Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Politisi PKS Dicecar Soal Kode 'Liqo' Dan 'Juz'

Kasus Suap Program Aspirasi DPR

X-Files  JUM'AT, 09 JUNI 2017 , 10:13:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Politisi PKS Dicecar Soal Kode 'Liqo' Dan 'Juz'

Fraksi PKS, Yudi Widiana Adia/Net

RMOL. Politisi PKS M Kurniawan dicecar soal penggunaan istilah bahasa Arab "liqo" dan "juz" dalam proses penyerahan duit suap kepada Wakil Ketua Komisi V DPR dari Fraksi PKS, Yudi Widiana Adia.

Dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta kemarin, Kurniawan yang dipanggil sebagai saksi diminta menjelaskan siapa yang berinisiatif menggunakan kode "liqo" dan "juz" dalam membi­carakan transaksi suap dengan Yudi lewat pesan pendek. "Itu spontan," kata Kurniawan men­jawab pertanyaan jaksa penuntut umum (JPU) KPK.

"Sebenarnya tidak ada maksud khusus. Itu mengalir saja. Tidak ada kesepakatan apa-apa soal kalimat itu," lanjut Kurniawan, bekas staf Yudi di DPR yang kini menjadi anggota DPRD Kota Bekasi.

Kurniawan mengaku men­jadi perantara suap dari Aseng kepada Yudi terkait program aspirasi milik anggota DPR itu tahun 2015 dan tahun 2016.

Kurniawan menuturkan, pada 2014 Aseng meminta bantuannyauntuk mendapatkan program as­pirasi anggota DPR tahun 2015. Aseng bersedia memberikan "fee" 5 persen jika bisa mendapatkan proyek yang menjadi pro­gram aspirasi anggota Dewan.

Kurniawan menyanggupi permintaan itu dan akan mengupayakan program aspirasi jatah Yudi. Untuk tahun 2015, terdapat program aspirasi proyek Banggoi Kobisonta, Jembatan Wai Satu, dan Jalan Ibra-Langur. Sedangkan di tahun 2016, proyek pembangunan jalan Pasahari-Kobisonta, pele­baran jalan Kobisonta-Pasahari Maluku Tengah, dan pelebaran jalan Kobisonta Bonggoi Bula di Maluku Tengah.

Kurniawan berkelit ikut kecip­ratan duit dari membantu Aseng mendapatkan program aspirasi Yudi. "Saya jujur, siapa tahu sa­ya bisa mendapat pekerjaan dari Pak Aseng. Kalau dari Pak Yudi ya karena beliau senior saya. Saya hanya membantu sebatas saya kenal Pak Aseng beliau pekerjaannya baik, ya sudah di­carikan aspirasi, disambungkan saja," dalih Kurniawan.

Dalam perkara ini, So Kok Aseng alias Aseng, Komisaris PT Cahaya Mas Perkasa didakwamenyuap sejumlah ang­gota Dewan untuk mendapat proyek program aspirasi DPR di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Untuk mendapat proyek, Aseng telah mengucurkan duit US$ 72.727, Rp 2,8 miliar, dan Sing$ 103.780 serta Rp 2 miliar, Sing$ 103.509, Sing$121.088, Rp 2 miliar, Rp 2 miliar (da­lam bentuk rupiah dan dolar Amerika), Rp 2,5 miliar, US$ 214.300, US$ 140.000, Rp 500 juta, Rp 2 miliar (dalam mata uang dolar).

Uang itu mengalir ke anggota Komisi V yakni Damayanti Wisnu Putranti (Fraksi PDIP), Musa Zainuddin (Fraksi PKB), dan Yudi Widiana Adia (Fraksi PKs). Aseng juga menyerah­kan duit kepada bekas Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Maluku-Maluku Utara, Amran HI Mustary.

Dalam surat dakwaan, jaksa KPK membeberkan Aseng be­berapa kali menyerahkan duit untuk Yudi. Pemberian pertama Mei 2015, Aseng memberikan Rp 2 miliar melalui Kurniawan. Pemberian kedua juga dilakukan pada bulan yang sama dengan jumlah sama.

