Berita Politik

Telkom Indonesia
Ramadhan

Tim Pencari Fakta Semoga Bisa Ungkap Kasus Novel

Bongkar  SENIN, 03 JULI 2017 , 10:56:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Tim Pencari Fakta Semoga Bisa Ungkap Kasus Novel

Novel Baswedan/Net

RMOL. Komnas HAM membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Sejumlah organisasi masyarakat sipil turut bergabung da­lam TGPF. Langkah ini ditujukan untuk mendorong pengungkapan kasus tersebut.
Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution mengatakan, TGPF kasus Novel Baswedan dibentuk bersama sejumlah per­wakilan organisasi masyarakat sipil anti-korupsi.

"Tim Gabungan Pencari Fakta ini bertujuan mendorong pen­gungkapan dan penyelesaian kasus penyiraman air keras ter­hadap Novel Baswedan. Sudah 2 bulan 10 hari, tapi hingga kini tidak kunjung tuntas," ujarnya di Kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhary, Jakarta.

Dia menuturkan, tindak kekerasan yang dialami Novel Baswedan bukan kasus kriminal biasa. Untuk itu, dibutuhkan upaya penanganan dan pengungkapan yang tidak konvensional,dengan melibatkan unsur masyarakat sipil.

Sampai saat ini, TGPF sudah beranggotakan pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar, bekas pimpinan KPK Bambang Widjojanto dan Busyro Muqoddas. Selain itu, ada juga perwakilan dari organisasi masyarakat sipil, seperti Pemuda Muhammadiyah, Madrasah Anti Korupsi Muhammadiyah, ICW, Kontras, YLBHI dan LBH Jakarta.

Maneger menerangkan, TGPF akan bekerja selama tiga bulan untuk mengumpulkan fakta dan temuan lain dari hasil-hasil inves­tigasi yang dilakukan oleh organ­isasi masyarakat sipil. Setelah itu, TGPF akan mengeluarkan hasil penyelidikan berupa rekomen­dasi yang akan diserahkan kepada Presiden Joko Widodo.

"Output-nya berupa rekomendasi setelah masa kerja selama tiga bulan. Masa kerja bisa diperpan­jang jika dibutuhkan," katanya.

Komnas HAM, lanjutnya, mengimbau seluruh elemen masyarakat yang memiliki data dan fakta terkait kasus Novel untuk bergabung dan bekerjasama dengan TGPF. "Semua elemen masyarakat yang memiliki data dan fakta, dapat bergabung," imbuhnya.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjutak, mengata­kan pihaknya ikut bergabung dalam TGPF bentukan Komnas HAM karena telah memiliki sejumlah fakta terkait kasus tersebut.

Namun pihaknya tak punya wadah formal untuk mengung­kapkannya kepada publik. Sehingga membutuhkan instansi negara yang secara formal da­pat menampung fakta tersebut dan menyampaikannya kepada publik.

"Pemuda Muhammadiyah dan masyarakat sebenarnya sudah bergerak mencari fakta, tetapi tidak bsa disampaikan secara terang kepada publik. Yang bisa adalah Komnas HAM, melalui tim TGPF ini kami mengadu kepada negara," katanya.

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Abdullah Dahlan, mengatakan pembentukan TGPF merupakan upaya masyarakat sipil mendorong kasus Novel Baswedan ke arah pengungkapan yang lebih terang. Menurutnya, pengungkapan kasus Novel penting dilakukan agar tidak menjadi preseden buruk ke depannya.

Pihaknya mencatat ada be­berapa kasus serupa yang dia­lami oleh aktivis anti-korupsi. Namun tidak diselesaikan secara tuntas oleh pihak kepoli­sian. "Pengungkapan kasusini penting. Ada sejumlah teror yang tidak tuntas. Kasus penganiayaan peneliti ICW, Tama S. Langkun, juga tidak selesai. Belum ditemukan siapa pelaku dan motifnya. Inijadi pertanyaan besar di mana komitmen Polri dalam mendukung agenda pemberantasan korupsi," tandasnya. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
100%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
PAN Tidak Diundang Ke Istana

PAN Tidak Diundang Ke Istana

, 24 JULI 2017 , 23:00:00

Pemerintah Jangan Cuma Protes Konflik Al-Aqsa
Buka Bhayangkara Cup

Buka Bhayangkara Cup

, 23 JULI 2017 , 17:49:00

Resmikan Kantor Cabang

Resmikan Kantor Cabang

, 23 JULI 2017 , 21:05:00

Hari Anak Di Waduk

Hari Anak Di Waduk

, 24 JULI 2017 , 03:56:00