Verified

Lorong Sunyi Menuju Tuhan (5)

Spiritual Contemplation: Wirid

Tau-Litik  RABU, 10 MEI 2017 , 09:50:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Spiritual Contemplation: Wirid

Nasaruddin Umar/Net

WIRIDDARI akar kata warada berarti "datang mengambil air". Seakar kata dengan ward berarti bunga mawar. Makna wirid dalam hal ini sama dengan dzikir. Bedanya, dzikir biasanya tidak ditentukan jumlah, waktu, dan tempat pelaksanaannya, sementara wirid lebih sering ditentukan jenis, jumlah, waktu, dan ketentuan pengamalan­nya. Dzikir biasanya bersifat insidental dan wirid biasanya bersifat permanen. Dasarnya dalam Al- Qur'an antara lain: Wasabbihu bukratan wa ashi­la (Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang/Q.S. al-Ahdzab/33:42). Dalam ayat lain dikatakan: Alladzina aamanu wa tathma’inna qulubahum bi dzikrillah, ala bi dzikr Allah tathmain al-qulub (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Al­lah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram/Q.S.al-Ra'd/13:28). Keko­songan jiwa dan kepenatan pikiran bisa membuat orang itu frustrasi, bahkan menjatuhkan diri ke da­lam kebinasaan. Dalam Al-Qur'an ditegaskan: La taqnathu min rahmat Allah (Jangan putus asa terh­adap rahmat Allah).

Ada suatu peristiwa penting terjadi di masjid Nabi di Madinah. Para pekerja dan pelayan toko menghadap kepada Rasulullah Saw untuk dia­jari sesuatu yang bisa membuat dirinya setara dengan tuannya, yang bukan hanya melakukan ibadah tetapi juga bersedekah dan berinfak. Se­dangkan kami para pekerja dan pelayan hanya bisa beribadah tetapi tdak punya kemampuan untuk bersedekah dan berinfaq. Rasulullah Saw mengajari mereka dengan dzikir (baca: Wirid, yaitu membaca subhanallah, al-hamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing tiga kali seu­sai shalat fardhu maka kedudukan kalian sama dengan tuan-tuan kalian di mata Allah Swt. Para pekerja dan pelayan mengamalkan wirid itu se­tiap usai shalat fardhu. Tuan-tuan para pekerja dan pelayan mengamati kebiasan baru kary­awannya, akhirnya mereka juga mengamalkan wirid itu. Kelompok pekerja dan pelayan kembali mendatangi Rasulullah Saw mengadukan kalau tuannya juga mengamalkan hal yang sama. Mer­eka meminta sesuatu yang lain agar nanti di akh­irat tidak kalah dengan tuan-tuannya. Rasulullah Saw menjawab "Sesungguhnya Allah memberi petujuk kepada siapa yang dikehendakinya".


Orang-orang yang sudah memperoleh wirid dengan sendirinya orang itu memilki kepribadian zuhud, dalam arti tidak lagi akan didikte oleh ke­pentingan dunia. Dia sudah diberi kemampuan untuk memilki dirinya sendiri tanpa tergantung kepada kekuatan makhluk. Baginya, cukup den­gan kasih-sayang Allah Swt. Warid sudah men­jadi semacam cahaya Tuhan (Nur Allah) yang memantul diri dalam batin dan pikirannya, seh­ingga kekuatan itu menjadi prisai terhadap ber­bagai kemungkaran. Kalaupun mereka tergelin­cir maka secepatnya ia akan mengendalikan diri, kembali ke jalan yang benar atau yang lebih be­nar. Warid tidak perlu dicari tetapi akan datang dengan sendirinya ketika amalan dan komitmen wirid dan zikir hamba-Nya betul-betul dijalankan secara konsisten. Berbahagialah orang yang me­melihara zikir dan wiridnya. 
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Kritisi Jokowi-JK

Kritisi Jokowi-JK

, 21 OKTOBER 2017 , 05:01:00