"Beberapa hari kemudian masih di bulan Mei 2015 sekitar pukul 22.00 WIB bertempat di kamar Hotel Alia Cikini, Terdakwa kembali menyerah­kan uang sisa komitmen fee sejumlah Rp 2 miliar dalam bentuk mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat untuk Yudi Widiana Adia melalui Muhammad Kurniawan di­masukkan ke dalam tas," sebut jaksa.

Pemberian ketiga dilakukan Desember 2015. Saat itu, Aseng memberikan Rp 2,5 miliar un­tuk Yudi melalui Kurniawan lagi. "Muhammad Kurniawan mengambil di kamar yang ditempati terdakwa (Aseng) di hotel Ibis Budget Cikini Jakarta Pusat, karena terdakwa pada saat itu ada keperluan di luar hotel. Sekitar pukul 12.30 WIB Muhammad Kurniawan bersama temannya Adhi Prihantanto datang ke Hotel Ibis Budget Cikini. Muhammad Kurniawan kemudian meminta kunci duplikat kamar terdakwa kepada resepsionis dan mengambil uang sejumlah Rp 2,5 miliar dalam ko­per warna merah di kamar yang ditempati terdakwa di Hotel Ibis Budget Cikini," kata jaksa.

Pemberian lainnya dilakukan Aseng pada 30 Desember 2015. Lagi-lagi lewat Kurniawan. Saat itu, Aseng memberikan Rp 3 miliar atau US$214.300 di salah satu restoran di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

"Selain itu terdakwa juga memberikan kepada Muhammad Kurniawan parfum merk Hermes serta jam tangan merek Panerai yang disimpan di dalam kotak di dalam goody bag warna putih," sebut jaksa.

Pada 17 Januari 2016, Aseng kembali memberikan uang ke Yudi melalui Kurniawan sebesar US$ 140.000. Aseng meletakan uang tersebut di atas jok mobil Innova miliknya yang terparkir di salah satu hotel di Surabaya, Jawa Timur.

"Mobil terdakwa dipinjam Muhammad Kurniawan dan Yono untuk membawa uang tersebut ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta. Muhammad Kurniawan memindahkan kotak berisi uang US$ 140 ribu ke dalam mobil Nisan X-Trail miliknya," ucap jaksa.

Kurniawan menyerahkan se­luruh uang dari Aseng kepada Yudi lewat perantara bernama Paroli alias Asep. Proses pe­nyerahan duit kepada Asep ter­ekam dalam percakapan antara Kurniawan dengan Yudi lewat pesan pendek.

"Semalam sdh liqo dengan asp ya," tulis Kurniawan. "Naam, brp juz?" balas Yudi. "sekitar 4 juz lebih campuran," jawab Kurniawan.

Kurniawan melanjutkan menulis, "itu ikhwah ambon yg se­lesaikan, masih ada minus juz yg agak susah kemarin, skrg tinggal tunggu yg mahad jambi."

Yudi membalas, "Naam.. Yg pasukn lili blm konek lg?" Kemudian dijawab oleh Kurniawan "sdh respon bebeberapa. pekan depan mau coba diper­temukan lagi sisanya."

Kilas Balik
Musa Zainuddin Suruh Stafnya Kabur, Ditakut-takuti Bakal Jadi Tersangka


Bekas Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) PKB di Komisi V DPR, Musa Zainuddin menyuruh stafnya, Mutakin untuk kabur. Mutakin yang menjadi perantara suap kepada Musa ditakut-takuti bakal menjadi tersangka jika tak melarikan diri.

Hal itu terungkap dalam per­sidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, 31 Mei 2017 lalu. Mutakin di­hadirkan sebagai saksi perkara terdakwa So Kok Seng alias Aseng, komisaris PT Cahaya Mas Perkasa.

Aseng bersama Dirut PT Windhu Tunggal Utama (WTU) Abdul Khoir menyuap sejumlah anggota Dewan untuk menda­patkan proyek jalan di Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX yang merupakan program as­pirasi DPR.

Mutakin menuturkan pernah menjenguk Musa yang dirawat di rumah sakit. "Saya disuruh untuk lari. Kata Pak Musa, 'kalaukamu nggak lari, kamu yang kena'," kata Mutakin menirukan ucapan Musa saat itu.

