Koperasi Instrumen Efektif Pemerataan Ekonomi

Kemenkop dan UKM  SELASA, 04 JULI 2017 , 21:14:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

RMOL. Koperasi diyakini sebagai instrumen paling efektif untuk pemerataan ekonomi baik dalam distribusi pendapatan juga kekayaan.

"Koperasi sebagai konsep keadilan ekonomi sebetulnya bisa jadi instrumen yang efektif yang selesaikan masalah kesenjangan struktural ini," kata Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (Akses) Suroto di Jakarta, Selasa (4/7).

Menurutnya, kondisi yang terjadi di Indonesia saat ini sudah ultra diametral, di mana setiap pertumbuhan yang terjadi bahkan berkontribusi negatif terhadap pemerataan.
 
"Ini jelas ada yang salah dalam strategi, bahkan secara ideologis pasti menyimpang dari dasar idiil Pancasila dan konstitusi kita," ujar Suroto.

Dia mencatat, saat ini Rasio Gini Indonesia masih bertengger di angka 0,40 dan akumulasi kekayaan dari segelintir elite kaya masih sangat besar.
 
"Jumlah penduduk kita yang hanya 0,02 persen kuasai total kue ekonomi kita hingga 25 persen dari total Produk Domestik Bruto. Sebanyak satu persen penduduk menguasai aset nasional kita hingga 52,3 persen sesuai data World Bank 2016," jelas.

Kalau pemerintah mau serius, melalui instrumen koperasi maka masyarakat bukan hanya akan mendapatkan keadilan pendapatan, tapi juga memberikan masyarakat kecil untuk mengkreasi kekayaan. Dalam istilah ekonomi disebut 'economic patron refund' karena dalam konsep koperasi ada sistem bahwa transaksi ekonomi itu akan kembali nilai tambahnya ke masyarakat secara distributif.

"Kemiskinan dan pengangguran dengan sendirinya juga akan menurun kalau kita dapat mengefektifkan koperasi," ujar Suroto.

Lebih jauh, dia mencontohkan, negara-negara Skandinavia seperti Denmark, Swiss, Swedia, Norwegia, dan Finlandia bisa menjadikan ekonominya relatif stabil dan menjadi tingkat kesejahteraan merata karena kontribusi koperasi yang besar terhadap perekonomian.

"Ekonomi harus tumbuh, tapi kemiskinan mesti turun, distribusi pendapatan harus semakin merata, daya beli masyarakat di bagian bawah musti terkatrol naik. Bukan sebaliknya seperti sekarang ini," kata Suroto.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar dalam koordinasi program jangka pendek dan efektif saat ini, pemerintah sebaiknya lakukan reforma agraria dalam bentuk kesatuan kolektif koperasi.

"Jangan hanya terkesan bagi-bagi tanah saja. Ini mesti dirombak total," paparnya.

Dalam konsep lain, pemerintah bisa mewajibkan semua perusahaan BUMN dan konglomerat swasta yang selama ini menerima banyak manfaat kebijakan untuk berkontribusi dalam bentuk penyerahan saham kepada masyarakat minimal 20 persen.

"Kalau perlu, pemerintah buat Koperasi Publik. Separuhnya dimiliki pemerintah dan separuhnya lagi oleh koperasi dan anggota koperasi. Ini terutama untuk salurkan bahan pokok yang selama ini  dinikmati monopolinya oleh konglomerat," jelas Suroto.

Selain itu, reformasi total koperasi yang sudah didengungkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM juga harus dilakukan secara lebih serius. Rehabilitasi, reorientasinya koperasi harus dijalankan dengan target yang jelas.

"Indikatornya pertumbuhan jumlah koperasi menurun, jumlah anggota naik tapi jumlah transaksi ekonomi anggota koperasi meningkat. Harus meningkat signifikan," bebernya.

Undang-undang Perkoperasian pasca dibatalkan Mahkamah Konstitusi juga harus segera didorong secepatnya.

"Buat koperasi sebagai pilihan masyarakat untuk berbisnis, jangan hanya untuk kegiatan arisan atau simpan pinjam seperti saat ini. Jadi syarat untuk dirikan koperasi jangan 20 orang tapi tiga orang saja cukup," demikian Suroto. [wah]

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%
Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

Eks Gubernur Papua: Saya Menyesal Jadi WNI!

, 09 NOVEMBER 2017 , 15:00:00

Rizal Ramli Puji Pernikahan Kahiyang Bobby

Rizal Ramli Puji Pernikahan Kahiyang Bobby

, 09 NOVEMBER 2017 , 13:00:00

Syukuri Kemenangan Telak

Syukuri Kemenangan Telak

, 06 NOVEMBER 2017 , 01:32:00

Mendorong Gerobak

Mendorong Gerobak

, 04 NOVEMBER 2017 , 22:09:00

Pukul Bedug

Pukul Bedug

, 06 NOVEMBER 2017 , 00:52:00

Dahnil: Dugaan Kasus Impor Daging Sapi Harus Diusut
Di Pernikahan Kahiyang, Jokowi Terlihat Hedonis Dan Inkonsisten
Jokowi Sulit Menang Di Pilpres 2019

Jokowi Sulit Menang Di Pilpres 2019

Catatan Tengah04 November 2017 06:30

Tanda-tanda Presiden Tumbang Sudah Terang

Tanda-tanda Presiden Tumbang Sudah Terang

Politik06 November 2017 16:23

Siapakah Pengganti Gatot Nurmantyo?

Siapakah Pengganti Gatot Nurmantyo?

Politik06 November 2017 13:50