkop UKM: Nuansa Budaya Dalam Harkopnas 2017 Semarang Sangat Tinggi

RMOL. Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga tak dapat menutupi rasa kekagumannya menyaksikan atraksi yang disuguhkan dalam gelaran acara peringatan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) ke-70 tingkat provinsi.

"Saya bangga dan apresiasi atas gelaran acara Harkopnas yang dipadukan dengan aneka atraksi budaya khas daerah Jawa Tengah. Ini luar biasa," ucap Puspayoga di Lapangan Pancasila, Simpang Lima, Kota Semarang, Jawa Tengah, kemarin.

Di acara yang dihadiri Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur Jateng,H Heru Sudjatmoko serta seluruh bupati dan walikota yang ada di wilayah Jateng, Puspayoga memuji Harkopnas tahun ini mengandung nuansa budaya sangat tinggi. Di mana dalam pawai yang melibatkan seluruh kabupaten dan kota se-Jateng tersebut, menampilkan aneka kesenian, tari-tarian, gamelan, kerajinan tangan, dan sebagainya.

Bahkan, dalam arak-arakan itu ditampilkan juga 'gunung-gunungan' yang di dalamnya berisi aneka produk khas dan hasil bumi dari koperasi dan UKM yang mewakili daerahnya masing- masing.

"Saya pikir, ini pertama kali acara Harkopnas yang diramu dengan nilai budaya yang tinggi. Karena, dalam pengembangan produk koperasi dan UKM tidak bisa lepas dari seni budaya khas daerah. Bila seni budaya dijaga tetap hidup, maka produk UKM kita akan ikut terangkat. Tema seperti ini harus terus dipertahankan," ujar Menkop.

Puspayoga berharap agar komitmen para kepala daerah, khususnya di Jateng, dalam mengembangkan koperasi dan UKM dapat terus ditingkatkan.

"Karena, saat ini kita akan lebih menonjolkan pengembangan kualitas koperasi ketimbang kuantitas. Dari 152 ribu koperasi, setengahnya tidak sehat dan akan terus dibina agar menjadi sehat. Yang tidak bisa disehatkan akan kita tutup, berdasarkan rekomendasi dari daerah. Sejak program Reformasi Total Koperasi kita gulirkan, sekitar 43 ribu kita bubarkan melalui SK Menteri Koperasi dan UKM," papar Menkop lagi.

Meski begitu, Puspayoga mengakui masih ada beberapa kendala yang menghambat pengembangan koperasi di Indonesia. Salah satunya, terkait pajak yang masih menjadi beban bagi koperasi.

"Saya akui, pajak koperasi masih terbilang tinggi. Lihat saja, SHU kena pajak, sebelum dibagi pun sudah kena pajak. Pajak ganda istilahnya. Kami sudah sampaikan mengenai hal ini sejak dua tahun lalu. Semoga bisa segera direalisasikan oleh Kementrian Keuangan sekarang ini," jelas Puspayoga.

Puspayoga pun mencontohkan di negara maju seperti Singapura, di mana koperasi di sana tidak dikenakan beban pajak. "Dan tidak ada satu negara pun yang menerapkan pajak bagi koperasi. Makanya, koperasi di sana bisa maju pesat. Lihat di Singapura, sekitar 62 persen usaha ritel mampu dikuasai koperasi," tukas Menkop.

Sementara itu, Gubernur Jateng mengaku pernah melakukan polling kecil-kecilan, yang hasilnya menunjukkan sekitar 62 persen responden menganggap koperasi sebagai lembaga keuangan yang masih diminati masyarakat. Koperasi dianggap bisa berkembang sesuai keinginan para anggotanya. Bahkan, ada harapan besar dimana koperasi bisa melindungi produk-produknya di pasaran.

"Intinya, koperasi dianggap bisa untuk melawan korporasi, namun di sisi lain juga bisa bersinergi dengan korporasi", papar Ganjar.

Dalam kesempatan itu pula, Ganjar menyebutkan, ada sekitar tujuh maklumat dari masyarakat koperasi di Jateng bagi pengembangan koperasi ke depan. Pertama, melakukan revolusi pola pikir dalam berkoperasi sesuai amanat Pancasila, UUD 1945, serta nilai-nilai gotong royong. Kedua, melakukan sosialisasi azas, nilai-nilai, dan prinsip berkoperasi melalui pendidikan formal dan non formal kepada pelaku koperasi, pemuda dan pemimpin opini. Ketiga, membudayakan pelaksanaan azas, nilai, dan prinsip dalam praktek berkoperasi. Keempat, memerlukan penyempurnaan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1, peraturan perundangan dan turunannya yang berpihak, dapat memberikan kemudahan dan perlindungan sesuai dengan kaidah pokok perkoperasian.

Kelima, merevitalisasi gerakan koperasi menuju penguatan kelembagaan. Keenam, mengembangkan usaha koperasi melalui kerjasama yang saling mensejahterakan dengan mengintegrasikan simpul-simpul produksi dari hulu sampai hilir.

"Ketujuh, mengembangkan dan mengelola koperasi secara kreatif dan inovatif serta didukung dengan teknologi informasi," kata Ganjar.

Di akhir acara, digelar pula atraksi 'Grebeg Koperasi', dimana setiap kabupaten/kota di Jateng menyajikan produk-produk khas dan hasil bumi wilayahnya yang disusun dalam bentuk gunungan. Kemudian, masyarakat berebut mengambil dari isi gunungan tersebut, sebagai puncak acara peringatan Harkopnas 2017 di Jateng.[wid]
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Rizal Ramli Puji Pernikahan Kahiyang Bobby

Rizal Ramli Puji Pernikahan Kahiyang Bobby

, 09 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Syukuri Kemenangan Telak

Syukuri Kemenangan Telak

, 06 NOVEMBER 2017 , 01:32:00

Mendorong Gerobak

Mendorong Gerobak

, 04 NOVEMBER 2017 , 22:09:00

Pukul Bedug

Pukul Bedug

, 06 NOVEMBER 2017 , 00:52:00

Dahnil: Dugaan Kasus Impor Daging Sapi Harus Diusut
Di Pernikahan Kahiyang, Jokowi Terlihat Hedonis Dan Inkonsisten
Jokowi Sulit Menang Di Pilpres 2019

Jokowi Sulit Menang Di Pilpres 2019

Catatan Tengah04 November 2017 06:30

Tanda-tanda Presiden Tumbang Sudah Terang

Tanda-tanda Presiden Tumbang Sudah Terang

Politik06 November 2017 16:23

Siapakah Pengganti Gatot Nurmantyo?

Siapakah Pengganti Gatot Nurmantyo?

Politik06 November 2017 13:50