Ketika itu, Musa belum berstatustersangka kasus suap proyek jalan di BPJN IX Maluku-Maluku Utara. Namun sudah mendapat surat panggilan pemeriksaan dari KPK.

Khawatir bakal jadi tersangka, Mutakin pun menuruti perintah Musa. "Karena saya pikir Pak Musa punya kuasa, punya uang, punya kekuatan, saya pikir ya saya merasa takut seandainya nanti malah saya yang kena dalam kasus ini. Akhirnya saya lari," tutur Mutakin.

Menurut Mutakin, Musa menanggung biaya hidup Mutakin selama pelarian. Uang ditransfer ke rekening kerabat Mutakin yang bernama Harini. "Saya terima 10 juta awal sebelum berangkat. Terus ada yang dari Harini. Ada Rp 3 juta, kadang Rp 6 juta, kadang Rp 10 juta mak­simal Rp 15 juta. Saya terima bulan Oktober hingga Desember 2016," aku Mutakin.

Berbulan-bulan dalam pelarian, Mutakin mendapat kabar Musa ditetapkan sebagai ter­sangka. "Waktu itu saya baca di surat kabar online bahwa Pak Musa sudah ditetapkan sebagai tersangka. Saya pikir apa yang menjadi ancaman bahwa saya yang akan kena atau terdampak kasus ini, ternyata tidak ter­bukti," kata Mutakin.

Mutakin memutuskan men­gakhiri pelariannya dan kembali ke rumahnya. "Sampai di rumah, ada surat panggilan dari KPK sekitar 20 Februari (2017). Saya kemudian ke Jakarta memenuhi panggilan penyidik," jelasnya.

Peran Mutakin sebagai peran­tara suap telah terungkap dalam persidangan terdakwa Abdul Khoir. Saksi Jailani Parrandy, staf ahli anggota Komisi V DPR Yasti Soepredjo Mokoagow menuturkan, pada sekitar November 2015 pernah dihubungi Khoir yang menyebutkan ada tiga paket proyek jalan di Maluku senilai Rp 150 miliar. "Katanya kalau dari kode, itu punya PKB. Punya Pak Musa," ujarnya.

Khoir melalui stafnya, Erwantoro lalu menitipkan uang kepada Jailani agar diserahkan ke Musa. Jailani melanjutkan, Khoir mengeluarkan uang Rp 8 miliar untuk mendapatkan tiga proyek senilai Rp 150 miliar yang dikuasai Musa. "Tapi, sama Pak Musa cuma diokein Rp 100 miliar," sebutnya.

Jailani tak langsung menyer­ahkan uang ke Musa. Melainkan lewat orangnya Musa. "Dia (Musa) sampaikan, 'Ada orang saya. Ini ada nomor teleponnya kamu catat.' Dia sempat me­nyebut orangnya tapi saya tidak ingat," kata Jailani.

Jailani lalu janjian dengan orang yang disebut Musa di Jalan Duren Tiga Timur, Jakarta Selatan, dekat kompleks rumah dinas anggota DPR Kalibata. Uang pun diserahkan pada pukul 9 pagi.

Jailani hanya menyerahkan uang Rp 7 miliar. Sisanya Rp 1 miliar, dibagi dua untuk Jailani dan Rino Henoch, bos PT Papua Putera Mandiri. Masing-masing dapat Rp 500 juta.

Jaksa penuntut umum KPK lalu menunjukkan foto seorang pria. Jailani membenarkan pria itu adalah orang suruhan Musa yang menerima duit titipan dari Khoir. Pria di foto itu adalah Mutakin

Musa yang juga dihadirkan se­bagai saksi perkara Khoir mem­bantah mengenal Jailani. "Nggak kenal," jawab Musa. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Bendera RI Dilecehkan, Dubes Rusdi Diam Saja?
OTT Di PN Jaksel

OTT Di PN Jaksel

, 21 AGUSTUS 2017 , 15:00:00

Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

, 21 AGUSTUS 2017 , 22:39:00

Bantuan Pangan BNI

Bantuan Pangan BNI

, 20 AGUSTUS 2017 , 02:40:00

Lomba Dayung Kemerdekaan

Lomba Dayung Kemerdekaan

, 20 AGUSTUS 2017 , 17:25:00